Saat Doa tidak dikabulkan

Tinggalkan komentar

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? by kuswandani

“Apabila suatu permohonan ditahan, berarti kamu telah diberi.
Akan tetapi bila permintaanmu segera diberi,
berarti suatu anugerah yang lebih besar telah ditolak.
Oleh karena itu utamakan tidak memperoleh daripada memperoleh.
Sesungguhnya seorang hamba tidak memilih sendiri,
akan tetapi menyerah kepada iradah Allah,
yang menciptakan semua kebutuhan manusia dan yang membagi-bagikannya.”

(Muhyiddin Ibnu Arabi)

Berkawan dengan orang bodoh atau orang alim

Tinggalkan komentar

Dikutip dari  :  kuswandani di http://addaani2008.wordpress.com

ibnu-athaillah

Ibnu Athaillah Al-Iskandari menuntun kita:

“Engkau bersahabat dengan orang bodoh tetapi tidak mengikuti hawa nafsunya, lebih baik bagi kamu daripada engkau bersahabat dengan orang alim, tetapi suka mengikuti hawa nafsunya. Tak mungkin ilmu itu dimiliki orang alim, apabila ia menyenangi hawa nafsunya, dan dimana letak kebodohan orang bodoh yang tidak menuruti nafsunya.”

Bersahabat itu sangat penting, karena akan menambah dan meluaskan pergaulan dan meniadakan hidup kesendirian atau individual. Sebab pergaulan akan menghidupkan rasa solidaritas. Oleh karena itu, memilih teman bergaul diperlukan agar terhindar dari pengaruh jelek yang akan merusak pribadi seseorang, dan mengaburkan kesucian dari wajahnya. Demikian juga bergaul dengan orang berilmu yang saleh akan mendapatkan ilmu dan kesalehannya, sedangkan bergaul dengan orang yang bodoh dan rusak akan mendapatkan kebodohan dan kerusakannya.

Sedangkan teman sepergaulan yang paling baik ialah bergaul dengan orang bodoh tetapi berbudi pekerti baik dan saleh. Sebaliknya, sejelek-jelek pergaulan adalah bergaul dengan orang pandai, tetapi suka mengikuti hawa nafsu.

Gambaran dari hadis Nabi Muhammad saw. dalam bergaul diibaratkan pergaulan itu seperti berteman dengan penunggu tungku besi (tukang besi), dan penjual minyak wangi. Bergaul dengan tukang besi membuat kita berbau asap yang merusak hidung dan kerongkongan kita. Sedangkan bergaul dengan penjual minyak, ia akan ikut menghirup wanginya minyak tersebut, walaupun bukan pemiliknya. Hanya orang yang arif dan saleh sajalah yang mampu memahami perumpamaan dari hadits Nabi Muhammad saw.

Memang memilih teman bergaul sangat menentukan sifat dan akhlak seseorang. Seorang hamba yang menuju makrifat, selain memilih teman bergaul, juga wajib berhati-hati dalam pergaulan. Sebab hanya ada dua pilihan, akan terangkat ke maqam ketaatan dan makrifat, atau akan terjerumus ke lembah maksiat dan kerusakan.

Akan tetapi kadang-kadang terjadi orang-orang berilmu dan pemimpin umat terjerumus ke lembah hawa nafsu dan kemaksiatan, karena ilmunya tidak mampu melepaskan diri dari godaan hawa nafsu. Barangkali orang bodoh tanpa ilmu, lebih mudah menghindari hawa nafsu dan langkah maksiat. Memang kadang-kadang kebodohan menyelamatkan. Kepandaian kadang-kadang membuat orang merasa mampu berhadapan dengan pengaruh dunia melalui ilmunya, akan tetapi ternyata ia lemah ketika berhadapan dengan kenyataan. Mengapa? Karena kadang-kadang orang pandai merasa mampu lalu sombong, dan di saat sombong itulah nampak kelemahannya. Ia bisa terjebak masuk ke wilayah hawa nafsu, sadar atau tidak sadar.

Hamba yang sedang berjalan menuju makrifat dan kesalehan serta keihsanan, perlu menempatkan dirinya dalam pergaulan penuh kewaspadaan. Kemudian memberikan kekuatan bagi diri kita dengan doa dan zikir, sedekah, selain ibadah wajib lainnya. Mengasyikkan diri dalam ibadah, dan bergaul dengan orang-orang saleh, para ulama, menjadi dasar penting bagi hamba yang sedang menuju makrifat.

Untuk mendapatkan ridha Allah di dunia dan akhirat, maka hendaklah seorang hamba melakukan riyadhah dan mujahadah terus menerus sehingga ia mencapai maqam makrifat yang bertahap dari waktu ke waktu sampai kepada kesempurnaannya. Menempatkan Allah di atas segala kepentingan duniawi dalam pergaulan hidup itulah jalan yang benar dari perjalanan si hamba mendekati Allah SWT.[]

Pendidikan Hati

Tinggalkan komentar

Ditulis by : Herry Mardian
Dikutip dari : sebagian isi Bab III buku “Cinta Bagai Anggur”, dengan seijin penerbit.
sumber  : suluk.blogsome.com

“Selama engkau tidak menceraikan dunia dan segala sifat keduniawiannya, kau tidak akan pernah mengenal Tuhan. Pada persoalan ini, kau harus memahaminya dengan sangat berhati-hati! Nabi Isa a.s. adalah Nabi yang menjadi contoh pelepasan diri dari dunia material secara sempurna. Di sisi lain, kau juga mengenal seorang nabi besar lain, Raja Sulaiman a.s. Beliau adalah manusia yang paling kaya dari yang terkaya, juga yang paling berkuasa.”

Intinya adalah menceraikan dunia dengan qalb. Kemiskinan materi bukanlah inti persoalannya.

SEORANG sufi besar, Ibrahim bin Adham rah. [1] sebelumnya adalah sultan kerajaan Balkh. Dia tinggalkan kedudukannya sebagai raja di dunia ini demi merajai kehidupannya yang berikutnya.

Teladan dari beliau mengilustrasikan bahwa selama ini kita mungkin mengira bahwa kitalah pihak yang mencari dan mendapatkan, namun sebenarnya tidak demikian. Sebenarnya Allah-lah yang mencari kita, dan kita semata-mata hanya menjawab panggilan-Nya saja.

Pada tingkatan kita sekarang, seringkali kita tidak segera memutuskan untuk memenuhi undangan Allah. Kita menunda. Kita mempertimbangkan dan merenungkannya.

Dahulu Ibrahim bin Adham pun memiliki banyak pertimbangan. Ia sangat ingin menjadi seorang pejalan sehingga bisa mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengenal diri dan mencari Tuhan, namun demikian banyak yang harus ia korbankan. Ia harus meninggalkan seluruh kerajaannya, juga meninggalkan statusnya sebagai seorang sultan. Padahal, undangan telah datang—Allah telah memanggilnya. Tapi ia belum siap untuk menjawab, “Inilah hamba, ya Allah.” Hanya itu yang perlu kau katakan, “Inilah hamba; hadir, menunggu kehendak-Mu.”

Mengingat Allah[2] adalah salah satu hal yang paling mendasar dari banyak ibadah penting di jalan sufi. Mengingat Allah itu sebenarnya —penjelasan yang sesederhana mungkin— adalah sama dengan menjawab, “Inilah hamba. Hadir, menunggu kehendak-Mu.” Dan Ibrahim bin Adham, ketika itu, belum mampu mengingat Allah. Ia belum mampu “menjawab”. Namun, Allah telah mengundang Ibrahim bin Adham untuk datang kepada-Nya.

Suatu malam, sultan tengah tertidur di pembaringan bulu miliknya, dengan sprei sutra dan selimut-selimut yang paling indah. Mendadak bermunculan perasaan dalam hatinya, “Aku harus pergi. Aku harus meninggalkan ini semua. Harus!” Lalu tiba-tiba saja ia mendengar berbagai suara aneh yang berasal dari atap istananya. Ia buka jendela dan berteriak, “Siapa itu? Sedang apa kau di atas sana?” Terdengar sebuah suara menjawab, “Kami sedang membajak tanah.” Ibrahim bin Adham pun berkata, “Jawaban macam apa itu? Bagaimana bisa kau membajak tanah di atap istana?” Dan suara itu menjawab, “Ah, kalau kau pikir dengan berbaring di atas lembaran-lembaran sprei sutra engkau bisa menemukan Tuhan dari tempat tidurmu, kenapa membajak tanah di atap istana tidak bisa?”

