Ramalan Nostradamus

31 Komentar

Sumber : Netlog.wordpress.com

Selain dari keterangan semua agama besar, di dunia ini terdapat pula sekumpulan peramal yang terkenal di dunia yang turut meramalkan kedatangan Imam Mahdi atau seorang pemimpin yang bertaraf dunia, yang akan turun untuk menjalankan pemerintahan yang sangat adil pada zaman ini, pada abad ini, kurun ini dan abad ini.

Memang meramal sesuatu ramalan adalah sesuatu yang buruk, dapat mempengaruhi akidah dan keyakinan kita.

Akan tetapi ramalan yang isinya sesuai dengan isi hadits-hadits, berita-berita dari para sahabat r.a, kasyaf para wali dan firasat para mukmin tidak salah jika disebutkan karena keterangan mereka ini sebenarnya membantu menjelaskan lagi maksud hadits-hadits, dalil-dalil, kasyaf-kasyaf dan firasat-firasat itu.

Sebagian mereka ini adalah peramal semata, sedangkan sebagian lagi adalah orang-orang besar dari agama masing-masing, yang telah mencapai taraf kasyaf pula (menurut pandangan agama mereka).

Diantara peramal yang amat terkenal pada hari ini adalah Michel de Nostredame atau Nostradamus, suatu nama yang hampir sudah tidak perlu diperkenalkan lagi, kerana sudah begitu terkenalnya. Ramalan-ramalannya sudah umum tersebar dan bukan sedikit pula yang sudah menjadi kenyataan. Diantara ramalannya yang sangat menggoncangkan dunia Barat ialah bahwa seorang pemimpin baru bertaraf dunia akan muncul, Islam akan kembali menguasai dunia pada abad baru ini, dan seterusnya memerangi Kristian–Eropa.

Ramalannya bahwa seorang pemimpin baru beragama Islam akan muncul dan seterusnya menguasai seluruh dunia adalah berdasarkan ramalan beliau seperti berikut :

In the year 1999 and seven months
from the sky will come the great King of Terror.
He will bring back to life the King of the Mongols;
Before and after, war reigns.

Pada tahun 1999, bulan tujuh
dari langit akan turun seorang Raja Agung.
Dia akan menghidupkan kembali Khalifah
sejak itu dan seterusnya, perang meletus.

Tempat muncul pemimpin tersebut adalah di sebuah negara di sebelah Timur bukan di negara Arab atau di sebelah Barat, berdasarkan ramalan berikut:

From the three water signs (seas) will be born a man
Who will celebrate Thursday as his feast day
His renown, praise, reign, and power will grow
On land and sea, bringing trouble to the East

Dari pertemuan tiga laut, akan lahir seorang lelaki
Yang merayakan hari Kamis
Namanya, kemuliaan, jajahan dan kuasanya naik
Di darat dan laut, menggoncangkan seluruh Timur.

Pemimpin tersebut akan memimpin pasukannya yang besar untuk menyerang dan menaklukan Eropa, dan dibantu oleh seluruh umat Islam.


One who the infernal gods of Hannibal
Will cause to be reborn, terror of all mankind
Never more horror nors the newspapers tell of worse in the past
Then will come to the Romans through Babel (Iraq)

Dialah dewa pembunuh manusia
Membangkitkan ketakutan kepada manusia
Tidak terbayangkan sebelumnya kengerian ini
Kemudian mendatangi Barat melalui Iraq.

Pemimpin tersebut memerangi, mengalahkan dan memasuki Eropa dengan memakai sorban biru, membawa hukum-hukum Islam untuk diamalkan seluruh penduduk Eropa, dan peristiwa besar inilah yang amat menakutkan setiap hati pemimpin Kristian dan Yahudi.

This King will enter Europe wearing a blue turban,
He is one that shall cause the infernal gods of Hannibal to live again
He will be the terror of mankind
Never more horror

Raja ini memasuki Eropa memakai sorban biru
Dia menjadi dewa pembunuh seluruh manusia
Dia menakutkan bagi seluruh manusia (si kafir)
Tiada lagi yang lebih menakutkan.

Seorang Santri Wali Songo yang amat terkenal di Pulau Jawa, Sabdopalon, turut menyebutkan bahwa Imam Mahdi akan dibaiat oleh sembilan tokoh Wali Ghausul Alam yang diketuai oleh seseorang dari Malaysia yang disebutkan sebagai Syeikh Malaya. Beliau menyebutkan bahwa, “Imam Mahdi datang dengan pakaian serba putih dibantu oleh Rijalu’llah Ghaib atau juga disebut Wali Ghosul’alam sembilan yang di antaranya adalah Syech Malaya yang turun dari tanah Arab.”


Sunan Gunung Jati turut membuat ramalan berdasarkan kasyaf dari Allah bahwa kebangkitan Islam kali kedua ini akan dipimpin oleh seorang tokoh yang memakai sorban. Dia dikatakan amat berpegang teguh pada sorban kanjeng (ekor sorban) Nabi Muhammad s.a.w. Yang dimaksudkan dengan sorban kanjeng itu adalah pemimpin umat yang terakhir, sesuai dengan kedudukan ekor serban yang terletak paling ujung. Sorban kanjeng juga dapat diartikan benar-benar mengikuti setiap sunnah yang diamalkan oleh Rasulullah s.a.w. semasa hayatnya.

Peramal dari Jawa yang disebut sebagai Pangeran Wijil, yang mengarang Kitab Rangka Jayabaya, turut membuat ramalan bahwa pemimpin yang dimaksudkan itu lahir di Makkah, memakai sorban yang berlambang bunga tujuh cabang, orangnya selalu kesandung kesampar. Dia tidak pernah diduga akan menjadi pemimpin umat manusia pada suatu hari nanti. Dikatakan lebih lanjut bahwa sebelum raja baru ini muncul akan terjadi huru-hara dan kerusuhan. Dan raja itulah yang akan menjadi penengah di antara pihak yang bertikai itu.

Tanpa diduga, seluruh umat manusia setuju melantiknya sebagai pemimpin mereka karena jasanya yang sangat besar dan menakjubkan.

ANTARA ROSULULLAH DAN KAJIAN RAMALAN NOSTRADAMUS

40 Komentar

Petikan dari artikel Arjuna Armada

Namrud telah memerintahkan supaya dibunuh anak-anak lelaki yang baru lahir. Namrud begitu yakin dengan nasihat para kahin (ahli nujum) yang mentafsirkan mimpinya, bahwa kerajaannya akan jatuh oleh seorang bayi lelaki yang bakal lahir. Oleh karena tidak tahu siapa di antara bayi -bayi yang lahir itu yang akan menjatuhkan kerajaannya, maka Namrud memerintahkan membunuh semua, asal bayi itu lelaki.

Karena itu Nabi Ibrahim a.s diselamatkan oleh ibunya, baginda dilahirkan dan dibesarkan di dalam sebuah gua. Begitu juga yang terjadi kepada Nabi Musa a.s, ahli-ahli nujum Firaun pula meramalkan kejatuhan kerajaan Firaun adalah di tangan bayi lelaki yang bakal lahir. Kalau Nabi Ibrahim diasuh di dalam gua, Nabi Musa diasuh di dalam istana Firaun. Malah sebelum itu pernah dimasukkan ke dalam tempat kue dan dihanyutkan ke sungai, terapung-apung hingga tiba di istana Firaun.

Dari sana kemudian diambil oleh Firaun sebagai anak angkat, sementara ibunya dipanggil untuk menyusui anak angkat Firaun. Begitulah kisah dua orang Rasul yang bertaraf Ulul Azmi, lebih lagi bagi Rasul yang menjadi penghulu segala Nabi dan Rasul, Rasulullah SAW. Sebelum baginda dilahirkan, kisah kelahiran baginda telah diceritakan lebih awal di dalam Kitab Taurat dan Injil. Di sana dikenali dengan nama Ahmad, bukan Muhammad sebagaimana setelah dilahirkan. Kelahiran agung itu telah dihafal dan dijiwai oleh pendeta Nasrani dan rahib Yahudi, hingga mereka mengenali sifat Rasulullah SAW itu lebih daripada anak mereka sendiri. Malah ada yang ternanti-nanti kelahiran tersebut dan mengharap Nabi tersebut adalah dari kalangan mereka.

Ketika telah terjadi kelahiran Rasulullah SAW, mereka segera mengenalinya melalui tanda-tanda yang telah tersebut di dalam Kitab Taurat dan Injil.

