Oleh : Herry Mardian
dikutip dari http:/Suluk.Blogsome.com

KUTIPAN dari sebuah diskusi via e-mail antara saya dan Ilham*… mail ’sumber persoalannya’ saya edit biar nggak terlalu panjang. Oh ya, tulisan ini bukan curhatannya Ilham. Tapi tulisan ini kami terima via e-mail, dan kami jadi mendiskusikan pernikahan dan cinta.
Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.
Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?
Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.
[Ilham]
Dari tulisan di atas yang saya baca, saya jadi punya pertanyaan, Her:
“Apakah ‘mencinta’? Mencintai cara kita mencintai, atau mencintai dirinya?”
[Herry]
Ham, apakah ada sebuah kebahagiaan yang sempurna, bulat? Seratus persen? Tidak ada. Setidaknya, tidak dalam kehidupan kita yang sekarang. Mengharapkan sebuah perkawinan yang bahagia, sempurna, total, bulat seratus persen bahagia,.. dream on. Not in this life. If you do, then you sucks. Loser. Try to get sober. Wake up. Hang on, get a grip. Whatever.
Tapi perkawinan yang –relatif– bahagia, bisa jadi ada. Walaupun jarang. Berapa lama kita bisa tampil sempurna di hadapan pasangan? Sesuai standar kesempurnaan yang dia harapkan? Nggak mungkin, karena standar kesempurnaan tiap orang pun terus berubah. Honeymoon –will– be over no matter what. But at least, we hope that the biggest portion of our marriage is happines. Itu –relatif–, bukan sempurna.
Mencintai itu ‘memberi’. Tanpa mengharapkan apapun. Seperti matahari yang memberikan sinarnya, atau pohon yang memberikan buah dan manfaatnya tanpa mengharapkan balasan apa-apa hingga dia menjadi layu dan mati. Seperti laut yang terus memberikan mutiara biarpun bilyunan ton sampah dibuang kemukanya setiap hari.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.
(Sapardi Djoko Damono)
Itu level mencintai Ilahiyah. Divine Love. Sejak manusia pertama hingga sekarang, hanya beberapa gelintir manusia yang mempu mencintai seperti itu. Bahkan seorang ibu pun mengharapkan balasan dari anak-anaknya, apakah itu berupa perhatian, bakti, kesopanan maupun tanda terima kasih. Bahkan istri-istri nabi pun cemburu, mengharapkan sesuatu yang ‘lebih’ dari suaminya untuk dirinya, dan membuat lelah dan murung Sang Rasul hingga harus turun wahyu untuk menghibur Beliau saw.
Think: if you were accidentally burnt from head to toe, you become really ugly and disgusting, can’t work anymore, paralyzed… all money’s gone for medication.. will your spouse still love you –’as you are’– ? Apakah kata-kata indah saling mencintai dan menyayangi masih bertaburan? Saya benar-benar berharap, semoga masih, demi Allah. Semoga. Jika demikian maka itu pasangan sejatimu, dan doakan semoga Allah membalasnya dengan cinta-Nya yang sejati, karena engkau telah sepenuhnya ridha pada pasanganmu. Jika demikian maka ia lebih layak untuk Dia daripada untukmu. Serahkan pada-Nya. Berikan kekasihmu untuk-Nya sebagai persembahan tertinggimu kepada-Nya.
Tapi, kalau ternyata tidak, who will love you then?
Cinta sempurna, hanya bisa diraih dan didapatkan dari sosok yang Maha Sempurna. Itulah yang dicari para pejalan ruhani sejati: menginginkan dicintai dan mencintai secara sempurna, oleh dan untuk Yang Maha Sempurna Cintanya.
Lalu untuk apa menikah? Justru itu. Kalau menikah hanya untuk mengejar cinta (psikologis), ia akan habis suatu saat. Apalagi kalo cuma mengejar ketampanan dan kecantikan, harta dan status. Then you will spent the rest of your life, sharing your bed and giving your body to someone that you know he/she ‘just doesn’t have it anymore’. Deep in your heart, you will sigh every second. Helpless. Trapped in your life, breathing in something you don’t like, in every single moment for the rest of your life. You –lose–.
Cinta memang sebuah perasaan yang dahsyat, sering membuat lupa diri, dan sangat jarang orang yang tidak ‘mabuk’ dan mampu menguasai rasionalitasnya ketika dihantam cinta. Tentu saja, karena cinta adalah proyeksi terendah dari asma ‘Ar-Rahiim’, sesuatu milik Yang Maha Agung. Proyeksi terkecilnya saja, bahkan dalam level cinta fisikal dan mental, sudah sedemikian dahsyat efeknya kepada makhluk. Hidup jadi indah, inspirasi mengalir, dan karya-karya raksasa dan monumental akan lahir dari tangan kita karena proyeksi terkecil asma Ilahiyah itu. We become drunk, and try everything we can to not get sober. Not now. No way. Apalagi ketika Allah percaya pada pengabdian kita, dan berkenan menugaskan malaikat untuk menyematkan asma ‘Ar-Rahim’-Nya, yang ‘asli’ dan bukan proyeksi, di dada jiwa kita. Kayak apa dahsyatnya.