Kau harus mengupayakan usaha-usaha keras tertentu, dan menanggung beban-beban penderitaan tertentu. Allah lebih dekat kepadamu daripada engkau kepada dirimu sendiri. Allah berfirman, “Terdapat tujuh puluh ribu hijab di antara engkau dengan Aku, tetapi tidak ada hijab antara Aku terhadapmu.” Allah lebih dekat kepadamu daripada kedekatanmu pada dirimu sendiri.

Kalau kau tidak berpikir tentang Tuhan seperti ini, kau boleh mencari di seluruh alam semesta dan tidak akan menemukan Tuhan, seperti seorang kosmonot Rusia yang pernah mencari Tuhan di luar pesawat antariksanya dan mengatakan, “Ah, saya tidak melihat Tuhan di atas sana.”

Seharusnya dia mencari Tuhan dalam dirinya sendiri.

Sesuatu yang begitu dekat denganmu akan sulit terlihat, karena ia terlalu dekat. Demikian pula, sesuatu yang begitu jauh, sulit untuk bisa terlihat. Suatu ketika, sekelompok ikan kecil mendatangi seekor ikan besar dan bertanya, “Kami dengar ada lautan di suatu tempat, entah di mana. Tolong, maukah Anda menunjukkan lautan pada kami?” Ikan besar pun menjawab, “Kalau demikian, mau tak mau kalian harus keluar dulu dari lautan.”

Jadi, apakah engkau harus keluar dari kebenaran untuk melihat kebenaran? Semoga Allah Al-Haqq, suatu saat berkehendak untuk menunjukkan kebenaran-Nya kepadamu.

Tapi persoalannya, tidak ada sesuatu pun selain Al-Haqq. Jadi engkau tak mungkin bisa keluar dari Al-Haqq agar mampu melihat Al-Haqq. Seperti ikan-ikan tadi yang tidak mungkin mampu keluar dari air agar bisa melihat air.

Allah berfirman, “Aku lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri.”[3] Sedekat itulah Allah kepadamu—di dalam dirimu dan sepenuhnya meliputi dirimu. Segala yang ada di sekelilingmu, sebenarnya adalah Allah. Engkau seperti ikan di lautan. Kau tidak bisa melihat Allah, kecuali jika Dia berkehendak agar diri-Nya tampak kepadamu. Dan Allah akan kau kenali dengan cara yang berbeda dari pengenalan yang orang lain alami. Jadi, engkau tidak akan pernah bisa menyampaikan seluruh pengenalan yang kau alami kepada orang lain.

Allah Yang Maha Tinggi, yang tidak termuat oleh seluruh lelangit dan bumi, ternyata menemukan tempat di qalb hamba-hamba yang mu’min.[4] Pengalaman tentang Dia, datang dari dalam qalb-mu sendiri. Allah akan tampak padamu sesuai dengan potensimu, sesuai dengan kapasitasmu. Berbeda-beda pada setiap kita masing-masing.

Di kali yang lain, Ibrahim bin Adham pergi ke luar istana untuk bersantap di alam terbuka. Ketika makanan dihidangkan di hadapannya, tiba-tiba seekor burung gagak menukik turun dan menyambar rotinya. Sultan pun segera memerintahkan para pengawalnya untuk mengikuti gagak itu. Mereka melompat ke punggung kudanya masing-masing dan segera mengikutinya, hingga gagak itu turun ke sebuah tempat di mana ada seorang laki-laki terikat pada sebatang pohon. Gagak itu sedang menaruh roti ke mulut lelaki tersebut.

Para pengawal melaporkan kejadian itu kepada Sultan, yang kemudian mendatangi lelaki itu dan bertanya, “Siapa kau? Apa yang telah terjadi padamu?” Lelaki itu pun menjawab, “Aku adalah seorang dari kafilah dagang, dan para perampok merampas semua yang kumiliki. Aku sudah terikat didi sini selama berhari-hari. Setiap hari burung hitam ini membawakan makanan dan menaruhnya ke mulutku. Ketika aku haus, ada awan kecil yang terbentuk dan menurunkan hujannya tepat ke mulutku.”

Seperti Nabi Isa a.s. telah mengatakan, perhatikanlah burung-burung. Mereka berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar, dan Tuhan menyediakan makanan bagi merek.a. Kemudian, pada malam hari mereka kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang. Mereka tidak perlu memenuhi sendiri kebutuhan-kebutuhan mereka. Di sini, Allah menunjukkan kepada Ibrahim bin Adham bahwa ia benar-benar tidak perlu untuk membiarkan dirinya terikat kepada kesultanannya, kepada dunia ini. Semua kebutuhannya, Allah-lah yang akan menyediakannya.

Nabi Isa a.s. melepaskan dunianya. Ia sepenuhnya menceraikan dunia ini. Sehingga, seluruh kepemilikannya hanya terdiri dari dua benda: sisirnya yang biasa ia pakai untuk menyisiri janggutnya, dan sebuah cangkir yang digunakannya untuk minum.

Pada suatu hari, Nabi Isa a.s. melihat seorang lelaki tua yang sedang menyisiri janggutnya dengan jemari tangan, sehingga beliau pun membuang sisirnya. Kemudian ia melihat seorang lelaki lain sedang meminum air dari tangkupan kedua tangannya, dan beliau pun membuang cangkirnya.

Selama engkau tidak menceraikan dunia dan segala sifat keduniawiannya, kau tidak akan pernah bertemu dengan Tuhan. Pada persoalan ini, kau harus memahaminya dengan sangat berhati-hati! Nabi Isa a.s. adalah Nabi yang menjadi contoh pelepasan diri dari dunia material secara sempurna. Di sisi lain, kau juga mengenal seorang nabi besar lain, Raja Sulaiman a.s.. Beliau adalah manusia yang paling kaya dari yang terkaya, juga yang paling berkuasa; baik di dunia ini maupun di alam-alam lainnya. Nabi Sulaiman adalah raja bagi kalangan manusia, jin dan hewan; dan bagi segala sesuatu yang mengandung unsur udara, tanah, air maupun api. Dunia menjadi penghalang antara dirimu dan Tuhan selama hatimu terikat pada apa-apa yang kau miliki. Kalau engkau memiliki segala yang kau inginkan tapi tanpa itu semua pun kau sama sekali tidak bermasalah, itu tidak apa-apa. Di sisi lain, kalau kau tidak memiliki apa pun selain sebuah kepala ikan asin, tapi hatimu masih terikat kepada kepala ikan asin itu, maka engkau terikat kepada dunia ini. Intinya adalah menceraikan dunia dengan qalb.[5] Kemiskinan materi bukanlah inti persoalannya.

: : : : : : : :

Ibnu ‘Arabi rah.[6] yang di kalangan para akademisi sering digelari as-Syaikh al-Akbar[7] semasa perjalanannya di Tunisia pernah bertemu dengan seorang nelayan pengabdi Tuhan yang memilih untuk menjalani cara hidup yang sangat sederhana. Nelayan itu tinggal di sebuah gubuk yang terbuat dari lumpur kering. Setiap hari ia melaut dengan perahunya untuk menangkap ikan dan seluruh hasil tangkapannya hari itu akan ia sedekahkan kepada orang-orang miskin. Ia sendiri hanya mengambil sepotong kepala ikan untuk direbus, sebagai makan malamnya yang sangat sederhana.

Nelayan itu kemudian belajar kepada Ibnu ‘Arabi, dan selang berlalunya waktu ia sendiri pun ternyata menjadi seorang syaikh. Kemudian, pada suatu ketika, salah seorang murid dari nelayan itu harus mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu lalu meminta muridnya menemui Ibnu ‘Arabi untuk memintakan nasihat bagi dirinya. Sang nelayan, yang merasa bahwa telah bertahun-tahun ini perkembangan jiwanya tidak lagi mengalami kemajuan, membutuhkan nasihat dari Ibnu ‘Arabi.

Ketika si murid sampai di kota tempat tinggal Ibnu ‘Arabi, segera ia menanyakan tempat di mana ia bisa menemui beliau. Orang-orang di kota menunjuk ke puncak bukit, ke sebuah puri yang tampak seperti istana, dan mengatakan bahwa di sanalah tempat tinggal Ibnu ‘Arabi. Dia sangat terkejut melihat betapa tampak sangat duniawinya kehidupan Ibnu ‘Arabi, apalagi jika dibandingkan dengan guru tercintanya sendiri, yang hanya seorang nelayan sederhana.