Ketika tiba seruan Islam dari Rasulullah SAW, merekalah yang menjadi penentang karena iri dan dengki, bukan kerana tidak tahu kebenaran. Hingga kini, Yahudi dan Nasrani tidak berhenti-berhenti memusuhi Islam. Mereka terus menerus mengkaji rahasia-rahasia kekuatan umat Islam dengan tujuan melumpuhkan ajaran Islam.

Mereka berusaha agar umat Islam lupa rahasia keagungan Islam yang telah dibina oleh Rasulullah SAW. Mereka lupakan umat Islam dari iman dan taqwa. Mereka menanamkan sikap cinta dunia yang membawa umat Islam menjadi lemah. Firman Allah: “Sekali-kali tidak akan ridhlo orang-orang Yahudi dan Nasrani hingga engkau masuk menjadi golongan mereka.” (Al Baqarah: 120) Ketika Spanyol hendak ditakluki kembali oleh Orang Kristen dari tangan umat Islam, berbagai strategi diatur dengan begitu rapi.

Pemimpin mereka berpesan, “Jika kamu melihat mata umat Islam cerah (tidak kuyu atau merah kerana kurang tidur-beribadah malam), waktu itu seranglah mereka. Sedangkan jika kamu lihat mereka sembahyang malam, kamu tidak akan dapat mengalahkan mereka.” Kini abad baru telah tiba.

Bagi umat Islam di akhir zaman khususnya di abad ke 21 Masehi ini, sebenarnya ada janji Allah untuk kebangkitan kembali Islam yang kedua. Masalah ini bagi sebagian umat Islam dipandang remeh, kurang yakin bahkan ada yang menolak dan menentang. Termasuk di kalangan alim ulama yang terpengaruh dengan orentalis Barat.

Keyakinan umat Islam terhadap hadits akhir zaman dimentahkan dengan memberitakannya sebagai hadits dhaif atau palsu. Akhirnya umat Islam terus dibelenggu oleh kepompong ciptaan Yahudi dan Nasrani. Sedangkan di pihak mereka, Yahudi dan Nasrani, telah bersiap-siap lebih awal dan bersiaga dengan kebangkitan yang dijanjikan itu.

Ini dapat kita lihat, seorang peramal berbangsa Yahudi yang terkenal telah meramalkan kebangkitan Islam di tahun 2000 bermula dari sebelah Timur. Bagi saya, ini bukan semata-mata ramalan, tetapi adalah tafsiran atau hasil analisis hadits oleh pakar-pakar Yahudi. Mereka amat peka terhadap hadits-hadits yang menyebut secara khusus kebangkitan Islam. Kebangkitan Islam berarti kejatuhan dan kekalahan mereka. Segala kepalsuan dan kebathilan mereka akan terbongkar, dan segala kezaliman akan bertukar keadilan.

Memang secara jelas disebut di dalam hadis tidak boleh mempercayai ramalan nujum. Tetapi apabila telah ada hadits yang mendahului ramalan itu, bukanlah nujum. Seringkali itu dikatakan sebagai ramalan hanya untuk mengelabui umat Islam. Mereka katakan itu ramalan mereka, sedangkan sebenarnya itu adalah tafsir atau hasil kajian dari hadits yang mereka sembunyikan dari umat Islam selama ini.

Umat Islam dikelabui dengan hadits, mereka tipu juga umat Islam dengan menamakan hasil kajian hadits sebagai ramalan (nujum) mereka. Di antara yang disebut oleh Michael Nostradamus (1503-1566) seorang warga Perancis keturunan Yahudi, tokoh peramal dari Barat yang terkenal, yang dikatakan banyak ramalannya yang tepat. Menurut ramalan beliau yang ditulis semula oleh V. J. Hewitt dan Peter Lorie dalam buku The End of the Millennium, Prophecies : 1992 to 2001, beliau meramalkan pada tahun 2000, disebutkan secara lebih khusus mengenai munculnya seorang pemimpin Islam yang bakal merubah dunia. Menurut beliau:

1. Akan muncul A New World Religion.
2. Dipimpin oleh seorang yang dikenali dengan panggilan The Man from The East.
3. Dia muncul dari negeri yang terletak di pertemuan tiga buah laut.
4. Kemunculannya menggemparkan Timur dan Barat.
5. Ketika muncul, dia memakai sorban biru (The Blue Turban).
6. Dia merayakan hari Kamis sebagai hari istimewa bagi dirinya.

Di sini diuraikan tentang hal-hal yang disebut oleh Nostradamus berdasarkan hadits, sekaligus membuktikan terdapat “mala-fide” Yahudi dalam konspirasi menipu umat Islam.

1. Akan muncul A New World Religion. Kemunculan satu kuasa baru dunia berlandaskan agama telah disebut secara nyata oleh Rasulullah SAW di dalam beberapa hadits. Di antaranya: Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan bagi umat ini (Islam) pada awal setiap seratus tahun seorang mujaddid yang bakal memperbarui (menghidupkan) urusan agamanya.” (Riwayat Abu Daud, Al Hakim, Al Baihaqi, Al Iraqi, Ibnu Hajar Al Asqalani) Imam As Sayuti berkata: Para penghafal hadits sepakat mengatakan hadits ini sahih) Kita kini berada di awal kurun Hijrah ke-15, yaitu 1420 Hijrah. Mengikuti tafsiran ulama, yang dikatakan awal masa itu adalah 1/4 yang pertama. Artinya kita kini berada di awal masa. Sebagaimana janji Allah melalui lidah Rasulullah SAW ini, pastilah akan lahir seorang pemimpin yang akan menghidupkan syiar serta perjuangan Islam di zaman ini. Bertepatan juga kita melangkah ke abad ke-3 Masehi dan berada di awal tahun 2000. Dalam sebuah hadits yang lain, bersabda Rasulullah SAW: “Telah berlaku zaman kenabian ke atas kamu, maka berlakulah zaman kenabian itu sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian berlakulah zaman kekhalifahan (Khulafa’-ur-Rasyidin) yang berjalan seperti zaman kenabian. Maka berlakulah zaman itu sepertimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya lalu berlakulah zaman pemerintahan yang menggigit (zaman fitnah). Berlakulah zaman itu seperti yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya pula. Kemudian berlakulah zaman penindasan dan penzaliman (zaman pemerintahan diktator) dan kemudian berlakulah zaman itu sepertimana yang Allah kehendaki. Kemudian berlakulah pula zaman kekhalifahan (zaman Al Mahdi dan Isa a.s) yang berjalan di atas cara hidup zaman kenabian. Kemudian baginda diam.” (Riwayat Ahmad) Secara umum apabila kita meneliti sejarah, zaman kenabian, zaman Khulafa’-ur-Rasyidin, zaman fitnah (pemerintah telah rusak sedang rakyat masih baik), zaman diktator (penjajahan Yahudi dan Nasrani) dan kini adalah giliran zaman seperti zaman kenabian itu berulang kembali. Inilah yang dimaksudkan sebagai A New World Religion oleh Nostradamus.

2. Dipimpin oleh seorang yang dikenali dengan panggilan The Man from The East. Kebangkitan yang dimaksudkan itu akan dipimpin oleh seorang pemimpin dari Timur sebagai pencetusnya. Di dalam beberapa hadits disebutkan berkenaan pemimpin dari Timur itu: 1. Daripada Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW sambil memegang tangan Sayidina Ali; baginda berkata: “Akan keluar dari sulbi ini seorang pemuda yang memenuhi bumi ini dengan keadilan. Maka apabila kamu menyakini demikian itu hendaklah bersama Pemuda Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang panji-panji Al Mahdi.” (Hadits riwayat At Tabrani) 2. Dari Tsauban r.a dia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, akan datang Panji-Panji Hitam (kekuasaan) dari sebelah Timur, seolah-olah hati mereka (pendukung-pendukung) umpama kepingan-kepingan besi (jiwa yg berani). Barangsiapa mendengar tentang mereka, hendaklah datang kepada mereka dan berbai’atlah kepada mereka sekalipun harus merangkak di atas salju. (Dikeluarkan oleh Al Hafiz Abu Naim) 3. Dia muncul dari negeri yang terletak di pertemuan tiga buah laut. Negara Timur tempat perjuangan pemimpin tersebut terletak di pertemuan tiga buah laut. Siapa saja yang merasakan kedudukan mereka terancam akan membuat kajian dan menyusun strategi untuk menyelamatkan diri. Begitupula Yahudi dan Nasrani yang telah tahu tentang kebangkitan Islam di akhir zaman.