Nah, para pejalan ruhani (sufi yang beneran, bukan ngaku sufi atau baru baca beberapa buku sufi macam saya ini) menempatkan pernikahan sebagai kerangka untuk belajar, tangga untuk meraih cinta sejati ini. That Divine Love. To love and be loved, divinely. Perfectly. Sejak awal, paradigmanya beda: baik si pria atau si wanita, sepenuhnya memahami dan mau menerima ketidaksempurnaan pasangannya. Di dalam hati akadnya justru itu: ‘pasangan saya akan ada buruknya, but yet i’m marrying him/her‘.
Ituah sebabnya, kata rasul, bumi dan langit, dan para penghuni langit berguncang, bergetar ketika ada pasangan manusia yang mengucap akad nikah, sumpah nikah mereka. Karena pada hakikatnya mereka berdua bersumpah di hadapan seluruh keagungan majelis Allah ta’ala untuk bersama-sama melangkah memasuki sebuah ‘keberserahdirian’: mereka tidak tahu akan mengalami apa di dalam sana. Proudly (or foolishly) stepping one’s foot into the realm of absolute unknown.
Sumpah ini adalah sumpah kedua terberat setelah sumpah eternal jiwa manusia di Qur’an [7]:172. Bumi dan langit tidak habis pikir dan ngeri: kok berani-beraninya ngambil SKS seberat itu, padahal nanti mereka akan dihakimi Allah ta’ala langsung. Kuliah pertama [7]:172 nya saja belum lulus. Padahal yang mengucapkan sumpah itu ketawa-ketiwi setelahnya, mendengarkan khutbah nikah orang KUA yang nyerempet-nyerempet jorok dan porno (sial, peristiwa sakral kok ngelawak jorok). Bumi sebenarnya udah mau geleng-geleng kepala, tapi teringat bahwa kalau ia geleng-geleng maka seluruh penghuni bumi kiamat dilanda gempa. Makanya semakin ada orang nikah, maka bumi semakin sabar, belajar menahan dirinya untuk tidak geleng-geleng kepala, hehe..

Kembali ke laptop.
Makanya, beragama lewat pernikahan itu lebih berat daripada selibat. Kata Rumi, “kalau engkau termasuk manusia pemberani, maka tempuhlah jalan Muhammad (yaitu menikah dan membersihkan diri lewat pasangan). Tapi kalau tidak, maka setidaknya tempuhlah jalan Isa.”
Justru tujuan pernikahan bagi mereka (para penempuh jalan spiritual sejati) masing-masing lelaki dan wanitanya adalah ‘menggunakan’ ketidaksempurnaan pasangannya itu untuk membersihkan jiwanya sendiri. Dia mengamplas hatinya lewat pasangannya, demi meraih Cinta Sempurna (C dan S nya kapital) untuk diri dan pasangan mereka, karena masing-masing diri mereka menyadari bahwa cinta mereka untuk pasangannya bukanlah cinta yang tertinggi.
Socrates paham sepenuhnya hal ini. Ia, sebagai seorang pencari kebenaran hakiki (sufi sejati juga kali?) justru mencari wanita berperangai paling buruk di Athena untuk ia nikahi. Ia ingin mengasah kebijaksanaan dan kesabarannya lewat istrinya. Kata-kata beliau yang terkenal setelah menikah: “By all means, get married! If you get a good spouse you’ll be happy. If you get a bad one, you’ll become a philosopher. You have nothing to lose.” Lucu sih. Tapi dalem.
Ini dari kitabnya Rumi, Fihi Ma Fihi diskursus #20, terjemahan monsiour Herr Mann Soetomo, tentang pernikahan sebagai jalan Muhammad:
Siang dan malam engkau senantiasa berperang, berupaya mengubah akhlak dari lawan-jenismu, untuk membersihkan ketidak-sucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Lebih baik mensucikan dirimu-sendiri melalui mereka daripada mencoba mensucikan mereka melalui dirimu-sendiri. Ubahlah dirimu-sendiri melalui mereka. Temuilah mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut-pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak-adil.
Pada hakikat dari persoalan ini lah, Muhammad S.A.W. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam.” Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, lelaki hidup tanpa perempuan dan berpaling dari dunia. Allah menunjukkan jalan yang lurus dan tersembunyi kepada Sang Nabi. Jalan apakah itu? Pernikahan, agar kita dapat menanggung ujian kehidupan bersama dengan lawan-jenis, mendengarkan tuntutan-tuntutan mereka, agar mereka memperlakukan kita dengan keras, dan dengan cara demikian memperhalus akhlak kita.
Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidak-murnianmu kepada mereka. Akhlakmu menjadi baik melalui kesabaran; sementara akhlak mereka menjadi buruk melalui pendominasian dan agresi mereka. Jika engkau telah menyadari tentang ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka itu bagaikan pakaian; di dalamnya engkau dapat membersihkan ketidak-murnianmu dan engkau sendiri menjadi bersih.