Dengan enggan ia melangkahkan kakinya ke arah puri itu. Sepanjang perjalanan ia melalui ladang-ladang yang terawat baik, jalan-jalan yang indah, dan kumpulan-kumpulan domba, kambing, dan sapi. Setiap kali ia bertanya, ia selalu memperoleh jawaban bahwa pemilik semua ladang, lahan, dan ternak itu adalah Ibnu ‘Arabi. Ia bertanya-tanya sendiri, bagaimana mungkin seorang yang sangat materialis seperti itu bisa menjadi seorang sufi terkemuka.

Sesampainya di puri, apa yang paling ditakutinya terbukti. Di sana terlihat kekayaan dan kemewahan yang belum pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpi-mimpinya. Dindingnya terbuat dari marmer dengan ornamen yang diukir dan disusun. Lantainya ditutupi karpet-karpet yang tak ternilai. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra, yang bahkan lebih indah dari pakaian orang-orang yang paling kaya di kampungnya. Ketika menanyakan Ibnu ‘Arabi, dikatakan kepadanya bahwa majikan mereka sedang mengunjungi khalifah[8] dan akan segera kembali. Setelah menunggu sebentar, tak lama kemudian terlihatlah olehnya sebuah arak-arakan yang mendatangi puri tersebut. Awalnya tampak pasukan kehormatan dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, duduk di punggung kuda-kuda Arab yang indah. Kemudian terlihatlah Ibnu ‘Arabi, dalam jubah sutra yang luar biasa, mengenakan sorban yang layak untuk menjadi sorban seorang sultan.

Ketika si darwis muda telah diantar menghadap kepada Ibnu ‘Arabi, para pelayan lelaki yang tampan dan gadis-gadis pelayan yang cantik segera membawakan mereka kopi dan kue-kue. Si darwis muda pun menyampaikan pesan gurunya. Ia begitu terkejut dan geram ketika Ibnu ‘Arabi mengatakan kepadanya, “Sampaikan kepada gurumu, masalah dirinya adalah bahwa ia masih terlalu terikat kepada keduniawian.”

Sekembalinya ia ke kampungnya, gurunya ingin sekali mendengar hasil perjalanannya, apakah ia telah bertemu dengan al-Syaikh al-Akbar. Dengan enggan ia menjawab bahwa ia memang telah berhasil menemuinya. “Nah, bagaimana, apakah beliau menitipkan nasihat untukku?”

Sang darwis mencoba untuk menghindar dari keharusan mengulangi teguran Ibnu ‘Arabi kepada gurunya. Nasihat itu dirasakannya sungguh tidak pantas, mengingat betapa berlimpahnya kemewahan Ibnu ‘Arabi dan begitu asketiknya kehidupan gurunya. Di samping itu, ia khawatir akan membuat gurunya tersinggung dengan mengucapkan kembali nasihat yang semacam itu.

Sang nelayan terus memaksanya bercerita, hingga akhirnya si darwis muda menyampaikan juga apa yang dikatakan Ibnu ‘Arabi kepadanya. Meledaklah tangis sang nelayan mendengar teguran Ibnu ‘Arabi kepadanya. Muridnya, darwis muda itu, terheran-heran dan bertanya, bagaimana mungkin Ibnu ‘Arabi, yang hidup dalam kemewahan seperti itu, berani menasihati gurunya bahwa ia masih terlalu terikat kepada keduniawian. “Ia benar!” kata si nelayan, di sela-sela tangisnya. “Ia sungguh tidak peduli sama sekali dengan semua yang ada padanya. Sementara aku, ketika setiap malam menyantap kepala ikan, aku masih saja berharap seandainya saja kepala ikan itu adalah seekor ikan yang utuh.”

Catatan kaki:
[1] Sultan Ibrahim bin Adham bin Mansur Al-Balkh Al-Ijli Abu Ishaq (wafat 777 M), dikenal juga dengan nama Abu bin Adam; Sultan Balkh yang pergi begitu saja meninggalkan singgasana dan kerajaannya di Balkh untuk memilih cara hidup asketik di Syria. Di sana ia bertemu dengan sufi besar Fudhail bin Iyadh At-Tamimi (wafat 3 Rabi’ul Awwal 187 H di Mekkah), dan menjadi muridnya. –Ed.
[2] Dzikr. –Ed.
[3] Q.S. Qaaf [50] : 16 –Ed.
[4] “Tiada termuat Aku oleh bumi-Ku dan lelangit-Ku, tapi Aku termuat oleh qalb Al- Mu’min, yang lemah lembut, yang tenang tenteram.” (Hadis Qudsi).
‘“Berkata Wahab bin Munabbih, ‘Sesungguhnya Rasulullah berkata, “Allah ta’ala telah berfirman: Sesungguhnya seluruh petala langit dan bumi akan menjadi sempit untuk merangkul zat-Ku, tapi Aku mudah untuk dirangkul oleh qalb Al-Mu’minin.’” (HR Ahmad). –Ed.
[5] Hati. –Ed.
[6] Abu Abdullah Muhammad ibnu Ali ibnu Muhammad Ibnu Al-‘Arabi Al-Hatimi At-thaa’i (28 Juli 1165 – 10 November 1240 M / 17 Ramadhan 560 – 22 Rabi’ul Akhir 638 H); dari Murcia, Andalusia (Spanyol).
[7] Guru sufi terbesar. –Ed.
[8] Ada sebuah masa yang lalu, ketika seorang sufi mengunjungi orang kaya maupun raja merupakan hal yang sangat tabu dan menunjukkan pengharapannya pada materi. –Ed.

Menemukan Cermin Diri Pada Ajaran Para Wali

Tinggalkan komentar

Oleh :  Siska Widyawati.  ||dikutip dari : www.suluk.blogsome.com||Tulisan asli ada di sini,

———————————————————
“Mengenai langkah yang harus dijalani, janganlah kamu berlebihan, hiduplah dengan bersahaja, jangan sombong dalam berbicara, dan jangan berlebihan terhadap sesama manusia. Itulah langkah sempurna yang sejati.

Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur, lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang salah. Hanya itulah langkah yang sejati.”

(Sajarah Wali, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang jati, Naskah Mertasinga, Wahjoe: Pustaka, 2005)

PARAGRAF diatas saya kutipkan dari sebuah naskah kuno Mertasinga yang merupakan pesan yang disampaikan oleh Syekh Ataullah, salah satu guru dari Sunan Gunung Jati. Naskah ini diterjemahkan oleh Bapak Amman N. Wahjoe, yang memiliki dokumen ini secara turun menurun dalam keluarganya. Wahjoe membuat babad yang berbahasa Jawa-sundan ini dalam bahasa Indonesia dan menjadi satu bacaan berbahasa Indonesia yang banyak mengungkap sejarah tentang para wali di pulau Jawa.

Sebenarnya ajaran-ajaran macam ini bertebaran di Indonesia. Bentuknya dapat berupa babad, kawuh, kinanti dan sebagainya. Satu bentuk dokumen yang biasanya hanya dipunyai oleh keturunan yang sifatnya ekslusif dan tidak terdokumentasi dengan baik.

Banyak keluarga di Indonesia ini menyimpan catatan-catatan ataupun tinggalan dari kakek, nenek atau buyutnya. Namun karena ketidakmengertian catatan ini diperlakukan sebagai jimat yang dikeramatkan tanpa dikuak isinya.

Bagi saya pribadi amat menarik untuk mengetahui secara mendalam ajaran-ajaran para wali di pulau Jawa ini. Sejak dulu informasi yang saya terima tentang para wali, hanyalah hal-hal yang berisifat sinkretik yang penuh dengan cerita-cerita kegaiban.

Namun semakin saya mencari, yang saya temukan adalah kesederhanaan ajaran mereka yang cukup menyentuh sisi keberagamaan saya. Kalau ditilik dari ajaran-ajarannya para sunan ini tidak hanya sekedar pendakwah, namun mereka mempunyai khazanah sufistik yang cukup mendalam.

Salah satu tanda dari khazanah sufistik yang dimiliki para wali tersebut adalah wisdom (kebijaksanaan). Salah satu contohnya dapat kita rasakan pada ajaran Sunan Kudus yang sampai saat ini masih diyakini oleh sebagian masyarakat di kota itu, yaitu tidak menyembelih sapi. Saat itu Sunan Kudus memerintahkan penghormatan terhadap sapi untuk mentoleransi kepercayaan masyarakat Hindu yang hidup di kota itu.