Memang Timur itu tidak ditentukan di manakah negaranya melalui hadits. Ini adalah kajian pihak musuh, akhirnya mereka berpendapat negara tersebut terletak dalam lingkungan tiga buah laut di sebelah Timur. Mereka mencari negeri yang ada ciri demikian dan di negeri-negeri tersebut, mereka menjalankan ‘kerja-kerja kotor’ yaitu mencoba memadamkan kalimah Ilahi dengan berbagai cara. Dengan berbuat demikian, mereka berharap dapat menghalang kebangkitan Islam yang kedua dari kawasan yang telah disebutkan itu. Sebab itulah wilayah-wilayah di Indonesia sejak dulu menjadi sasaran utama mereka karena mereka yakin dari sanalah akan bangkitnya “The Man from The East” itu. Selain itu, mereka juga membangun pangkalan (pusat operasi) di dekatnya yaitu di Filipina dan Singapura.

Filipina adalah pusat operasi bagi kaum Nasrani sedangkan Singapura adalah pusat operasi bagi Zionis Yahudi. Dari kedua tempat itu mereka memantau seluruh Asia Tenggara, terutama Indonesia karena dipercaya oleh mereka Pemuda Bani Tamim itu berasal dan berkembang di Indonesia. Itulah bukti kuat kepercayaan para Rahib Yahudi dan Pendeta Nasrani terhadap kemunculan Pemuda Bani Tamim dan Imam Mahdi itu serta kawasan di mana mereka berdua akan dibangkitkan.

Namun, karena permusuhan yang sangat kuat, setiap pergerakan mereka ini dibuat atas nama perdagangan, hubungan politik, ekonomi, pertahanan, kemiliteran dan sebagainya sehingga tidak kelihatan maksud yang sesungguhnya atas umat Islam di kawasan ini. Di samping itu, mereka juga sangat rapi menyimpan rahasia yang sebenarnya tentang maksud mereka, sehingga tidak pernah dapat diketahui oleh siapapun umat Islam di kawasan ini sejak dulu hingga hari ini.

4. Kemunculannya menggemparkan Timur dan Barat. Semua manusia di seluruh dunia akan terkejut dengan perlantikannya sebagai pemimpin manusia di Timur. Pernyataan ini disebutkan oleh Nostradamus dengan tegas dalam buku ramalannya. Ketika itu, kebanyakan urusan perniagaan akan terhenti atau lumpuh seketika sebelum pulih di negara-negara lain. Di negara tempat beliau zahir itu, ekonominya akan lumpuh terus dan lenyap lalu beliau gantikan dengan sistem ekonomi Islam yang lebih adil dan sangat stabil. Sistem ekonomi Islam yang beliau terapkan nanti akan turut menggemparkan seluruh ahli ekonomi dan tokoh perniagaan serta pakar-pakar di seluruh dunia. Sistem ekonomi Islam beliau menyebabkan sistem kapitalis, sosialis dan sebagainya itu akan hancur, lumpuh dan tidak berdaya. Akhirnya, sistem ekonomi Islam yang beliau terapkan akan berkembang pesat dan meruntuhkan seluruh sistem ekonomi yang telah ada di dunia.

Perkara ini termasuk dalam sifat keadilan yang dibawa oleh pemimpin tersebut. Kedatangannya memenuhi dunia dengan keadilan sepertimana sebelum ini dipenuhi oleh kezaliman. Dari Ibnu Mas’ud RA, katanya, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang sekumpulan anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Apabila terlihatkan mereka, maka kedua-dua mata baginda SAW dilinangi air mata dan wajah baginda berubah. Aku pun bertanya, “Mengapakah kami melihat pada wajah Tuan sesuatu yang tidak kami sukai?” Baginda menjawab, “Kami Ahlul Bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran selepasku kelak hingga datang suatu kaum dari Timur yang membawa bersama-sama mereka Panji-panji Hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya, maka mereka pun berjuang dan memperoleh kejayaan lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu tetapi mereka tidak menerima sehingga mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan seperti bumi ini dipenuhi dengan kedurjanaan sebelumnya. Siapapun yang sempat menemuinya, maka datangilah mereka, walaupun terpaksa merangkak di atas salju. Sesungguhnya dia adalah al-Mahdi.” (Riwayat Ibnu Majah) Keadilan yang ditegakkan itu secara menyeluruh meliputi setiap aspek seperti politik, ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Sabda Nabi SAW: “Akan keluar dari sulbi ini (Sayidina Ali KW) seorang pemuda yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan. Maka apabila kamu meyakini yang demikian itu, hendaklah kamu turut menyertai Pemuda Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang panji-panji al-Mahdi.” (Riwayat At-Tabrani)

5. Ketika muncul, dia memakai sorban biru (The Blue Turban). Oleh kerana pemimpin tersebut adalah seorang pejuang Islam yang amat cinta kepada Rasulullah SAW, pastilah segala sunnah Rasul itu diperjuangkannya. Tidak mungkin seorang pejuang Islam tidak bersorban seperti Rasulullah SAW. Walaupun sekarang ini, amalan sunnah seperti bersorban itu telah dijelek-jelekan oleh orang.

Disebutkan tentang warna sorban, sebenarnya banyak hadits menyebut tentang sorban pemimpin ini, baik secara khusus ataupun secara umum. Khususnya di dalam kitab Jamiussoghir karangan Imam As Sayuti. Ketika kemunculannya hanya dia seorang yang memakai sorban berwarna biru di dunia ini. Mungkin sorban biru itu tidak selalu dipakainya, cuma sekali-sekali saja. Namun begitu, ini sudah cukup menjadi bukti bahwa hanya beliau seorang yang sanggup memakai sorban biru. Ulama lain ketika itu, terutama ulama fiqih, sudah tidak sanggup lagi meletakkan sorban di atas kepala sebagai pakaian harian, apalagi untuk memakai sorban yang berwarna biru atau hijau. Berat juga pernyataan dari Nostradamus ini merujuk kepada pemakaian sorban berwarna biru ketika zahirnya Pemuda Bani Tamim ini dengan mendapat kekuasaan di dunia sebelah Timur itu. Maknanya, sorban warna biru itu dipakainya ketika beliau pertama kali mendapat kuasa di negeri sebelah Timur dan ketika diberikan baiat oleh sekalian manusia. Mungkin begitulah yang dimaksudkan sorban biru oleh Nostradamus.

6. Dia merayakan hari Kamis sebagai hari istimewa bagi dirinya. Ini suatu yang tidak lazim bagi kebanyakan umat Islam ketika itu, di seluruh dunia termasuk oleh para ulamanya. Maksudnya di sini adalah, hari Kamis malam Jum’at. Malam yang lazimnya orang-orang Islam membaca Surah Yasin selepas Maghrib di masjid, di musholla atau di rumah. Beliau menjadikannya istimewa karena pada malam Jumaat itulah beliau akan memperbanyak zikir, doa dan sebagainya seolah-olah orang yang menyambut malam yang besar. Mungkin maksudnya beliau menjadikan malam Jum’at itu sebagai masa untuk membaca solawat dan mengamalkan zikrullah sehingga jadilah malam Jum’at itu sangat istimewa bagi dirinya. Dan memang begitu keadaannya, bagi para solihin dan wali-wali sejak zaman para sahabat hingga kini, mereka menjadikan hari Kamis malam Jum’at sebagai suatu hari raya dan malam berpesta-pesta amal dan taqarrub kepada Allah. Itulah maksud sebenarnya yang dikatakan oleh tokoh peramal Barat yang terkenal, Nostradamus, dengan kenyataan bahwa, beliau menjadikan hari Kamis sebagai hari istimewa bagi dirinya. Maksudnya di sini juga, umat Islam ketika itu sudah semakin jauh meninggalkan ajaran agamanya sendiri, sehingga hari Kamis malam Jum’at yang mulia itupun sudah dianggap tidak berbeda dari hari-hari dan malam-malam lainnya. Tahun yang disebut yaitu tahun Masehi 2000 telah tiba. Sebagai orang yang beriman dengan hadits sepatutnya kita peka dengan perkara ini. Di mana, di saat ini pihak musuh Islam lebih-lebih peka, maklumlah mereka dijanjikan untuk menerima kekalahan. Sedangkan bagi umat Islam, telah dijanjikan kemenangan. Hanya yang perlu, penuhi jiwa dengan iman dan taqwa, serta berusahalah untuk mendapatkan pimpinan dari pemimpin yang dimaksudkan itu. Sabda Nabi SAW, “Akan datang Panji-panji Hitam dari Timur, seolah-olah hati mereka adalah kepingan-kepingan besi. Siapapun yang mendengar tentang mereka, hendaklah datang kepada mereka dan berbaiatlah kepada mereka, sekalipun terpaksa merangkak di atas salju.” (Riwayat Al-Hafiz Abu Naim)”.

