Ditulis oleh : HUttaqi (temanku, saudaraku dan tempat aku sering bertanya)
——————————-

Seperti sudah pernah saya ceritakan di dalam Risalah Perjalanan,
Beberapa kali saya mesti keluar masuk tempat belajar,
hanya untuk mencari guru yang cocok dan mumpuni dari sisi ruhaniyahnya.
Kadang saya mundur karena guru ruhani tersebut berbeda agama dengan saya,
Kadang saya mundur karena apa yang saya peroleh dari guru ruhani tersebut tidak sesuai dengan ajaran Qur`an dan hadits,
Kadang saya mundur, karena saya tahu, bahwa ajaran yang disampaikan masih dibawah dari apa yang sudah pernah saya peroleh dari sisi ruhaniyah.
Begitu sulitnya mencari guru ruhani yang sesuai dan cocok.
Saya jadi teringat kisah Syech Abdul Qodir Jailani.
Ada banyak versi tentang ini, dan Salah satu versi berkisah, menceritakan seperti ini,
bahwa satu malam, Abdul Qodir yang waktu itu sudah menjadi guru besar di dalam ilmu-ilmu syariat,
mendengar di atas gentengnya ada orang sedang berjalan gedebak gedebuk………………………..
Abdul Qodir nanya,”Wahai saudara, siapakah engkau dan apa yang kamu lakukan di atas gentengku ??”
“Aku sedang mencari untaku yang hilang “, jawab orang tersebut.
Abdul Qodir berpikir,”Apakah orang ini majnun ? mencari unta hilang khok di atas atap gentengku ??”, bathinnya dalam hati.
Tiba-tiba dia tersentak kaget ketika si orang di atas genteng itu menjawab apa yang ada di dalam dihatinya,”Apa engkau berpikir dapat bertemu Alloh dengan jubah kebesaranmu itu Abdul Qodir ??”
Kagetlah ia khok orang itu tahu namanya pula.
Bergegas Abdul Qodir naik ke atap ingin menemui si orang tersebut.
Herannya bertambah, si orang tidak ada, tidak ada jejak sama sekali.
Dan dari bawah tadi memang dia tidak tahu bagaimana wajahnya pula.
Tiga hari tiga malam, Abdul Qodir gelisah mengingat pertanyaan si orang tersebut.
“Apa engkau berpikir dapat bertemu Alloh dengan jubah kebesaranmu itu ???”, terngiang-ngiang pertanyaan itu di hati dan pikirannya.
Kemudian diputuskan olehnya, seluruh kebesarannya sebagai ulama syariat ditinggalkan,
murid-murid universitasnya ditinggal, dan dia berjalan dari satu kota ke kota lain untuk sekedar bertanya dimana aku bisa mendapatkan guru masalah ruhani.
Sudah cukup banyak yang menawari dirinya, tetapi mayoritas adalah guru-guru lahiriyah atau syariat yang dia dibidang itu tentu saja lebih ahli.
Dan sedikit guru ruhani yang ditemui, tetapi tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Hal itu berlangsung hampir 14 tahun, sampai satu ketika,
dengan pakaiannya yang sudah compang camping, lusuh, dan robek di sana sininya, Abdul Qodir kepayahan dan tertidur di sebuah mesjid.
Di dalam tidurnya dia mendengar sebuah suara,”Abdul Qodir, bangunlah !!, berjalanlah menempuh padang pasir, akan kau temui guru di sana.”
Mendadak sontak, dia bangun dan segera berangkat menempuh padang pasir tanpa bekal sesuatupun.
Sampai berjalan tidak mampu, dia merangkak, merangkak tidak mampu dia menggerakkan tubuhnya maju ke depan, sampai hampir pingsan, tiba-tiba didengarnya suara lagi,”Apa yang engkau cari Abdul Qodir ??”, dia bangun dan dilihatnya ada seorang kurus kering hanya memakai penutup aurat ke bawah bertelanjang dada tertunduk menutup mukanya.
“Apakah engkau yang berbicara wahai saudara ?”, tanya Abdul Qodir,
Si orang menegadah memandang Abdul Qodir dan berkata,” Apa yang engkau cari di sini Abdul Qodir”.
Meski dalam hati heran khok orang itu bisa tahu namanya, Abdul Qodir kemudian menceritakan perjalanannya dia mulai 14 tahun yang lalu sampai di padang pasir itu.
“Apa engkau pikir tanpa pertolongan Alloh engkau akan sampai ke sini ??”, tanya orang misterius itu lagi.
Singkat cerita Abdul Qodir belajar ke orang tersebut,
dan 10 tahun berselang, barulah Syech Abdul Qodir sampai pada taqwa yang sebenar-benarnya taqwa, haqotuqotih.