Menurut kisah yang tersebar dalam masyarakat, Sunan ini memulai dakwahnya dengan cara yang sangat unik untuk memancing masyarakat pergi ke masjid mendengarkan dakwahnya. Ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, tumbuh simpatinya. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti ’sapi betina’.

Selain itu kita dapat juga mempelajari ajaran dari Sunan Bonang yang gemar mecipatakan lagu-lagu rakyat sebagai lahan dakwahnya. Salah satu tembangnya yang cukup populer sampai saat ini, terutama saat dinyantikan kembali oleh Opick, ‘Tombo Ati’ merupakan hasil karya sunan. Boleh saya kutipkan disini terjemahan dari syair yang aslinya berbahasa Jawa tersebut:

Obat hati ada lima perkara.
Yang pertama, baca Qur’an dan maknanya
Yang kedua, shalat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpulah dengan orang saleh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.
Siapa yang bisa melakukan salah satunya
Semoga Tuhan memberikan penyembuhnya.

Salah satu sunan yang cukup unik pendekatannya dan cukup akrab dengan budaya lokal adalah Sunan Kalijaga. Wali yang satu ini menggunakan pendekatan budaya untuk mendekati masyarakat Hindu Budha pada jamannya. Salah satu peninggalan beliau yang cukup dikenal oleh masyarakat Jawa adalah kisah pewayangan Dewa Ruci (Dewa Ruh Suci, Ruh Al-Quds—ed.). Kisah tentang Bima yang bertemu dengan Dewa Ruci yang berwujud sama dengan dirinya menyimbolkan pertemuan manusia dengan jiwanya sendiri*. Kisah Dewa Ruci merupakan satu simbol khazanah kesufian yang melihat bahwa tiap-tiap manusia harus bertemu dengan jiwanya sendiri untuk mengetahui laku sejati dalam hidupnya. Sayangnya saat ini banyak orang Jawa menggunakan pementasan wayang Dewa Ruci ini untuk ritual “ruwatan” tanpa mengetahui pesan sesungguhnya dari kisah tersebut.

Yang cukup ajaib buat saya juga adalah fakta sejarah bahwa para wali itu sebagian besar adalah orang-orang asing. Menurut buku yang ditulis oleh Sudirman Tebba, “Mengenal Wajah Islam yang ramah” (Pustaka Irvan, 2007) dan juga Sajarah Wali dalam Naskah Mertasinga, para wali kebanyakan berasal dari tanah Arab dan Campa.

Syekh Syarif Hidayatullah sendiri serta Sunan Kudus mempunyai darah Arab. Wali-wali yang lain seperti Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Bonang yang mempunyai hubungan kekeluargaan satu sama lain, merupakan keturunan dari Campa, perdebatan sering merujuk Campa sebagai salah satu daerah di Kamboja.

Kenyataan bahwa orang-orang asing khusus datang dan berkumpul ke pulau Jawa untuk menyebarkan dakwah Islam, adalah hal yang cukup menarik untuk diselami. Mengapa mereka datang ke pulau Jawa? Dan lebih hebatnya lagi mengapa mereka yang berdarah asing itu dapat membumikan nilai-nilai Islam sesuai dengan nilai lokal atau lebih tepatnya ‘berdakwah dengan “bahasa” kaumnya’? Ini adalah misteri yang membutuhkan studi yang panjang, namun dengan khazanah sufistiknya yang unik, para wali mengajarkan nenek moyang saya untuk menyembah Tuhan dengan keberserahdirian yang sederhana.

Sayangnya esensi dari ajaran para wali ini terlupakan saat ini. Banyak orang di Indonesia mencoba mencari refleksi keagamaannya ke luar dan bukan pada dirinya sendiri. Gerakan pan Islamisme tahun 80-an agaknya banyak membuat perubahan dalam berislamnya orang Indonesia. Faham-faham yang serba keras, hanya berwajah syariah tanpa percikan kebijakan membuat Islam difahami dengan perspektif yang amat berbeda pada generasi–generasi muda Islam Indonesia yang ada saat ini.

Gerakan–gerakan Islam yang banyak merupakan turunan dari organisasi Islam dari Mesir atau Saudi Arabia, membuat banyak orang terasing dari sejarah keberagamaannya sendiri. Aliran garis keras ini pun direaksi dengan gerakan keIslaman yang liberal yang mencoba memasukkan Islam mempunyai logika berfikirnya sendiri yang transenden, dalam kerangka ilmiah barat yang sifatnya materialistik.

Saya tidak menemukan wajah Islam yang diyakini oleh nurani saya pada dua sisi ekstrim tersebut. Namun saya menemukan ketersambungan akar keyakinan saya tentang bagaimana seharusnya beragama Islam dalam ajaran para wali.

Sekarang, disaat Islam didentikan dengan terorisme dan kekerasan, Indonesia sering ditoleh oleh barat sebagai anti thesa bahwa Islam adalah wujud dari kedamaian dan toleransi. Menurut saya sudah saatnya untuk menggali dan mencoba menemukan inti dari warisan ajaran-ajaran para wali, sehingga kita bisa menemukan keunikan sejarah keberagamaan kita sendiri dan menyebarkan pada dunia, wajah Islam yang sebenarnya sebagai Rahmat sekalian alam. []

___
* Mengenal diri, “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, Siapa yang mengenal jiwanya akan mengenal Rabb-nya. (Al-Hadits).

Berhentilah Menyalahkan Orang Lain

Tinggalkan komentar

Oleh ribuan anak muda yang baru memasuki gerbang kerja, juga manajer muda yang frustrasi di dunia kerja, kerap saya ditanya: aspek apa dari dunia kerja yang paling sulit dihadapi? Terus terang, bekerja apapun dan dimanapun, serta bermodalkan pendidikan manapun sebenarnya mudah, asal tekun belajar dan bertanya. Yang sering bikin semuanya jadi rumit, adalah interaksi antarmanusia. Jangankan manusia yang baru memasuki gerbang kerja, mereka yang sudah berumur senja di tempat kerja sekalipun sering dibuat pusing oleh interaksi terakhir.

Meminjam pengandaian seorang penulis, ada perbedaan antara menendang bola dan menendang kucing. Sebelum menendang bola, kita bisa ramalkan kemana bola akan bergerak setelah ditendang. Akan tetapi, sebelum menendang kucing, kita tidak tahu apakah kucingnya akan menangis, lari, melompat, mati atau alternatif lainnya. Nah, meramalkan respons orang lain sebelum kita bertindak, jauh lebih rumit dibandingkan dengan meramalkan respons kucing. Sebab, kucing tidak mengenal politik, pura-pura, balas dendam dan serangkaian hal rumit lainnya. Namun, ini juga yang menyebabkan disiplin mengelola manusia menjadi penuh sentuhan seni dan kepekaan. Sebagian kecil memang bisa diungkapkan melaui kata-kata. Cuman, sebagian besar ia bersifat tidak terungkapkan dan hanya bisa dirasakan.

Saya tidak antisekolah atau antipelatihan, namun hal-hal yang bersifat tidak terungkapkan terakhir, lebih banyak bisa dimengerti kalau kita mengalaminya sendiri di lapangan. Diisukan negatif oleh orang lain, tidak cocok, mau didongkel dari kursi, dipermalukan di depan umum, diomongkan negatif di belakang kita, hanyalah serangkaian hal yang mesti di alami sendiri di lapangan. Untuk kemudian, mendapatkan pengertian yang dalam tentang dinamika interaksi antarmanusia di dunia kerja. Saya meragukan, kalau ada orang yang memperoleh pengertian terakhir, tanpa pernah dihempas gelombang-gelombang godaan tadi.

Setelah belajar dari tumpukan ribuan kebodohan dan kegagalan masa lalu, saya menemukan sebuah kearifan berguna. Dalam setiap persoalan manusia, saya belajar untuk mengurangi mencari siapa yang salah. Dan memusatkan perhatian untuk memecahkan persoalan.

Amat mirip dengan cara terakhir, Ken Cloke dan Joan Goldsmith dalam Resolving Conflict At Work, pernah menulis: ‘Define the problem as a person and you are in trouble. Define the problem as difficult behavior, you can do something about it’. Dengan kata lain, jika Anda menempatkan masalahnya pada orang, dan kemudian mengambil tindakan (apa lagi ilegal) maka masalah akan diganti dengan masalah yang lebih besar. Namun, bila pemecahan dikonsentrasikan pada perilaku yang sulit, kemudian kita bisa mencarikan jalan keluar yang lebih produktif.