Sumber : Netlog

Dan Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya

4 Komentar

Artikel yang sangat bagus dan menyentuh jiwa ini saya temukan ketika membaca komentarnya mas Hina Kelana pada blognya sang pengembara jiwa mengenai postingan yang berjudul PERJALANAN NABI MUSA AS, MENERIMA WAHYU

semoga pembaca blog ini dapat mengambil manfaat.

Amin

=================================================================================================

Ketika Al-Musthafa berada dihadapan , kupandangi pesonanya dari ujung kaki hingga kepala, Tahukah kalian apa yang terjelma ?

….Ya ….. Cinta ! (Abu Bakar ra)

Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi. Lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir, kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman manusia paripurna didatangi seorang berkebangsaan Arab dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan salam “Assalamu’alaikum duhai para keluarga Nabi dan sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih Allah?”. Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak dan berdiri di belakang pintu “Wahai Abdullah, Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri”. Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun suara asing semula kembali mengucapkan salam yang pertama.

“Alaikumussalam, hai hamba Allah” kali ini Nabi yang menjawabnya.

“Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini sedang berada di luar?”

“Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar suaranya”

“Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia, pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan penambah ramai para ahli kubur”. Jawaban nabi terakhir membuat Fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis seperti anak kecil.

“Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur, harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang engkau, tak akan lagi ku memandang wajah kesayangan ayahanda” pedih Fatimah. Nabi tersenyum, lirih ia memanggil ” Sayang, mendekatlah, kemarikan pendengaranmu sebentar”. Fatimah menurut, dan Kekasih Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya,

“Engkau adalah keluargaku yang pertama kali menyusul sebentar kemudian”. Seketika wajah Fatimah tidak lagi pasi tapi bersinar. Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk. Malaikat pencabut maut berparas rupawan itu pun kini berada di samping Muhammad.

“Assalamu’alaikum ya utusan Allah” dengan takzim malaikat memberi salam.

“Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah Allah, apakah tugasmu saat ini, berziarah ataukah mencabut nyawa si lemah?” tanya nabi. Angin berhembus dingin.

“Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut nyawamu, itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak Allah memerintahkanku untuk kembali”

“Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai Izrail?”

“Ia kutinggal di atas langit dunia”.

Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan salam kepada seseorang yang juga dicintanya karena Allah.

“Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini” pinta Al-Musthafa.

Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga manusia pilihan, “Sesungguhnya pintu langit telah di buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu sebuah kedatangan, bahkan pintu-pintu surga juga telah dilapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah berhias menyongsong kehadiran yang paling ditunggu-tunggu”.

“Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang” sendu Nabi, wajahnya masih saja pucat pasi.

“Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini, bagaimana keadaan ummatku nanti”.

“Aku beri engkau sebuah kabar akbar,

Allah telah berfirman, “Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu memasukinya” Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh. Maha suci Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar cahaya. Nabi tersenyum gembira.

Betapa ia seperti tidak sakit lagi. Dan ia pun menyuruh malaikat izrail mendekat dan menjalankan amanah Allah.

Izrail, melakukan tugasnya. Perlahan anggota tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu persatu tidak bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira itu semakin terhembus jarang. Pandangan manusia pemberi peringatan itu kian meredup sunyi. Hingga ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam genggaman Izrail, nabi sempat bertutur, “Alangkah beratnya penderitaan maut”. Jibril berpaling tak sanggup memandangi sosok yang selalu ia dampingi di segala situasi.

“Apakah engkau membenciku Jibril”

“Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan sekarat ini, duhai cinta,” jawabnya sendu.

Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan perlahan

“Ummatku… Ummatku….”. Dan ia pun dengan sempurna kembali.

Nabi Muhammad Saw, pergi dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi’ul Awal, ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63 tahun.

Muhammad, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di masanya dan di sepanjang usia semesta, meninggalkan gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi peringatan kepada semua manusia, menorehkan dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah. Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah alam:

“demi siang bila datang dengan benderang cahaya, demi malam ketika telah mengembang, demi matahari sepenggalah naik”, telah membumbungkan Islam kepada cakrawala megah di angkasa sana.

Ia, Muhammad, menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan banyak kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani kehidupan.

Ia, Muhammad, yang di sanjung semua malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang dikerjakan.

Ia, Muhammad yang selalu menyayangi fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang berkekurangan. Dan Ia, Muhammad, tak akan pernah kembali lagi.

Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia terlunta di sana.

Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya, menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang, suaranya bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa.

Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah pergi :

Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera,
Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada empuknya tilam
Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia,
Kutau perutmu tak pernah kenyang dengan pulut lembut roti gandum
Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas pembaringan
Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam karena takut sentuhan neraka Sa’ir

Dan Umar r.a yang paling dekat dengan musuh disetiap medan jihad itu, kini menghunus pedang.

Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk setiap mulut yang berani menyebut kekasih kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap wajah-wajah para sahabat itu setajam mata pedangnya, meyakinkan mereka bahwa Umar sungguh-sungguh.

Umar terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang. Umar menjadi sedemikian garang. Ia berdiri di hadapan para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar manusia yang dicinta.

Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya, melangkah pelan menuju jasad manusia mulia. Langkahnya berjinjit, khawatir akan mengganggu seseorang yang tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok cinta yang dikasihinya sejak pertama berjumpa. Raga berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu Bakar hampir pingsan.

Nafasnya berhenti berhembus, tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad wangi al-Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah yang disayangi arakan awan, disanjung hembusan angin dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan jenazah pembawa berkah.

Akhirnya, demi keyakinannya kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit, demi mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar mengais sisa-sisa keberanian. Jemarinya perlahan mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan dijumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya. Hampir tak terdengar ia berucap, “Demi ayah dan bunda, indah nian hidupmu, dan indah pula kematianmu. Kekasih, engkau memang telah pergi”.

Abu bakar menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di depan tubuh nabi yang telah sunyi.

Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi udara Madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih ‘Muhammad’.

Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah selalu saja jelas tergambar.

Tiap ingin menyeru manusia untuk menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut, “Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku merindukanmu kekasih”. Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung Nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang Sang kekasih sambil menatap bola raksasa pergi di kaki langit.

Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap jengkal lembah madinah. Yang tak pernah bisa diungkapkan.

Semesta menangis.

***

Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha tinggi.

Purnama Madinah telah kembali, menjumpai kekasih yang merindui.

Dan semesta, kehilangan pelita terindahnya.

Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski hanya dengan setitik tinta pena.

Saya mengingatimu duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa kata.

Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang sahabat penyair dari masa mu:

Engkau adalah ke dua biji mata ini
Dengan kepergianmu yang anggun,

Aku seketika menjelma menjadi seorang buta
Yang tak perkasa lagi melihat cahaya

Siapapun yang ingin mati mengikutimu
Biarlah ia pergi menemui ajalnya,

Dan Aku,
Hanya risau dan haru dengan kepergian terindahmu

Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam kelenggangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang kerap berkunjung.

Agar, di akhirat kelak, dengan agung Nabi memanggil semua manusia yang senantiasa merindukan dan mencintainya.

Adakah yang paling mempesona dihadapanmu, ketika suara suci Nabi menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak pernah kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah yang paling membahagiakan di kedalaman hatimu, ketika sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga, berada nyata di dekatmu dan menemuimu dengan senyuman yang paling manis menembusi relung kalbu. Dan adakah di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke angkasa, ketika jemari terkasih menggapaimu untuk memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab neraka.

Adakah sahabat ???

Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak matamu, berbahagialah, karena mudah-mudahan ini sebuah pertanda. Pertanda cinta tak bermuara.

Dan, ketika kau tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu menyimpan cinta itu di dasar hatimu.

Salam saya, untuk semua sahabat. Mari bersama bergenggaman, saling mengingatkan, saling memberikan keindahan ukhuwah yang telah Rasulullah tercinta ajarkan.

Mari Sahabat !

Allohuma Solliala Muhammad …wa ala ali Muhammad ……

Untuk kemuliaan manusia termulia dan tercinta sayyidina Rasulullah Muhammad SAW
Bihurmati Habib Al fatihah

Wass

disalin dari :
http://jalansufi.multiply.com/

SISI BATIN AL-QUR’AN

Komentar Dimatikan

Sumber : dari Blog sang pengembara jiwa,

Pada     : Desember 3, 2008

Bismillahirrohmaanirrohiim…..

Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin, Washolatuwassalamu ala sayyidina wa mawlana Muhammadin Wa Ala Aalihi Washohbihi ajma’in. Amma ba’du.

