Abul Qosim al Junaid ibnu Muhammad al Khazzaz al Nihawandi (Junaid al Baghdadi) adalah anak dari seorang pedagang barang pecah belah dan keponakan dari Sarri as Saqathi. Ia merupakan pemimpin sebuah mazhab yang besar dan berpengaruh. Ia wafat di Baghdad pada tahun 298 H/910 M.

***

Menjaga Pikiran
Seorang laki-laki bangkit dan mulai mengemis di majelis junaid.
“Lelaki itu benar-benar sehat,” pikir junaid. “Sebenarnya ia mampu bekerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun mengapa ia mengemis, dan menghinakan dirinya sendiri?”
Malam itu, junaid bermimpi hidangan yang tertutup disuguhkan di hadapannya.
“Makanlah,” ia ditawari.
Saat. ia membuka penutup wadah hidangan itu ia melihat lelaki pengemis tadi, terbaring mati di wadah itu.
“Aku tidak makan daging manusia,” protesnya.
“Lalu, mengapa engkau berbuat demikian di masjid kemarin?.” ia ditanya.

Junaid akhirnya sadar bahwa ia bersalah karena telah. menghujat dalam hatinya, dan ia telah ditegur karena pikiran buruknva itu.
Junaid mengisahkan, “Aku terjaga dalam ketakutan. Aku pun berwudu dan mendirikan salat dua rakaat. Kemudian aku pergi mencari pengemis itu. Aku melihatnya di tepi Sungai Tigris, sedang memunguti sisa sisa sayuran yang dicuci orang orang di sana, dan ia pun memakannya.

Lelaki itu mengangkat kepalanya, melihatku mendekatinya, dan menyapaku, ‘Junaid, apakah engkau telah bertobat atas pikiran-pikiranmu mengenaiku?’
‘Ya, aku telah bertobat,’ jawabku.
‘Kalau begitu, pergilah. ‘Dialah Yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya.’ Kali ini, jagalah pikiran-pikiranmu.'”

***

Tabib yang Sebenarnya
Suatu kali junaid menderita sakit mata. la pun memanggil seorang tabib. “Jika matamu terasa berdenyut denyut, jangan biarkan matamu itu terkena air,” nasihat sang tabib. Saat sang tabib telah pergi, junaid berwudu, salat, kemudian pergi tidur. Ketika ia bangun matanya telah sembuh. ia mendengar sebuah suara berkata, “junaid mengabaikan matanya demi meraih  keridhaan Kami. Jika demi tujuan yang sama, ia memohon ampunan bagi para Penghuni neraka, niscaya permohonannya itu akanKami kabulkan.”

Di jalan, tak berapa lama kemudian, sang tabib memanggil junaid dan melihat. bahwa mata junaid telah sembuh.
“Apa yang telah engkau lakukan?” tanya sang tabib.
“Aku berwudu untuk salat,” jawab junaid.
Seketika itu pula sang tabib, yang beragama Kristen, mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Ini adalah penyembuhan Sang Pencipta, bukan makhluk,” komentar tabib tersebut.
“junaid, matakulah yang sakit, bukan matamu. kaulah tabib yang sebenarnva, bukan aku.”

***

Ingin bertemu iblis
Junaid mengisahkan, “Suatu kali, aku berhasrat untuk melihat Iblis. Aku berdiri di depan pintu masjid. Aku melihat seorang lelaki tua mendekat dari kejauhan. Saat aku memandangnya, kengerian merasuki diriku.
‘Siapakah Anda?’ tanyaku. ‘Yang engkau ingin temui,’ jawabnya.
‘Sang terkutuk,’ pekikku. ‘Apa yang membuatmu tidak mau sujud kepada Adam?’
lblis menjawab, ‘Bagainana menurutmu, junaid, apakah aku harus,menyembah selain Nya?'”

Junaid mengatakan bahwa ia merasa bingung setelah mendengar perkataan Iblis ini. Kemudian ia melanjutkan, “Sebuah suara berkata. padaku dari relung hatiku, ‘katakanlah (pada Iblis), ‘Engkau pembohong! jika engkau benar-benar harnba Allah yang sejati, engkau pasti rnenuruti perintah Nya. Engkau tidak akan pernah mengabaikan nya dan bermain main dengan penyangkalan.””