Nah, bila saja banyak orang mau belajar berhenti untuk menyalahkan orang lain, dan memusatkan perhatian pada pemecahan persoalan, dunia kerja bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia adalah tempat ‘meditasi’ yang kerap menghadirkan kedamaian. Persoalannya, untuk bisa berhenti dari kebiasaan buruk tadi, disamping kadang kurang didukung lingkungan, juga sering dihadapkan oleh dorongan-dorongan dari dalam diri yang juga tidak mudah. Emosi, ego, harga diri, gengsi, ketidaksabaran hanyalah sebagian kecil dari dorongan-dorongan tadi. Siapapun orangnya – dari penjahat sampai dengan pendeta – memiliki dorongan terakhir dengan kadar yang berbeda-beda. Namun, siapapun juga orangnya, ia membutuhkan deep meditation untuk mengelola dorongan-dorongan tadi.

Apa yang saya sebut dengan deep meditation sebenarnya amatlah mudah. Ketika lapar, makanlah secukupnya. Tatkala haus, minumlah semampunya. Manakala mata mengantuk, tidurlah secukupnya. Dengan kata lain, hidup kita dengan seluruh kesehariannya sebenarnya sebuah meditasi panjang. Bila kita melakukan meditasi panjang ini dengan penuh ketekunan, kita yang menjadi pengelola tubuh dan jiwa ini. Bukan sebaliknya, kita dikelola oleh tubuh ini.

Lebih-lebih bagi mereka yang kebanyakan pekerjaannya adalah merubah orang lain. Atau memiliki tugas mulia memasyarakatkan nilai-nilai luhur. Sulit membayangkan, tugas-tugas terakhir bisa diselesaikan secara berhasil tanpa melalui deep mediation. Ini juga sebabnya, kenapa bertemu orang-orang tertentu kita mudah segan, hormat, respek, dan perasaan sejenis.

Di suatu waktu, seorang rekan yang sudah puluhan tahun berpengalaman mengelola ribuan manusia bertutur penuh keprihatinan. Mengurus manusia-manusia sulit – demikian menurut rekan tadi – adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Tahun ini ada sekian manusia sulit diselesaikan secara baik-baik, tahun berikutnya pasti – sekali lagi pasti – ada manusia lain yang menjelma menjadi manusia sulit. Mirip dengan pekerjaan rumah (PR) di sekolah, ia akan selalu datang secara bergantian dan bergiliran.

Benang merah yang bisa ditarik dari kisah ini, memecahkan masalah manusia dengan memindahkan, memecat dan sejenis memang boleh-boleh saja dilakukan kadang-kadang. Akan tetapi, organisasi manapun yang dipimpin oleh manusia dengan hobi menyalahkan orang lain, disamping tidak bisa memecahkan persoalan jangka panjang, juga gagal membangun hubungan industrial yang kuat.

Nah, satu spirit dengan pendekatan deep meditation, pekerjaan interaksi antarmanusia akan menjadi lebih mudah, bila kita mulai berhenti menyalahkan orang lain.

Haramkah Merokok itu ?

10 Komentar

Kiriman dari : Mas Her Budiarto di sebuah milis
Diambil dari : Aqse Syahid Multiply.com
Ditulis oleh : Profesor Dr Aziznawadi Ad Dusuqy ( Al Azhar )

————————————————————–
Sudah banyak orang sekarang mengharamkan rokok. Padahal rokok sudah ada sebelum adanya Islam. Lalu kenapa luput dari hukum yang dikeluarkan oleh Rosul dan para sahabat melihat “makhluk” berasap itu…
Ada alasan bagi pro pengharaman adalah bahwa baru sekarang diketemukan mudharot rokok itu. Setelah para team dokter dan para pakar mempelajarinya.
Yang anti pengharamanpun menjawab bahwa pengharaman adalah otoritas Allah sebagai musyarri’ (pembuat hukum)… apakah Allah tidak tahu tentang apa yang diketahui oleh para pakar dan team dokter itu ?
Walhasil hukum rokok hingga kita sering diributkan para ulama modern (bukan ulama salaf)…
Nah, saya lagi search ketemu tulisan yang berkenaan dengan itu, yang isinya ;

Para pembaca yang budiman, di dalam syari’at Islam yang benar, mudah dan suci, merokok ternyata hukumnya tidak haram, mengapa?

1.  Allah swt. dan Rasul-Nya saw. tidak pernah menegaskan bahwa tembakau atau rokok itu haram.

2. Hukum asal setiap sesuatu adalah halal kecuali ada nash yang dengan tegas mengharamkan.

3. Sesuatu yang haram bukanlah yang memudlaratkan, dan sesuatu yang halal bukanlah yang memiliki banyak manfaat, akan tetapi yang haram adalah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya walau bermanfaat, dan yang halal adalah yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya walau memudlaratkan. Tidak setiap yang memudlaratkan itu haram, yang haram adalah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya baik itu memudlaratkan atau tidak. Cabe, daging kambing, gula, asap mobil, dll. juga memudlaratkan tapi tidak haram, mengapa justru rokok saja yang haram padahal masih banyak yang lain yang juga memudlaratkan?

4. Segala jenis ikan di dalam laut hukum memakannya halal sebagaimana yang diterangkan dalam hadits. Padahal banyak jenis ikan yang memudlaratkan di dalam laut tersebut, tetapi tetap halal walau memudlaratkan. Kalau kita mengharamkannya maka kita telah mentaqyid hadits yang berbunyi “Yang suci airnya dan yang halal bangkainya“.

5. Kita boleh saja melarang atau meninggalkan tapi kata-kata haram tidak boleh terucapkan karena Allah berfirman : “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah“. Kita boleh mengatakan: Jangan merokok karena ia memudlaratkan, tapi tidak boleh kita mengatakan : Merokok itu haram, sebagaimana kita mengatakan kepada anak-anak kita : Jangan makan coklat karena ia merusak gigi, dan kita tidak pernah mengatakan : Makan coklat itu haram. Kita mungkin mengatakan : Memakan permen yang diberi sambel dapat menyebabkan penyakit influenza, namun tidak boleh kita mengatakan : Makan permen yang dicampur sambel itu haram.

6. Kalau rokok dikatakan bagian dari khaba’its maka bawang juga termasuk khaba’its, mengapa rokok saja yang diharamkan sementara bawang hanya sekedar makruh (itupun kalau akan memasuki masjid)?

7. Rokok adalah termasuk Mimma ammat bihil-balwa pada zaman ini.

8. Hadits “La dlarara wala dlirar” masih umum, dan bahaya-bahaya rokok tidak mutlak dan tidak pasti, kemudian ia bergantung pada daya tahan dan kekuatan tubuh masing- masing.

9. Boros adalah: menggunakan sesuatu tanpa membutuhkannya, dari itu jika seseorang merokok dalam keadaan membutuhkannya maka ia tidaklah pemboros karena rokok ternyata kebutuhan sehari-harinya juga.

10. Rokok adalah bagian dari makanan atau minuman sebab ia dikonsumsi melalui mulut, maka ia halal selama tidak berlebihan, Allah berfirman : “Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan” dan Allah telah menyebutkan makanan-makanan dan minuman-minuman yang haram seperti arak, babi, dll. dan ternyata Allah tidak menyebut rokok di antaranya.

11. Realita menunjukkan bahwa rokok ternyata memberi banyak manfaat terutama dalam menghasilkan uang, di pulau Lombok misalnya, hanya tembakaulah yang membuat para penduduknya dapat makan, jika rokok diharamkan maka mayoritas penduduk Lombok tidak tahan hidup. Allah berfirman: “Katakanlah hai Muhammad: Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal. Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?

12. Terdapat banyak cara untuk mengurangi dan mencegah bahaya-bahaya rokok.

13. Qiyas kepada khamr tidak benar karena rokok tidak memabukkan dan tidak menghilangkan akal, justru seringnya melancarkan daya berfikir. Dan yang paling penting adalah haramnya khamr karena ada nash, dan tidak haramnya rokok karena tidak ada nash. Kemudian qiyas tidak boleh digunakan dengan sembarangan.

14. Rokok tidak ada hubungannya sama sekali dengan ayat “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” karena ayat tersebut membicarakan hal lain.