Tulisan ini adalah Hasil dari pada Pengetahuan Saudara kita yang tidak mau disebutkan Namanya. Cukup saya sebutkan dengan “Hamba Allah yang Fakir”. Dimana Beliau mendapatkan Pengetahuan ini dari pada Karunia dan Anugrah Allah yang datang kepadanya setelah melewati tahapan Ladunni.

Dan tulisan ini diberi judul oleh Beliau dengan Judul “SISI BATIN AL-QUR’AN”

Semoga tulisan ini berman’faat untuk kita semuanya yang berada di Pondok Pengembara Jiwa, dan Rahmat Allah beserta saudara kita “Hamba Allah yang Fakir” dan juga beserta kita semuanya. Aamiin.

Kata Pengantar

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarakaatuh

Bismillah irohmanirahim,

Al Quran dibawa oleh malaikat Jibril dan ditanamkan ke- kalbu Muhammad saw dalam bentuk batin yang hakiki dan di-sampaikan kepada umatnya dalam bahasa Arab sampai menjadi bentuk tekstual berupa Kitab Al Quran yang dapat dibaca dengan mata Zohir.

Tetapi huruf,kata dan kalimat dalam bahasa manusia tidak mampu mengungkapkan seluruh makna Al Quran .

Melalui firman-firman-Nya Allah menunjuk hati yang di dalam dada sebagai alat untuk memahami.

Ilmu hati (batin) yang saya maksud ini pada kenyataannya saat ini sudah langka, yang banyak adalah bahasan-bahasan yang diberi judul tasawuf sehingga terkesan ilmu yang begitu sulit dan eksklusif untuk kalangan tertentu saja. Padahal ilmu hati ini me-rupakan komponen paling penting yang sebenarnya berada dalam satu kesatuan dalam agama Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saw dilanjutkan oleh Ali bin Abi Thalib ra kemudian sampai ke Zainal Abidin dan seterusnya.

Rasulullah saw pernah bersabda: “kelak Islam hanya tinggal nama dan ucapan dibibir saja” Gejalanya sudah muncul, contoh-nya, saat ini berapa banyak umat Islam yang mengucapkan “bismillah” dan “la ilahaillah” hanya sekedar dibibir saja tanpa memahami makna hakikinya apalagi mengamalkannya. Kalimat yang begitu sakral telah diperlakukan sebagaimana halnya mantera.

Dengan izin Allah, saya memberanikan diri menulis makalah ini untuk keluargaku dan teman-teman dekat. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya atas mereka.

Dengan dilandasi semangat mencari kebenaran bukan mencari -cari pembenaran, semoga Allah meridhoi dan memilih kita ke dalam golongan yang diberi petunjuk-Nya. Amiin ya Allah.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Medan, 16 Januari 2005

Hamba Allah yang Fakir

Bismillahirrohmaanirrohiim

Dalam pandangan orang-orang yang dikaruniai ilmu (Ulama) oleh Allah SWT, Al Quran adalah Firman Ilahi yang terbuka dan tak terbatas. Tiap huruf, kata dan kalimat yang terkandung di dalamnya memiliki makna yang bertingkat-tingkat lapis demi lapis. Kitab Al Quran adalah kumpulan ayat, yakni tanda-tanda yang menggambarkan hakikat yang sesungguhnya.

Kata ayat di dalam Kitab Al Quran bisa pula bermakna tanda-tanda yang terdapat di alam. Bila di dalam Kitab Al Quran ayat berarti beberapa kalimat yang mempunyai maksud sebagai bagian dari surat, maka di alam raya, ayat berarti fenomena yang menjadi tanda tentang Sang Pencipta.

Allah SWT berfirman: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al An’am:59)

Sebagaimana tiap ciptaan memiliki sisi tampak dan sisi tak tampak, ayat-ayat dalam Kitab Al Quran juga memiliki sisi yang tampak dan tak tampak (sisi batin). Bahkan lebih dari itu, sebuah hadis mengatakan bagwa Al Quran memiliki beberapa lapisan, setiap lapis memiliki pintu menuju cakrawala yang tak terbatas.

Dalam sebuah hadis dari Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib:

“sesungguhnya Al Quran turun dalam empat bentuk y.i: Ibarat (ungkapan tekstual) untuk orang awam,Isyarat(permisalan) untuk orang khusus (khawas), Latha’if (makna-makna yang lembut) untuk para wali dan Hakikat untuk para Nabi.”

Hal demikian ini karena Al Quran merupakan representasi tekstual dari lauh mahfuzd yang melambari seluruh penciptaan. Oleh karena itu Ulama (orang-orang yang berilmu) memandang Al Quran sebagai cakrawala yang luas, sebagaimana ilmuwan memandang alam ini. Contohnya, para ilmuwan dapat mengetahui adanya medan magnet sebagai alam yang tak tampak, bahkan mereka dapat memperkirakannya sebagai struktur yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

Merujuk kepada ayat-ayat Al Quran, para Ulama dengan ilmunya yang mendalam, melihat Al Quran sebagai sebuah semesta makna yang tidak terbatas tetapi saling berhubungan. Medan makna yang terkandung dalam Al Quran lebih luas daripada alam fisik, karena Al Quran juga bicara tentang alam-alam lain diluar alam fisik. Lebih jauh, Al Quran membuka cakrawala pemahaman dan pengetahuan yang belum tertampung oleh akal pikiran dan imajinasi manusia.

Untuk menghindari kerancuan dalam menafsirkan Al Quran, seseorang harus menelisik dengan runtut pesan Al Quran secara keseluruhan. Dengan perkataan lain, Al Quran harus dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh. Memahami Al Quran secara sepotong-sepotong termasuk dalam perkara yang dilarang oleh Al Quran itu sendiri.

Allah SWT berfirman:

“Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Qur’an itu terbagi-bagi.” (Al Hijr :90-91)

SISI BATIN AL-QUR’AN

Dalam kaitan dengan Al Quran, Rasulullah bersabda: “Al Quran memiliki bentuk luar yang indah dan makna batin yang kaya” Beliau juga bersabda: “Al Quran memiliki sisi batin dan sisi batin itu memiliki tujuh lapis sisi batin.”

Al Quran merupakan kumpulan ayat, dimana sesuatu yang nyata tidaklah terpisahkan dari yang tak tampak, sehingga ketika seseorang memahami yang tampak, maka ia mengetahui bahwa dia mulai memahami bagian yang tak tampak. Jadi, dibalik deretan huruf dan rangkaian kata yang dikandungnya, Al Quran menyimpan petunjuk-petunjuk dan makna-makna batin yang tak terhingga.

Allah berfirman :

  • “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an (jelas maksudnya) dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat (sarat duga atau multi interpretatif). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan
    Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.”
    (Ali Imran: 7)
  • “Dan perumpamaan-perumpamaan ini (ayat-ayat mutasyabihat) Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al Ankabut: 43)
  • “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata (terang maknanya) di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.(ulama) Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”.(Al Ankabut:49)
  • “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang ingkar mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,” (Al Baqarah: 26)

Ayat-ayat mutasyabihat dalam Al Quran memiliki ta’wil yang samar atau sarat-duga.

Kalimat : Bismillahirrohmaanirrohiim…..

“Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang”

Kalimat ini dapat ditangkap sebagai kalimat pernyataan tentang suatu tindakan yang sedang dilakukannya.

Kata “dengan” pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa orang itu melakukan sesuatu “dengan” Nama Allah sebagaimana halnya dengan pernyataan: “Dengan kacamata ” maka kacamata adalah sesuatu yang digunakan untuk dapat membaca.

Dengan interpretasi yang lain, ada juga penterjemah yang menambahkan kata “menyebut” diantara Bis dan Mi sehingga bismillah diterjemahkan menjadi “Dengan Menyebut Nama Allah” bahkan ada yang menterjemahkannya menjadi “Atas Nama Allah”. Beberapa terjemahan tadi menunjukkan bahwa”Bismillah” juga tergolong mutasyabihat.

Demikian juga dengan ayat :

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (Al Alaq: 1)

Ini menunjukkan bahwa Al Quran memiliki kemungkinan untuk dipahami secara luas dan dalam . Bahkan mengapa surat yang pertamakali turun yakni Al Alaq ditempatkan pada urutan ke 96 tentunya menjadikan urutan surat-surat dalam Al Quran juga menjadi mutasyabihat. Kenyataannyalah bahwa sebagian besar ayat-ayat Al Quran, bahkan urutan suratnya adalah mutasyabihat (sarat duga).