Singkirkan dari dirimu kebanggaan, iri dan dengki, sampai engkau alami kesenangan dalam perjuangan dan penderitaanmu. Melalui tuntutan-tuntutan mereka, temukanlah kegembiraan ruhaniah. Setelah itu, engkau akan tahan terhadap penderitaan semacam itu, dan engkau tidak akan berlalu dari penindasan, karena engkau melihat keuntungan yang mereka berikan.
Diriwayatkan bahwa suatu malam Nabi Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya kembali dari suatu ekspedisi. Belian menyuruh mereka memukul genderang, seraya berkata: “Kita akan berkemah di gerbang kota, dan memasukinya esok-hari.” Mereka bertanya: “Wahai Rasul Allah, mengapa kita tidak langsung saja kembali ke rumah masing-masing?” Beliau S.A.W. menjawab: “Bisa jadi engkau akan menemui istrimu di ranjang bersama lelaki lain. Engkau akan terluka, dan kegaduhan akan timbul.” Salah seorang sahabat tidak mendengar ini, dia masuk ke kota, dan mendapati istrinya bersama dengan orang lain.
Jalan dari Sang Nabi adalah seperti ini: Menanggung kesedihan itu perlu untuk membantu kita membuang egoisme, kecemburuan dan kebanggaan. Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidak-adilan, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terbatas, agar jalan ruhaniah dapat menjadi jelas.
Jalan dari Nabi Isa a.s. adalah bergulat dengan kesepian dan tidak meladeni syahwat. Jalan Muhammad S.A.W. adalah dengan menanggung penindasan dan kesakitan yang ditimbulkan oleh lelaki dan perempuan satu sama lain. Jika engkau tidak dapat menempuh jalan Muhammad, setidaknya tempuhlah jalan Isa, sehingga dengan demikian engkau tidak sepenuhnya berada di luar jalan ruhaniah. Jika engkau mempunyai ketenangan untuk menanggungkan seratus hantaman, dengan memandang buah dan panen yang lahir melalui mereka, atau jika engkau diam-diam meyakini di dalam kalbumu, “Walaupun saat ini aku tidak melihat hasil-panen dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan meraih harta-karun,” bahwa engkau akan meraih harta-karun, itu benar adanya; dan yang jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan yang pernah engkau inginkan dan harapankan.
Jadi, justru di jalan Muhammad orang yang mau menikah seharusnya sepenuhnya menyadari bahwa sifat-sifat pasangan yang ‘buruk’ itu akan menempa kita, demi menjadi bijak, bersih, matang, dan suci, untuk meraih cinta tertinggi bagi masing-masing pasangan. Ini bahagia atau tidak bahagia? Tergantung cara memandang ‘kebahagiaan’. Bahagia kelas permen atau bahagia kelas langit.
Di sisi lain, Rasul melarang menikah tanpa cinta, sekalipun itu paksaan orangtua sendiri. Cinta adalah landasannya pernikahan. Tapi para pejalan ini tahu, bahwa hanya ada dua kemungkinan arah cinta di awal pernikahan itu: cinta itu akan mati saja, atau cinta itu akan mati dan tertransformasi menjadi cinta yang lebih tinggi, dalam tiap tahapan pernikahan. Itu artinya menanggung tempaan secara teratur, selang seling senang dan martil.
Sekarang, kalau saya ditanya, memang mau menempuh pernikahan seperti itu? Berani? Sejujurnya, rasanya nggak lah. Ke’sufi’an (dalam tanda kutip) yang saya punya paling juga masih sebatas wacana. No way. Not way. Saya juga tentu mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan saya. Tapi pada saat yang sama, juga mengharapkan adanya transformasi. Agaknya kalau mau enak semuanya itu jawaban hawa nafsu saya saja.
Kalau merenungi landasan pernikahan kami lumayan membuat saya ‘berkeringat dingin’. Bukan mikirin malam pertama, tapi mikir landasan pernikahan kami. Udah benar belum ya, landasannya, niatnya, paradigmanya, harapannya? Kalo salah gimana? Apa yang terjadi nanti? Apakah langgeng, berantem, bercerai? Kaya, melarat? Nggak tau. Mutlak nggak tau.
Saya hanya berharap semoga Allah tidak pernah meninggalkan kami, dan mencukupi kebutuhan kami lahir dan batin, jasad dan jiwa. Semoga dari ketidaktahuan itu akan lahir sebuah Keberserahdirian yang mendatangkan rahmat.
Islam, aslama, berserah diri. Makanya kata Rasul, menikah adalah setengah diin, diinul-Islam, jalan keberserahdirian. Sebuah kebergantungan hati yang mutlak kepada Allah ta’ala, no matter how good we are. That sense is so hard to accomplish.
Semoga Allah menguatkan kami dalam penempaannya. Semoga Allah berkenan hadir mengunjungi kami dalam kebahagiaan-kebahagiaannya. Ya Rabb, please be gentle with me. This is my first. Actually, You are my first.

Salaam,
–HerryMardian–