15. Adapun ayat “Dan janganlah kamu membunuh dirimu” maksudnya adalah bunuh diri, maka adakah orang yang sengaja membunuh dirinya dengan menghisap rokok? kalaupun ada jenis rokok yang sengaja dibuat untuk bunuh diri maka tetap yang haram bukan rokoknya akan tetapi yang haram adalah bunuh dirinya. Sebagaimana seseorang membunuh dirinya dengan pisau, maka yang haram bukan menggunakan pisaunya tetapi bunuh dirinya.

16. Mengharamkan yang bukan haram adalah termasuk dosa besar maka diharapkan untuk berhati-hati, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta : Ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidakah beruntung“.

17. Banyak ulama’ dan auliya’ yang juga perokok bahkan perokok berat, apakah kita menyamakan mereka dengan para bajingan yang minum arak di pinggir jalan? Allah berfirman: “Apakah patut Kami jadikan orang-orang islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu berbuat demikian? bagaimanakah kamu mengambil keputusan?“, Allah juga berfirman: “Apakah orang yang beriman itu sama seperti orang yang fasik? Sesungguhnya mereka tidak sama“, Allah juga berfirman: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? “.

18. Banyak ulama’ yang tidak mengharamkan rokok seperti : Syekh Syehristani, Syekh Yasin al-Fadani, Syekh al-Sistani, Syekh Muhammad al-Salami, Syekh al-Dajawi, Syekh Alawi al-Saqqaf, Syekh Muhammad bin Isma’il, Syekh al-Ziadi, Syekh Mur’i al-Hanbali, Syekh Abbas al-Maliki, Syekh Izzuddin al-Qasysyar, Syekh Umar al-Mahresi, Syekh Muhammad Alawi al-Maliki, Syekh Hasan al-Syennawi, Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al- Maghribi, Syekh Abdul-Ghani al-Nabulsi ra., Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani ra., Maulana Syekh Mukhtar ra., dll.

19. Dalam kitab Muntakhabat al-Tawarikh Lidimasyq, Syekh Muhammad Adib al- Hishni mengutip ungkapan seorang wali besar dan ulama’ ternama serta tokoh sufi terkemuka asal Syiria, yaitu Sidi Abdul-Ghani al- Nabulsi ra. (wafat tahun 1143 H.) yang berbunyi sebagai berikut :

1. دخان التبغ هام به البرايا # فطيب العود سفل وهو علو

2. مرارته حلاوة ذائقيه # ألا فاعجب لمر وهو حلو

Asap rokok menggoda selera;
Pun semerbak kasturi tertandingi.
Pahitnya, manis terasa,
Aneh, pahit kok manis rasanya.

20. Dalam buku yang sama menceritakan: Syekh Sunan Efendi yang lebih dikenal dengan sebutan Allati Barmaq, seorang mufti dan pakar fiqh bermazhab hanafi yang sempat meraih julukan Syaikhul-Islam pada zamannya, pernah membaca karya tulis Sidi Abdul-Ghani al-Nabulsi ra. tentang kebolehan merokok, yang berjudul: al-Ishlah bainal- Ikhwan fi Ibahat Syurb al- Dukhan, Syekh Allati Barmaq saat itu mengharamkan rokok, oleh karena itu ia sangat kontra dengan isi buku tersebut yang kemudian terjadilah adu argumen antara Syekh Allati Barmaq dengan Sidi al-Nabulsi yang akhirnya Syekh Allati Barmaq mengakui kebenaran Sidi al-Nabulsi lantas minta maaf, lalu dengan tegas mengatakan bahwa yang mengharamkan rokok adalah jahil, tolol, zindiq dan tak ubahnya dengan binatang hina. Sebab ternyata pada rokok terdapat rahasia Allah yang menyirati banyak khasiat dan manfaat. Aroma dan rasanya pun amat lezat. Ungkapan tersebut berbunyi sebagai berikut :

3. جهول منكر الدخان أحمق # عديم الذوق بالحيوان ملحق

4. مليح ما به شيء حرام # ومن أبدى الخلاف فقد تزندق

5. ألا يا أيها الصوفي ميلا # إلى الدخان علك أن توفق

6. ولولا أن في الدخان سرا # لما فاحت روائحه وعبق

7. ففي الدخان سر الله يبدو # وشاهده المحقق التي برمق

Sungguh tolol, yang tak peka asap rokok,
Bak hewan yang tak punya cita rasa.
Tak patut diharamkan,
Hanya kaum zindiq lah yang merekayasa.
Wahai pecandu sufi, Kenapa tak kau rengkuh rokok saja.
Andai tak ada rahasia, Baunya pun takkan lezat terasa.
Padanya; rahasia Sang Kuasa,
Ahli hakekat Allati Barmaq sebagai saksinya.

21. Dalam kitab Jawahirul-Bihar fi Fadla’ilinnabiyyil- Mukhtar oleh Syekh Yusuf al-Nabhani, menyatakan sebagai berikut :

من جواهر العارف النابلسي قوله رضي الله عنه في رحلته الحجازية المذكورة : جاء إلى مجلسنا السيد عبد القادر أفندي على عادته، وكان يقرأ علينا في مختصر صحيح البخاري في أواخره فقرأ الحديث الذي أخرجه البخاري : عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ولا يتمثل الشيطان بي ” فتكلمنا على هذا الحديث بما تيسر وذكرنا رسالة الشيخ السيوطي التي سماها إنارة الحلك في إمكان رؤية النبي والملك، وذكرنا بعض قصص وآثار فأخبرنا السيد عبد القادر المذكور بأن هذه الرسالة عنده وجاء بها إلينا بعد ذلك في ضمن مجموع . ثم جرت معه مذاكرة في شرب الدخان فأخبرنا عن الشيخ أحمد بن منصور العقربي عن شيخنا الشريف أحمد بن عبد العزيز المغربي أنه كان يجتمع بالنبي صلى الله عليه وسلم مراراً عدة وأنه مرض مرضاً شديداً فسأل النبي صلى الله عليه وسلم عن شرب الدخان فسكت النبي صلى الله عليه وسلم ولم يرد له الجواب، ثم أمره باستعماله .

Artinya: Syekh Abdul-Ghani al-Nabulsi Ra. menceritakan sebuah perjalanannya menimba ilmu di tanah Hijaz :Syekh Abdul-Qadir Efandi seperti biasa, hadir bersama kami untuk membacakan ringkasan Sahih Bukhari. Lantas, ia membaca hadits yang berbunyi; Dari Saidina Abi Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda; “Siapa yang bertemu aku pada saat mimpi; pasti akan bertemu denganku dalam keadaan terjaga, dan tak mungkin setan menyerupaiku” . Kami berdiskusi tentang hadits ini seraya mengutip karya Imam Suyuthi yang berjudul Inaratul-Halak fi Imkan Ru’yat al- Nabi wal- Malak. Syekh Abdul-Qadir Efandi menyebutkan bahwa ia memiliki karya tersebut sah secara silsilah dan akan disampaikan kepada kita (para santrinya). Selanjutnya kami berdiskusi tentang hukum merokok, lalu ia meriwayatkan: “Ada sebuah kisah dari Syekh Ahmad bin Manshur al-Aqrabi, dari Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi, ia menyatakan bahwa ia sering bertemu dengan Nabi saw. (dalam tidur maupun jaga). Suatu ketika ia jatuh sakit dan menemui beliau, kemudian menanya tentang hukum merokok, Nabi pun diam tak menjawab. Kemudian beliau malah menyuruhnya untuk merokok” !!!

  1. وكان لأهل المدينة فيه غاية الإعتقاد وكان من أكابر الأولياء ومن محققي العلماء الأعلام رحمه الله تعالى .

Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi (yang senantiasa menjumpai Rasul dan sempat menanya beliau tentang rokok dan ternyata mendapat perintah untuk menghisapnya) adalah seorang pemuka kenamaan dan tokoh kepercayaan pada masanya. Seorang ulamaberjasa besar bahkan waliyullah papan atas.

22. Boleh saja membuat peraturan-peraturan tertentu demi terjaganya kesehatan seperti membuat lokasi-lokasi khusus bagi para perokok, atau yang lainnya asalkan tidak mengharamkannya, itu saja, sekali lagi yang penting kita tidak mengharamkan yang halal sebab itu adalah dosa besar. Selanjutnya… terserah anda… Allah berfirman : “Katakanlah: Sesungguhnya kebenaran itu telah datang dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin percaya, hendaklah ia percaya, dan barang siapa yang ingin ingkar biarlah ia ingkar“.

http://www.aziznawadi.com

Sunan Bonang : Syahadat

Tinggalkan komentar

Menurut Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:

1. Mutawilah (muta`awillah di dalam bahasa Arab)
2. Mutawassitah (Mutawassita)
3. Mutakhirah (muta`akhira)

Yang pertama

syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia iaitu dari Hari Mitsaq (Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qalu bala syahidna).

