Seseorang dapat dikatakan menjadi bijak, apabila orang itu dengan segenap kernampuannya dapat memahami hakikat segala sesuatu, dan yang memiliki kekuatan untuk melaksakan suatu tindakan dengan penuh kesadaran akan seluruh implikasinya.

Seorang tua bijak, yang mengejutkan Alexander Agung dengan penampakannya yang tidak sedap dipandang mata, berkata kepada Raja :
“Jangan iri atau terkejut dengan penampakanku yang jelek, kau yang kehilangan semua nilai dan kejujuran!
Inilah tubuh dari sarung pedang, jiwanya adalah pedang: pedang yang sedang beraksi – bukan yang sedang berada di sarungnya.”
Carilah pengetahuan yang hakiki; jangan indahkan pengetahuan yang tidak hakiki.
Dan ketika engkau memiliki pengetahuan yang kau butuhkan,
berpikirlah hanya pada bagaimana mempraktekkannya.
Jangan pernah duduk untuk makan, sampai perutmu kosong;
berdirilah dan pergilah, sebelum perutmu penuh.

———–
Kisra, seorang Raja Persia kuno, berkata, “Aku tidak pernah menyesali kata-kata yang tidak pernah aku katakan; namun berulang kali di dalam darah dan dagingku aku menyesali perkataanku.”
Julius Caesar berkata, ‘Aku memiliki lebih banyak kekuatan melebihi kata-kata yang tidak aku ungkapkan daripada yang telah aku ungkapkan.”
Misteri yang disembunyikan seperti sebuah anak panah di genggaman tangan; sekali terbuka anak panah itu akan terlepas.
Oh kau, yang telah mengunggul-kan akalmu, seberapa sering, kau diperbudak oleh nafsu, akankah kau mengacak-acak ikal rambut kekasihmu – rantai kegilaanmu?
———–
Tiga orang laki-laki sedang membahas tentang bentuk penderitaan apa yang paling menyedihkan.
“Usia tua dan kelemahan, ditambah dengan kekurangan dan kemiskinan,” kata orang pertama.
“Badan sakit, ditambah dengan serangkaian kecemasan,” kata yang lain. “Sakaratul maut, ditambah dengan ketiadaan amal saleh,”
kata orang ketiga; dan tentang hal ini mereka bertiga setuju.
———–
Jangan bangkitkan amarahmu saat berpuasa:  tidak ada sesuatu yang lebih bali daripada sabar dan kelemah-lembutan.
Ketika puasa menjadi penyebab, kesulitan, lebih baik hentikan daripada tetap melakukannya.
Barangslapa berkata “mejaku” dan “rotiku” tinggalkanlah meja dan rotinya itu!
Lebih baik makan tumbuhan hijau yang tumbuh di kebunmu daripada memakan daging domba panggang milik orang lain .
Satu-satunya yang terbaik, bagi manusia yang berpandangan iernih, adalah siapa saja yang dapat membuat jwanya abadi dan terberkati.
———————–

Pada suatu waktu seorang raja merninta nasihat kepada orang yang bijak.
“Pertama,” kata orang bijak, “Aku perlu menanyakan suatu persoalan kepadamu: jawablah dengan jujur, manakah yang lebih engkau sukai – emas, atau musuhmu?”
“Emas, ” jawab raja.
“Sesuatu yang paling engkau sukai di dunia ini akan engkau tinggalkan, sebaliknya sesuatu yang paling engkau benci akan engkau bawa pada kehidupan mendatang, di akhirat.”
Raja tersebut menangis seraya berkata, “Engkau telah memberiku nasihat yang merangkum semua nasihat yang lain.”
Dalam beribu-ribu cara kau bertengkar dengan penghuni-penghuni dunia yang rendah ini,
ketamakanmu pada perak dan emas-, menjadikan perak dan emas itulah sahabatmu,
Benda-benda berharga yang engkau miliki itu; sebenarnya adalah musuhimu:
Engkau akan terdorong untuk merebutnya dari tangan mereka dengan kecurangan dan kekerasan.
Bukankah akal mendektekan,
Bukankah keputusan bijak akan menuntunmu, bahwa kau harus mencari teman dan memutuskan hubungan dari sang musuh?
Seorang bijak berkata, “Sebagaimana Peradaban dunia menjadi makmur karena adanya keadilan, begitu pula kehancurannya adalah karena kezaliman; ketika keadilan berada di mana-mana, sinarnya yang,memberikan pengayoman akan dapat dirasakan sejauh beribu-ribu mil, begitu pula kezaliman yang berada di mana-mana akan menyeret datangnya kegelapan yang dapat dirasakan sejauh beribu-ribu mil.”
Raja yang mendengar wejangan Sufi itu, bertanya “Mengapa pesan itu tidak Anda sampaikan kepadaku, pada jauh-jauh hari sebelumnya?”
“Karena pertanyaanmu itu, sebenarnya salah. Pertanyaan yang benar adalah, ‘Mengapa saya. tidak pernah melihatmu datang di dalam majelis pengajian?’- atau dengan kata lain, ‘Mengapa engkau yang tidak datang mengunjungiku,’ [karena ilmu itu didatangi, bukan mendatangi],” demikian iawab si Sufi.

Sumber : Cahaya Sufi