Firman Allah terekam di Al Quran dalam bentuk huruf dan kata, sementara tindakannya terungkap di alam semesta dalam kejadian yang faktual. Antara kata dan kejadian ini terdapat jalinan yang jelas bagi orang-orang yang berilmu.

Itulah mengapa seorang hamba tidak akan pernah menemukan pertentangan pada saat mencari pengetahuan tentang alam melalui metedologi saintifik dan menerima pengetahuan tentang alam gaib dari wahyu Al Quran. Bahkan dengan penuh keyakinan ia akan menyadari bahwa dibalik tanda-tanda fisik terdapat makna-makna batin yang luas dan dalam, sehingga ia akan senantiasa mencari petunjuk-petunjuk dari Al Quran dan Hadis mengenai makna-makna itu.

Kitab Al Quran adalah kitab yang menghimpun atau merangkum seluruh pengetahuan, keinginan, kekuasaan dan perbuatan Allah. Perintah untuk membaca (iqra) merupakan ajakan untuk memahami Al Quran, bukan sekedar melafalkannya. Allah berulang-ulang menyebutkannya dalam Kitab Al Quran, dan salah satu ayat-Firman-Nya :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al Qamar: 17)

Lalu, bagaimana kita bisa memahami Al Quran secara mendalam dengan baik dan benar sehingga tidak terkena ancaman Allah yang dinyatakan dalam firman-Nya : “Adapun orang-orang yang dalam “hatinya condong kepada kesesatan“, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya,” (Al Imran 7). Pada ayat tersebut Allah memberikan rambu pada kalimat: “dalam hatinya condong kepada kesesatan,” dan “tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.”

Kata-kata kunci pada dua kalimat di atas adalah : hati, cenderung sesat dan ilmu yang mendalam.

Dengan tidak mengesampingkan pentingnya ilmu pengetahuan (obyektif-empiris) yang kita bina di dalam otak dengan cara belajar di sekolah, di universitas agama dsb, yang sangat penting dalam memahami ayat-ayat Allah sampai ke sisi batinnya, adalah ilmu hati yang terletak di dalam dada. Hati dan otak adalah dua unsur materi sangat berbeda baik dari segi materi, wilayah persepsi, fungsi dan dayanya.

Penting untuk kita sadari, bahwa kemampuan akal (otak) untuk memahami secara obyektif-empiris, ada batasnya. Contohnya, untuk memahami dimana ujung batas dari alam semesta ini saja akal tidak dapat menjangkaunya. Apalagi untuk secara langsung memahami sesuatu yang batin.

Kitab Al Quran ada menjelaskan bahwa dengan berpikir saja tidak cukup untuk memahami Al Quran.

Firman Allah :

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali dengan persangkaan (pikirannya) saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Yunus:36)

Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan ilmunya dan belum datang kepada mereka takwilnya (penjelasannya).

“Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” (Yunus: 39)

Kedua ayat di atas Allah menujukkan sesuatu yang batin harus dipahami dengan ilmu batin(hati)

Karenanya, untuk memahami Al Quran pada sisi batinnya, perlu masuk ketingkat persepsi yang lebih tinggi.

Bila alat yang bernama akal itu sudah tidak berdaya, maka selain akal, alat apa lagi yang dapat kita pakai untuk memahami?

Rasulullah bersabda: “Di dalam dada, ada segumpal daging, yang bila baik itu daging maka baiklah semua amal perbuatannya, bila buruk, maka buruklah amal perbuatannya itulah kalbu.” (segumpal daging yang dimaksud = jantung/heart).”

Allah menjelaskan melalui Firman²-Nya :

  • “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al Hajj: 46)
  • “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (hatinya lalai dari ingat Allah).” (Al Araaf :179)
  • “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat/tanda-tanda Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).” (Ar Ruum: 53)

Dari firman Allah di atas dapat kita simpulkan bahwa Hati yang terletak di dalam dada memiliki sesuatu untuk memahami sisi batin Al Quran. Sesuatu itu diterangkan Allah sebagai mata hati.

Pada ayat-ayat di atas Allah telah menunjuk hati sebagai pusat kesadaran manusia, bukan pikirannya. Jadi Islam mendahulukan hati yang aktif, sebagai pusat kesadaran, menghasilkan ilham, kemudian dilanjutkan dengan berpikir dengan akalnya.

Nah, ilmu hati inilah yang harus dipelajari dari sumber yang benar sehingga dapat melepaskan kita dari kesesatan dalam memahami pesan-pesan Allah yang terekam dalam Kitab Al Quran.

Tentang Al Quran yang batin di terangkan Allah melalui ayat-ayat dalam Kitab Quran :

  • “Tidaklah Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan dan menerangkan Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya (Kitab Al Quran) dari Tuhan semesta alam.” (Yunus : 37)
  • “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata (terang maknanya) di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.(ulama) Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”.(Al Ankabut:49)

Al Quran yang batin ini menjadi furqan membedakan (menunjukkan) yang haq (kebenaran) dan yang batil (salah).

  • “Sebelum (Kitab Al Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).”
  • “Hai orang-orang yang beriman (tanda2 orang beriman: Al Anfal ayat:2), jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu (dalam proses memahami) dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al Anfaal : 29)
  • “Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, (tertulis) pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak (dapat) menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (Al Waqiah : 77-79)
  • “Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (baca juga Al Baqarah 97) (Asy Syu’araa :192–195)
  • “Dan sekiranya ada suatu bacaan yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al Qur’an itulah dia). Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang ingkar senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. ( Ar Ra’d : 31)

Selain ilmu, Allah mengisyaratkan juga ada syarat-syarat lainnya agar Hamba-Nya mendapat rahmat dan petunjuk. Karenanya, sihamba haruslah berupaya (berjihad di jalan Allah) untuk memenuhi syarat-syarat tersebut.

  • Pada surat yang pertama (Al Fatihah:1-7) Allah berfirman :
  1. Dengan nama Allah. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,(Harus bagaimana kita dengan nama-Nya agar Allah kasih dan sayang kepada kita)
  2. Segala puji bagi Allah, Tuhannya semesta alam,
  3. Yang menguasai hari pembalasan.(Lebih dari sekedar percaya, kita harus meyakini Akhirat dalam segala aspeknya)
  4. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
  5. Tunjukilah kami jalan yang lurus,(inilah permintaan yang harus kita mohon pertolongan Allah dengan sungguh-sungguh agar dibimbing-Nya menemukan jalan yang lurus agar dapat menyembah-Nya dengan benar)
  6. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka (para Nabi-nabi dan orang-orang saleh);
  7. bukan (jalan) mereka yang dimurkai (orang kafir dan munafiq)
    dan bukan (pula jalan) mereka yang
    sesat
    .(tidak paham atau salah memahami karena buta mata hatinya)
  • “Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (Al Baqarah : 269)

Siapa yang Allah maksudkan dengan“orang yang berakal” itu?

Dijelaskan-Nya dalam surat Ali Imran :190-191

  • “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring
    (setiap saat) dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran : 190-191)
  • Dari kedua ayat Ali Imran 190-191 di atas dapat kita tangkap bahwa seseorang disebut berakal bila pada saat yang sama dia dapat melakukan dua jenis pekerjaan sekaligus yaitu berzikir dengan hatinya secara kontinyu (tak lepas sedetikpun) dan berpikir dengan akalnya (otak) tentang ciptaan-Nya. Hatinya aktif berzikir sehingga mampu menerima ilham yang dikaruniakan Allah kepadanya dan ditransfer ke akalnya untuk dipikirkannya kemudian menjadi hikmah. Bila hatinya hidup (aktif berzikir), maka ia terjaga dari hati yang condong kepada kesesatan dan Hati yang sesat (tidak berzikir) tidak akan terilhami dengan kebenaran yang hakiki.
  • “(Al Qur’an) ini adalah keterangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran :13
  • “Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat,” (Al An’aam :155)
  • “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. ” (Al A’raaf :52)
  • “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Al A’raaf :204)
  • “(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (Ibrahim : 52)
  • “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Al Nahl :89)
  • “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah maka gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,” (Al Anfaal: 2)
  • Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras (tidak dapat ingat Allah). Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Al Hadiid:16)

    (d.p.l: Belumlah dikatakan seseorang itu beriman (dengan benar) bila hatinya belum dapat khusyu’ mengingat Allah)

Ketidak mampuan sebagian orang untuk menangkap makna dan petunjuk yang terkandung dalam Al Quran berasal dari hijab-hijab kegelapan / penyakit hati yang menutupi hati mereka. Berulang-ulang Al Quran mengungkapkan mengenai penutup atau dinding yang menyekat hati manusia untuk dapat memahami.