Yang ke dua

ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengucap “Tiada Tuhan selain allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”.

Yang ketiga

adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin sejati. Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat dimpamakan seperti kesatuan transenden antara tidakan menulis, tulisan dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan sperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.

Di dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan cahaya-Nya yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan perintah agama.. Perumpamman ini dapat dirujuk kepada perumpamaan seupa di dalam Futuh al-Makkiyah karya Ibn `Arabi dan Lamacat karya `Iraqi.

Karya Sunan Bonang juga unik ialah Gita Suluk Wali, untaian puisi-puisi lirik yang memikat. Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu seperti laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi “Qalb al-mucmin bait Allah” (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan).

Suluk Jebeng. Ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai dengan perbimcanganmengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan bahawasanya manusia itu dicipta menyerupai gambaran-Nya (mehjumbh dinulu). Hakekat diir yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal perubuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam tubuh sperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas dan asapnya.

Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui. Ujar Sunan Bonang:

Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketauilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahsia
Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wali
Jangan mengaku Tuhan
Jangan mengira tidak ada padahal ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan
Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta
Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna

Sunan Kalijogo : Lir-ilir

3 Komentar

dikutip dari : blognya mas Xendro http://xendro.wordpress.com/

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…

Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,? (blimbing apa??)
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

Tembang diatas sungguh luar biasa maknanya, kanjeng Sunan memberikan pelajaran hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah dan mudah diingat, coba mari kita kupas bait perbait dari makna tembang ini,

  1. Lir-ilir, lir-ilir tembang ini dimulai dengan ilir-ilir artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (sejatinya tidur itu mati) bisa juga dimaknai sebagai sadarlah. Tetapi apa yang perlu dibangunkan? yaitu hidup kita (ingsun) hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? fikiran? —terserah kita yang penting disini ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan berdzikir. dzikir yang bagaimana??? (kita tanyakan pada diri kita masing-masing). dengan berdzikir maka ada sesuatu yang dihidupkan.(kita fikirkan ini)
  2. Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar kemudian dilanjutkan dengan bait berikutnya, bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Apakah ini pohon dhohir? tentu tidak pohon disini adalah pohon kalimatan toyyibah. yang akarnya tetap tertancap di bumi dan cabangnya ada empat serta tiap cabangnya menghasilkan buah makrifat atas izin Tuhannya.
  3. Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi, Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro. Bait ini memberikan petunjuk bahwa untuk mencapai buah dari pohon itu kita harus jadi anak gembala, apa yang kita gembala? ya diri kita sendiri yang perlu kita gembala, hawa kita, nafsu kita yng perlu kita gembalakan, kita didik dan kita jadikan kendaraan untuk bisa mencapai buah dari pohon toyyibah itu. Susah susah ya ambil buah itu, meskipun susah buah dari pohon itu harus kita ambil untuk mencuci pakaian kita, pakaian dhohir? tetnu bukan, pakaian disini adalah pakaian Taqwa, pakaian taqwa ini harus kita cuci dengan buah dari pohon itu.
  4. Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir, Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore, Pakaian kita (taqwa) harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“. Kemudian jika pakaian kita sudah dibersihkan, sudah kita rajut sangat indah maka pakaian kita itu kita kenakan, kita pakai untuk kembali ke Tuhan (Inna LILLAH).
  5. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, Yo surako… surak hiyo… Bait ini mengingatkan kita untuk cepat-cepat bangun/sadar, cepat mengambil buah dari pohon toyyibah, kemudian mencuci pakaian dengan sari buah/air dari pohon toyyibah tersebut untuk mencuci pakaian kita (pakaian Taqwa). dengan pakaian Taqwa itu kita kembil ke Tuhan dengan menggunakan pakain yang indah. sehingga kita kembali ke pada-NYA sebagai Muttaqin.

Mumpung masih ada kesempatan, mari kita cepat-cepat untuk mengambil buah Itu, untuk bisa mencapai buah itu, kita harus bangun/sadar/nglilir dari tidak sadar/tidur, karena untuk mencapai buah itu sangat licin, mudah terpeleset jadi harus sadar, untuk bisa sadar harus Dzikir karena Dzikir itu untuk menyadarkan ruh kita dan mengingat Tuhan. (Keluar dari Lupa, masuk Kepada Ingat)
sehingga kita bisa mengambil buah itu, kita pakai untuk mencuci pakaian Taqwa kemudian kita
Inna LILLAHI wa Inna ILLAIHI ROJIUUN. “sesunggunya saya dari Alloh, dan kembali kepada Alloh”. Amiin
Semoga bermanfaat,

Sejati ing Jiwo

Tinggalkan komentar

Dikutip dari : Blognya Mas Xendro

GOLEKANA tapake kuntul anglayang! Ngendi ana ? Lan sapa wonge sing bisa nggoleki ? Mbok mubenga nganti muser-muser, kuntule dhewe, yen lagi nglayang ing awang-awang, ya ora bakal bisa nggoleki tapake. Apa maneh manungsa. Diperese nganti asat keringete, diputera nganti mumet akale, langka manungsa bisa meruhi tapaking kuntul anglayang mau.

Pancen tetembungan mau ora bakal tinemu ing nalar. Tetembungan mau klebu kawruhing kasampurnan, sing isbate mung bisa dionceki srana tirakat lan laku. Mula yen arep nggayuh kawruh tapaking kuntul anglayang mau, manungsa kudu nyuwungake kekarepan lan nalare. Lire, aja dheweke gondhelan ing sakabehing gegondhelan sing saiki digondheli. Padha sawangen kuntul sing mabur dhuwur ing awang-awang! Kuntul mau ora tau nyawang tilas tapake. Merga pancen ing awang-awang mau tapake ya ora ana. Kuntul mau bisane mung miber. Lan bisane miber, merga awake kesangga, sanadyan ora ana sing nyangga. Kesangga ning rasane ora ana sing nyangga, ya kuwi karep sing winengku dening isbating ”golekana tapaking kuntul anglayang”. Lan sepisan maneh, ngrasaake kesangga sanadyan ora ana sing nyangga bisa kelakon, yen manungsa bisa nyuwungake dhiri saka sakabehing gondhelaning uripe. Aja maneh mung raja brana, drajat lan pangkat, cekelan lan gamaning urip wae kudu diculake, yen manungsa pancen arep ngalami dhirine iki sejatine kesangga sanadyan ora ana sing nyangga.

Kawruh kasampurnan iki bisa diulur luwih dawa. Kaya dene aku bisa ngrasakake kesangga sanadyan ora ana sing nyangga merga aku suwung saka sakabehing kekarepanku, aku uga bisa ngraksakake menawa aku iku duweni sakabehing yen aku iki ora duwe apa-apa. Utawa meruhi sakabehe, merga aku ora weruh apa-apa. Apa dene, aku iki ngrasake menawa aku ini temen ana, merga aku rila menawa aku ora ana.

Yen kawruh mau wis winengku, sejatine aku wis lumebu ing dating Pangeran sing murbeng jagad raya iki. Ya dating Pangeran mau sing akarya nganti aku kesangga sanadyan ora ana sing nyangga. Ya dat mau sing murugake aku duweni sakabehe sanadyan aku ora duwe apa-apa. Lan ya dat mau sing anyipta aku ana sanadyan aku ora ana.

Aku, manungsa sing kebak ing kasekengan (kelemahan) lan kajiret ing bandha-bandhuning kadonyan, tangeh bisa ngrasuk ing dating Pangeran mau kanthi sampurna. Bisane mung icip-icip. Mula mangkene ature Suluk Sujinah: ”Dene mangan sapulukan tegeseipun, mung Allah kacipta, kalawan nyandang sasuwir, pujinira kawayang sajroning driya.” Peribasane, sanadyan mung sapulukan anggonku mangan, aku wis krasa tuwuk, anggere Pangeran tansah cinipta ing batinku. Lan sanadyan mung sasuwir anggonku nyandang, aku wis jangkep bebusanan, anggere Pangeran tansah pinuji ing batinku. Icip-icip sapulukan, nyandhang penganggo sasuwir, iku mau wis turah-turah tumraping uripku, anggere dating Pangeran sing dakicipi, lan busanane dat mau sing daksandang.