Begitu sulitnya mencari guru ruhani. !!!

Saya teringat proses Imam Ghozali pula dalam mencari guru ruhani.
Salah satu versi menceritakan begini,
Imam Ghozali memiliki adik yang sudah ngaji tasawuf yang bernama Ahmad, sementara Imam Ghozali adalah Lektor, guru besar ilmu-ilmu syariat di sebuah university.
Satu waktu si adik ikut menjadi makmumnya di satu sholat. Tiba-tiba si adik keluar mesjid, padahal Imam Ghozali baru membaca fatehah.
Kemudian si adik di tanya selesai sholat,
“Mengapakah engkau membuat malu aku ??, beratus-ratus orang ingin menjadi makmumku dan beribu-ribu orang ingin menjadi muridku, tetapi engkau ditengah-tengah sholat malah pergi menghindar dariku ??”tanya Imam Ghozali,
Si Adik menjawab,”Aku melihat darah kotor di dadamu”,
kagetlah Imam Ghozali mendengar jawaban itu,
karena pada saat dia membaca fatehah awal, memang pikirannya terpusat pada masalah HAID. Dia mau menulis buku tentang HAID, tapi malahan darah kotor itu terbaca oleh adiknya.
“Siapa gurumu, ijinkan aku mengikutinya”, kata Imam Ghozali pada adiknya.
Singkat cerita, diajaklah Imam Ghozali pada guru si Ahmad ini.
Seorang tua yang tidak terkenal bernama HUTTAK,
kerjanya memperbaiki sepatu yang rusak untuk kemudian di jual lagi.
Heranlah Imam Ghozali melihat itu,
tapi keinginannya masih besar untuk mendalami ilmu.
Katanya,”Guru, aku ingin belajar ilmu darimu..”,
Syeh al-huttak tidak menjawab..diam…kemudian berkata,”Bersihkan kotoran di dalam ruangan itu”,
Dengan memakai jubah kebesaran seorang Lektor, Imam Ghozali menyapu ruangan yang ditunjuk oleh Syech al-Huttak.
Satu sisi disapu bersih, ketika akan menyapu sisi lain, tiba-tiba saja tempat yang sudah disapunya menjadi kotor lagi, heran bercampur perasaan macam-macam di dalam hati Imam Ghozali.
Demikianlah, satu sisi di sapu, sisi lain kotor lagi.
Di dalam keheranan itu, Syech al- huttak berkata,”begitulah hati manusia, kotor dibersihkan kemudian dikotori lagi”.
“Aku hanya dapat mengantarkanmu untuk membersihkan hati”
Sejak saat itulah Imam Ghozali belajar ke Syech al-huttak, sampai satu waktu beliau meninggalkan kebesarannya, meninggalkan murid-muridnya untuk berkholwat di atas menara disebuah mesjid di Damaskus selama 10 tahun, barulah setelah itu, Imam Ghozali mencapai takwa yang sebenar-benarnya takwa.
Muncullah karya beliau seperti “Ihya` Ulumuddin”, “Minhajul abidin”, dll.

Begitu sulitnya mencari guru.

Setelah menemukan guru, begitu banyak dari kita yang mensia-siakan beliau, tidak mendalami dengan tekun, tidak mendengarkan dengan tekun, tidak melaksanakan ajaran-ajaran beliau dengan tekun,
semoga menjadi tanbih bagi diriku, yang sudah menemukan guru, tapi masih sering mensia-siakan ajarannya

Sumber : Hutaqqi.com