  • “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al Baqarah : 10)
  • “Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang ingkar itu berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan (cerita tentang / sejarah) orang-orang dahulu”.
  • (Al An’am: 25)
  • “Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman
    kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.” (Al Isra’: 45)
  • “dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.” (Al Israa’:46)
  • “Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Qur’an yang merupakan ayat-ayat yang nyata; dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al Hajj : 16)

Bagi orang yang tidak berilmu dan tidak beriman, ayat-ayat Al Quran terutama yang mustasyabihat akan terhijab baginya, sehingga hanya berupa teks yang mati dan bisu, sehingga tertutup untuk mereka pahami.

Selain itu, Allah juga mewajibkan agar pada saat mulai membaca Al Quran kita lebih dulu berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

“Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An Nahl: 9

Tentu saja kita tidak boleh membatasi makna ayat ini sekedar sebagai perintah untuk ber-isti’adzah, karena ber-isti’adzah secara batin jauh lebih penting untuk mendapatkan perlindungan Allah daripada hanya sekedar secara lahiriah.

“bismillah” dan “ísti’adzah” merupakan dua titik kecil yang menunjukkan adanya sisi batin dalam Al Quran yang tanpa ilmu yang tepat yaitu ilmu hati (batin) maka akan sangat pelik untuk memahami dan mengamalkannya, bahkan dapat tersesat.

Firman Allah :

  • “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al Hajj: 46)
  • “Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat” (Al An’aam:110)
  • “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang ingkar mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan? Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al Baqarah: 26-27)
  • Allah berfirman :
  • “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al Hajj: 46)
  • Pada frase “hati yang dengan itu mereka dapat memahami”dan “hati yang di dalam dada” Secara jelas Allah memberi petunjuk bahwa segumpal daging (jantung / heart) yang di dalam dada itu adalah alat untuk memahami.
  • “padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya”(Ali Imran: 7)

    Sebagai contoh, orang yang memiliki ilmu yang mendalam dalam hal ilmu pengetahuan dan ilmu hati adalah Imam Al Gazali yang tentunya tidak dapat kita bandingkan dengan kedalaman ilmu Rasulullah saw.

  • Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta tanggung jawabnya.” (Al Israa’:36)
  • “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maa-idah : 35)
  • “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada Ahli zikir (zikir=mengingat) jika kamu tidak mengetahui,” (An Nahl: 43)
  • Pada ayat 43 An Nahl ini, Allah tidak mengatakan untuk bertanya kepada ahli pikir tetapi Allah menyuruh kita bertanya kepada ahli zikir (d.p.l : ahli dalam hal mengingat Allah).
  • “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Al Anfaal: 53)
  • Pada ayat Al Anfaal: 53 di atas jelas bahwa Allah tidak akan memberi begitu saja tanpa hamba-Nya berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan suatu nikmat. Karenanya manusia wajib mencari jalan dan berusaha keras dijalan-Nya (Al Maidah:35)
  • “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu(dalam proses memahami) dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al Anfaal:29)

Kata-kata kunci pada ayat-ayat yang tertulis di atas adalah sebagai berikut:

  1. “janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (Al Israa’:36)
  2. carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, (Al Maa-idah:35)
  3. bertanyalah kepada Ahli zikir (An Nahl:43)
  4. berjihadlah pada jalan-Nya (Al Maa-idah:35)
  5. sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri
  6. jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan “orang-orang yang mendalam ilmunya”(Ali Imran: 7)

Pada ke enam frase di atas dapat kita lihat bahwa Allah telah mewajibkan manusia untuk menuntut ilmu
hati agar furqaan dalam hatinya menjadi aktif hingga ilmunya jadi mendalam.

Akhirul kalam, dalam usaha memenuhi perintah Allah untuk memahami Al Quran, kita perlu dukungan kedua ilmu utama yaitu ilmu akal dan ilmu hati yang harus dipelajari dari masing-masing sumbernya. Semoga kita tidak terperangkap dalam keadaan “tidak tahu bahwa kita tidak tahu” sehingga tanpa sadar telah tersesat dan berlaku fasik. Siapakah kiranya yang dapat menolong kita bila Allah itu sendiri yang telah menyesatkan karena telah kita zalimi diri sendiri. Audzubillahminzalik.

Firman Allah:

Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu, mereka tidak mengerti apa-apa.” (Al Anfaal: 22)

Tiada gading yang tak retak, bila ada pendapat yang kurang dan salah, mohon petunjuk dan pendapat.

“Hamba Allah yang Fakir”

di Medan, 17 Maret 2005

Catatan :

  • Orang berakal : hatinya terus menerus berzikir dalam segala situasi, dan pada saat yang sama akalnya berpikir (Ali Imran 190-191)
  • Orang beriman: – Bila disebut Nama Allah maka bergetar hatinya. Hatinya dapat khusyu’ mengingat Allah.
  • Furqaan : membedakan yang hak (benar) dan yang bathil(salah)

Artikel ini saya ambil utuh dengan hanya menata kembali susunan paragraph dan pe-nomoran kalimat yang perlu agar lebih memudahkan bagi pembaca dalam menikmati.

Semoga bermanfaat..


Menguak Misteri Dunia Jin

Tinggalkan komentar

Dunia Jin merupakan dimensi kehidupan salah makhluk Allah yang wajib diakui dan diimani oleh khususnya umat islam, dan sudah barang tentu harus dimengerti dan dipahami dengan benar dan hati hati, karena dari situlah musuh utama umat manusia berada dengan segala aktifitasnya.

Sungguh menjadi persoalanya yang amat serius bagi umat manusia yang mau berpikir dengan akalnya dan ingin selamat dari gencarnya serbuan serta manuver manuver yang dilakukan oleh bangsa jin. Karena sebagaimana kita tau bahwa golongan jin dengan tingkatan ilmu yang dimilikinya akan selalu memanfaatkan sesempit apapun kesempatan yang mereka miliki, termasuk pada lintasan lintasan batin yang terjadi pada para salik, penempuh jalan ruhani, tanpa mengenal tingkatan derajat ruhani manusia, semua tanpa kecuali akan selalu berusaha dilibas dan dijerumuskan ke jurang maksiat yang sedalam dalamnya.

Menyadari akan hal tersebut dan setelah sekian lama kami mencoba berupaya mencari ilmunya, secara tak disengaja dan puji syukur alhamudlillah akhirnya saya ditunjukan kepada suatu situs yang menurut kami secara gamblang dan cukup lengkap mengungkap misteri dunia jin, antara lain (silahkan KLICK) :

  1. Serba Serbi Dunia Jin VS Ruqyah
  2. Pendidikan anak islam
  3. Mengapa Orang diruqyah Bisa Kesurupan Jin ?

Selamat menikmati,  semoga bermanfaat

Surganya Mujahid

Tinggalkan komentar

Diambil dari : Ketawa.com (dengan mengalami sedikit editing)

Mudah-mudahan teman-teman yang baca tidak ada yang tersinggung, dan anggap aja ini cuma humor belaka

Almarhum Bendul baru seminggu meninggal dunia, oleh malaikat jalan-jalan di akherat guna diperkenalkan dengan lingkungan barunya.
Disuatu tempat Bendul melihat orang-orang yang disiksa, dicambuk dan dibakar di atas api neraka.Setelah disiksa mereka mati tapi hidup lagi lalu disiksa lagi. Begitu terus berualng-ulang.
Lalu Bendul lalu bertanya kepada Malaikat.
“Wahai Malaikat, tempat apakah itu namanya? dan kenapa mereka disiksa?”

Jawab Malaikat :
“O..itu namanya neraka, tempat orang-orang yang selama hidupnya suka mencuri, berzina, korupsi dan semua perbuatan berdosa lainnya.”
O..begitu ya…lalu Bendul diajak berjalan lagi untuk melihat tempat penyiksaan yang lain sampai suatu saat Bendul melihat Bomber, seorang tokoh peledakan gedung yang sempat menghebohkan media TV dan surat kabar ketika masih di dunia, bahkan oleh sebagian orang diakui dan disanjung sebagai mujahid.  kini dia dan rekan rekannya sedang berada di tempat yang sejuk, indah dan pemandangannya indah sekali.
Di sana  Bomber dan rekan rekannya ditemani wanita-wanita cantik telanjang, diiringi musik nan merdu, di meja dihidangkan makanan yang serba lezat.
Lalu dengan sedikit heran Bendul bertanya. “Wahai malaikat tempat apakah itu namanya ?”