Saat Iblis mendengar kata kata ini, ia pun memekik dengan keras, “Demi Allah, junaid. Engkau telah menghancurkanku!” Kemudian ia pun lenyap.

***

Belajar Keyakinan

 

“Aku belaiar keyakinan yang tulus dari seseorang pemangkas rambut,” kenang Junaid, dan ia pun mengisahkan cerita berikut ini.
Suatu kali, saat aku ada di Makkah, seorang pemangkas rambut tengah mencukur rambut seorang lelaki terhormat. Aku berkata padanya, “Demi Allah, dapatkah engkau memangkas rambutku?”
“Ya, tentu saja,” katanya sambil bercucuran air mata; ia tidak menyelesaikan pekerjaannya terhadap lelaki terhormat itu.
“Berdirilah,” katanya. “Saat nama Allah di ucapkan, yang lain harus menunggu.”
“la pun mendudukkanku, mencium kepalaku, dan mencukur rambutku. Lalu ia memberikanku sebuah bungkusan kertas yang berisi sejumlah koin kecil.
“Belanjakanlah uang ini untuk keperluanmu,” katanya.
Aku pun berketetapan.hati untuk memberikan padanya hadiah pertama. yang kuterima. Tidak berapa lama, aku dihadiahi sekantong emas dari Bashrah. Aku membawa emas itu ke si tukang cukur.
“Apa ini?” tanyanya. Aku menjelaskan, “Aku telah berketetapan hati, bahwa hadiah pertama yang aku terima, akan aku berikan kepadamu. Aku baru saja mendapatkan ini.”

***


Saksi pakaian sendiri
Suatu malam, seorang pencuri memasuki kamar Junaid. Setelah melihat tidak ada apa-apa di dalam kamar Junaid kecuali sehelai pakaian, pencuri itu pun mengambil pakaian itu lalu pergi.
Keesokan harinya, Junaid melewati pasar dan melihat pakaiannya ada ditangan seorang pedagang yg tengah menawarkannya pada seorang lelaki.
“Sebelum membelinya, aku ingin engkau menghadirkan seorang untuk bersaksi bahwa pakaian ini memang benar-benar milikmu,” kata calon pembeli.
Junaid pun mendekat dan berkata, “Aku siap untuk bersaksi bahwa pakaian ini memang benar-benar miliknya.”
Akhirnya lelaki itu pun membeli pakaian tersebut.

***

Orang Yang Terdesak
Seorang wanita tua menemui Junaid dan berkata, “Anak lelakiku hilang. Berdoalah agar ia kembali.”
“Sabarlah,” kata Junaid padanya
Wanita tua itu menunggu dengan sabar selama beberapa hari. Lalu ia kembali menemui Junaid.
“Sabarlah,” Junaid mengulangi jawabannya.
Hal ini berulang selama beberapa kali. Akhirnya wanita tua itu datang dan berkata, “Kesabaranku telah habis. Berdoalah kepada Allah.”
“Jika engkau berkata benar,” kata Junaid, “maka anak lelakimu telah kembali. Allah berfirman, ‘Dialah yang menjawab orang terdesak, saat ia menyeru-Nya.'”
Kemudian junaid pun memanjatkan do’a. saat wanita tua itu kembali ke rumahnya anak lelakinya telah kembali

***

Kebutuhan
Seorang lelaki membawa uang lima ratus dinar memberikannya kepada Junaid.
“Apakah engkau memiliki sesuatu selain ini?” tanya Junaid padanya.
“Ya, banyak,” jawab lelaki itu. “Apakah engkau butuh lebih?”
“Ya.”
“Kalau begitu, bawalah kembali uangmu ini,” kata junaid. “Engkau lebih berhak atasnya. Aku tidak mempunyai apa-apa, dan aku tidak membutuhkan apa-apa.”

 

Sumber : Sufinews.com