Jawab malaikat :
“O..itu surganya mujahid !’
Kemudian Bendul diajak berjalan lagi. Tiba-tiba terdengar suara Bom, Bluarrr ………!!!!
Bendul heran tapi masih terdiam,,merekapun berjalan lagi. Sekitar sepuluh menit kemudian terdengar surara ledakan lagi Bluarrr…..!!!!
Bendulpun bertanya kepada malaikat, “Suara apakah itu wahai Malaikat ?”

Jawab Malaikat.
“O..itu suara bom, setiap sepuluh menit surganya  Bomber kami ledakkan..!!!”

JANGAN BIARKAN HATIMU MATI

3 Komentar

“Diantara tanda-tanda matinya hati adalah jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah, dan tidak menyesali perbuatan dosa anda.”

Hati yang mati disebabkan oleh berbagai penyakit kronis yang menimpanya. Manakala hati seseorang tidak sehat, maka hati tentu sedang terserang penyakit-penyakit hati. Penyakit hati itu begitu banyak yang terkumpul dalam organisasi Al-Madzmumat, dengan platform gerakan yang penuh dengan ketercelaan dan kehinaan, seperti takabur, ujub, riya’, hubbuddunya, kufur, syirik, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Ketika sikap-sikap mazmumat ini dihadapan pada kepentingan Allah, maka akan muncul tiga hal:

  1. Manusia semakin lari dari Allah, atau
  2. dia justru memanfaatkan simbol-simbol Allah untuk kepentingan hawa nafsunya, atau
  3. yang terakhir dia dibuka hatinya oleh Allah melalui HidayahNya.


Ibnu Ajibah menyimpulkan dari al-Hikam di atas, bahwa kematian hati (qalbu) karena tiga hal:
1. Mencintai dunia,
2. Alpa dari mengingat Allah,
3. Membiarkan dirinya bergelimang maksiat.

Faktor yang menyebabkan hati hidup, juga ada tiga:
1. Zuhud dari dunia
2. Sibuk dizikrullah
3. Bersahabat dengan Kekasih-kekasih Allah

Tanda-tanda kematian hati juga ada tiga:

  1. Jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah.
  2. Tidak menyesali dosa-dosanya.
  3. Bersahabat dengan manusia-manusia yang lupa pada Allah yang hatinya sudah mati.

Kenapa demikian?

Karena munculnya kepatuhan kepada Allah merupakan tanda kebahagiaan hamba Allah, sedang munculnya hasrat kemaksiatan merupakan tanda kecelakaan hamba.

Apabila hati hidup dengan ma’rifat dan iman maka faktor yang menyiksa hati adalah segala bentuk yang membuat hati menderita berupa kemaksiatan hati kepada Allah.

Yang membuatnya gembira adalah faktor ubudiyah dan kepatuhannya kepada Allah.
Boleh saja anda mengatakan :
Jika seorang hamba Allah bisa taat dan melaksanakan ubudiyah, itulah tanda bahwa hamba mendapat Ridlo Allah. Hati yang hidup senantiasa merasakan Ridlo Allah, lalu bergembira dengan ketaatan padaNya.

Jika seorang hamba Allah bermaksiat kepadaNya, itulah pertanda Allah menurunkan amarahNya.

Hati yang mati tidak merasakan apa-apa, bahkan sentuhan taat dan derita maksiat tidak membuatnya gelisah. Sebagaimana yang dirasakan oleh mayit, tak ada rasa hidup atau rasa mati.
Rasulullah saw, bersabda,

Orang yang beriman adalah orang yang digembirakan oleh kebajikannya, dan dideritakan oleh kemaksiatannya.”

Soal Respon Terhadap Dosa
Namun, Ibnu Athaillah mengingatkan, agar dosa dan masa lalu, jangan sampai membelenggu hamba Allah, yang menyebabkan sang hamba kehilangan harapan kepada Allah. Karena itu, rasa bersalah yang berlebihan yang terus menerus menghantui hamba harus dibebaskan dari dalam dirinya. Sang hamba harus tetap optimis pada masa depan ruhaninya di depan Allah.

Kebesaran ampunan Allah tidak bisa didilampaui oleh seluruh dosa-dosa hambaNya. Ampunan Allah lebih agung, lebih besar dan lebih kinasih, pada hambaNya yang bertobat. Karena itu Allah berfirman, Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri.”
Oleh sebab itu jangan sampai perbuatan maksiat itu membuat hamba-hamba Allah menjadi Su’udzon kepada Allah.
Dosa besar apa pun, jangan sampai menghalangi Husnudzon (baik sangka) anda kepada Allah.”

Wacana ini sekaligus mengingatkan kita pada pembuka kitab Al-Hikam,

“Diantara tanda-tanda bergantung atau mengandalkan amal adalah rasa pesimis kepada rahmat Allah ketika sang hamba berbuat dosa.”
Jika anda masih mengandalkan amal, bukan mengandalkan Allah, berarti anda akan pesimis jika kesalahan menimpa anda. Padahal kita harus menggantungkan diri pada Allah, mengandalkan Allah, bukan mengandalkan amal. Karena mengandalkan amal, bisa menciptakan rasa arogansi spiritual, dengan merasa paling banyak beramal dan taat, kemudian merasa paling benar, paling dekat dengan Allah.

Dalam soal harapan dan ketakutan, biasanya hamba terbagi menjadi tiga golongan;

  1. Golongan pemula, biasanya terliputi oleh rasa khawatir dan takut, dibanding dorongan harapan.
  2. Golongan menengah, biasanya seimbang natara harapan dan ketakutannya.
  3. Golongan yang sudah sampai kepada Allah, lebih didominasi rasa harapan yang optimis kepada Allah.

Inilah yang tergambar pada saat gurunya Al-Junaid, Sarry as-Saqathy dalam kondisi Maqbudl (terhimpit oleh suasana ruhaninya dalam Genggaman Allah).

“Ada apa gerangan wahai paman?” Tanya Junaid.

“Oh, anakku, ada seorang pemuda datang kepadaku, kemudian bertanya padaku, “Apakah hakikat taubat itu?”.

Aku jawab, “hendaknya engkau tidak melupakan dosa-dosamu…”.

Tapi pemuda itu mengatakan sebaliknya, “Tidak. Tapi justru hendaknya engkau melupakan dosa-dosamu..” Lalu pemuda itu keluar begitu saja.
Kemudian al-Junayd menegaskan, “Ya, menurutku yang benar adalah kata-kata si pemuda tadi. Karena itu jika aku berada di musim panas, lalu mengingat musim dingin, berarti aku berada di musim dingin.”
Pandangan As-Sary, benar, bagi para pemula. Sedangkan pandangan al-Junaid untuk mereka yang sudah sampai kepada Allah.
Bagaimana respon mereka yang mencapai tahap Ma’rifatullah?
“Siapa yang ma’rifat kepada Allah maka semua dosa adalah kecil di sisi KemahamurahanNya.”

Maksudnya, jika kita mengenal sifat dan Asma Allah yang Maha Murah, para hamba akan terus optimis terhadap ampunan Allah, karena tidak ada yang melebihi kebesaran dan keagungan ampunan Allah.

Sampai-sampai Rasul Allah SAW, menegaskan dalam hadits,

“Jika kalian semua berdosa, sampai dosa itu memenuhi langit, kemudian kalian bertobat, Allah pun mengampuni kalian. Jika sudah tidak adalagi hambaNya yang berbuat dosa, lalu datang para hamba Allah yang berbuat dosa, para hamba ini pun memohon ampun kepada Allah, maka Allah juga mengampuni mereka….. Karena sesungguhnya Allah Maha Ampun lagi Mengasihi.”
Namun, seorang hamba tidak boleh terjebak oleh ghurur, dengan alibi, mengabaikan dosa, dan menganggap enteng dosa-dosa itu.

Hal demikian ditegaskan lagi oleh Ibnu Athaillah:
“Tak ada dosa kecil jika anda berhadapan dengan KeadilanNya, dan tak ada dosa besar jika anda berhadapan dengan FadhalNya.”

Hikmah ini harus difahami di dunia ini dengan penafsiran demikian:
Apabila seorang hamba berbuat kepatuhan, ketaatan, ubudiyah, berarti itulah tanda bahwa sang hamba mendapatkan limpahan FadhalNya Allah. Sebaliknya jika sang hamba bermaksiat, menuruti hawa nafsunya, berarti merupakan pertanda bahwa si hamba berhadapan dengan KeadilanNya.
Tak ada yang lebih kita takutkan dibanding kita menghadapi Keadilan Allah, dan tak ada yang lebih dahsyat harapan kita dibanding kita menyongsong Fadhal dan RahmatNya.

—(ooo)—

Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.