Sunan Bonang : Suluk Wujil

Tinggalkan komentar

Suluk Wujil Pesan Kanjeng Sunan Bonang,
1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Ssampai rahsia terdalam
2
Sepuluh tahun lamanya
Sudah Wujil
Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf
3
“Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang
4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar
5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada
6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tiggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat
7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namuni isinya berwarna kuning
8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan
9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasihsayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”

11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”
12
Kebajikan utama (seorang Muslim)
Ialah mengetahui hakikat salat
Hakikat memuja dan memuji
Salat yang sebenarnya
Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
Tetapi juga ketika tafakur
Dan salat tahajud dalam keheningan
Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa
Dan termasuk akhlaq mulia
13
Apakah salat yang sebenar-benar salat?
Renungkan ini: Jangan lakukan salat
Andai tiada tahu siapa dipuja
Bilamana kaulakukan juga
Kau seperti memanah burung
Tanpa melepas anak panah dari busurnya
Jika kaulakukan sia-sia
Karena yang dipuja wujud khayalmu semata
14
Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
Dengar: Walau siang malam berzikir
Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
Zikirmu tidak sempurna
Zikir sejati tahu bagaimana
Datang dan perginya nafas
Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
Hayat melalui yang empat
15
Yang empat ialah tanah atau bumi
Lalu api, udara dan air
Ketika Allah mencipta Adam
Ke dalamnya dilengkapi
Anasir ruhani yang empat:
Kahar, jalal, jamal dan kamal
Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya
Begitulah kaitan ruh dan badan
Dapat dikenal bagaimana
Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana
16
Anasir tanah melahirkan
Kedewasaan dan keremajaan
Apa dan di mana kedewasaan
Dan keremajaan? Dimana letak
Kedewasaan dalam keremajaan?
Api melahirkan kekuatan
Juga kelemahan
Namun di mana letak
Kekuatan dalam kelemahan?
Ketahuilah ini
17
Sifat udara meliputi ada dan tiada
Di dalam tiada, di mana letak ada?
Di dalam ada, di mana tempat tiada?
Air dua sifatnya: mati dan hidup
Di mana letak mati dalam hidup?
Dan letak hidup dalam mati?
Kemana hidup pergi
Ketika mati datang?
Jika kau tidak mengetahuinya
Kau akan sesat jalan
18
Pedoman hidup sejati
Ialah mengenal hakikat diri
Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
Oleh karena itu ketahuilah
Tempat datangnya yang menyembah
Dan Yang Disembah
Pribadi besar mencari hakikat diri
Dengan tujuan ingin mengetahui
Makna sejati hidup
Dan arti keberadaannya di dunia
19
Kenalilah hidup sebenar-benar hidup
Tubuh kita sangkar tertutup
Ketahuilah burung yang ada di dalamnya
Jika kau tidak mengenalnya
Akan malang jadinya kau
Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil
Sia-sia semata
Jika kau tak mengenalnya.
Karena itu sucikan dirimu
Tinggalah dalam kesunyian
Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia
20
Keindahan, jangan di tempat jauh dicari
Ia ada dalam dirimu sendiri
Seluruh isi jagat ada di sana
Agar dunia ini terang bagi pandangmu
Jadikan sepenuh dirimu Cinta
Tumpukan pikiran, heningkan cipta
Jangan bercerai siang malam
Yang kaulihat di sekelilingmu
Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!
21
Dunia ini Wujil, luluh lantak
Disebabkan oleh keinginanmu
Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
Bentangan pengetahuan ini luas
Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
Orang yang mengenal hakikat
Dapat memuja dengan benar
Selain yang mendapat petunjuk ilahi
Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini
22
Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya
23
Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Orang yang mengenal Tuhan
Bicara tidak sembarangan
Ada yang menempuh jalan panjang
Dan penuh kesukaran
Sebelum akhirnya menemukan dirinya
Dia tak pernah membiarkan dirinya
Sesat di jalan kesalahan
Jalan yang ditempuhnya benar
24
Wujud Tuhan itu nyata
Mahasuci, lihat dalam keheningan
Ia yang mengaku tahu jalan
Sering tindakannya menyimpang
Syariat agama tidak dijalankan
Kesalehan dicampakkan ke samping
Padahal orang yang mengenal Tuhan
Dapat mengendalikan hawa nafsu
Siang malam penglihatannya terang
Tidak disesatkan oleh khayalan
35
Diam dalam tafakur, Wujil
Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)
Memuja tanpa selang waktu
Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)
Disebabkan oleh makrifat
Tubuhnya akan bersih dari noda
Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini
Dari orang arif yang tahu
Agar kau mencapai hakikat
Yang merupakan sumber hayat
36
Wujil, jangan memuja
Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
Juga sia-sia orang memuja
Tanpa kehadiran Yang Dipuja
Walau Tuhan tidak di depan kita
Pandanglah adamu
Sebagai isyarat ada-Nya
Inilah makna diam dalam tafakur
Asal mula segala kejadian menjadi nyata
38
Renungi pula, Wujil!
Hakikat sejati kemauan
Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita
Berpikir dan menyebut suatu perkara
Bukan kemauan murni
Kemauan itu sukar dipahami
Seperti halnya memuja Tuhan
Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak
Pun tidak membuatmu membenci orang
Yang dihukum dan dizalimi
Serta orang yang berselisih paham
39
Orang berilmu
Beribadah tanpa kenal waktu
Seluruh gerak hidupnya
Ialah beribadah
Diamnya, bicaranya
Dan tindak tanduknya
Malahan getaran bulu roma tubuhnya
Seluruh anggota badannya
Digerakkan untuk beribadah
Inilah kemauan murni
40
Kemauan itu, Wujil!
Lebih penting dari pikiran
Untuk diungkapkan dalam kata
Dan suara sangatlah sukar
Kemauan bertindak
Merupakan ungkapan pikiran
Niat melakukan perbuatan
Adalah ungkapan perbuatan
Melakukan shalat atau berbuat kejahatan
Keduanya buah dari kemauan

Mengasah Diri Melalui Pasangan hidup

Tinggalkan komentar

Oleh : Herry Mardian
dikutip dari http:/Suluk.Blogsome.com

KUTIPAN dari sebuah diskusi via e-mail antara saya dan Ilham*… mail ’sumber persoalannya’ saya edit biar nggak terlalu panjang. Oh ya, tulisan ini bukan curhatannya Ilham. Tapi tulisan ini kami terima via e-mail, dan kami jadi mendiskusikan pernikahan dan cinta.
Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.
Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?
Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.
[Ilham]
Dari tulisan di atas yang saya baca, saya jadi punya pertanyaan, Her:
“Apakah ‘mencinta’? Mencintai cara kita mencintai, atau mencintai dirinya?”
[Herry]
Ham, apakah ada sebuah kebahagiaan yang sempurna, bulat? Seratus persen? Tidak ada. Setidaknya, tidak dalam kehidupan kita yang sekarang. Mengharapkan sebuah perkawinan yang bahagia, sempurna, total, bulat seratus persen bahagia,.. dream on. Not in this life. If you do, then you sucks. Loser. Try to get sober. Wake up. Hang on, get a grip. Whatever.
Tapi perkawinan yang –relatif– bahagia, bisa jadi ada. Walaupun jarang. Berapa lama kita bisa tampil sempurna di hadapan pasangan? Sesuai standar kesempurnaan yang dia harapkan? Nggak mungkin, karena standar kesempurnaan tiap orang pun terus berubah. Honeymoon –will– be over no matter what. But at least, we hope that the biggest portion of our marriage is happines. Itu –relatif–, bukan sempurna.
Mencintai itu ‘memberi’. Tanpa mengharapkan apapun. Seperti matahari yang memberikan sinarnya, atau pohon yang memberikan buah dan manfaatnya tanpa mengharapkan balasan apa-apa hingga dia menjadi layu dan mati. Seperti laut yang terus memberikan mutiara biarpun bilyunan ton sampah dibuang kemukanya setiap hari.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.
(Sapardi Djoko Damono)
Itu level mencintai Ilahiyah. Divine Love. Sejak manusia pertama hingga sekarang, hanya beberapa gelintir manusia yang mempu mencintai seperti itu. Bahkan seorang ibu pun mengharapkan balasan dari anak-anaknya, apakah itu berupa perhatian, bakti, kesopanan maupun tanda terima kasih. Bahkan istri-istri nabi pun cemburu, mengharapkan sesuatu yang ‘lebih’ dari suaminya untuk dirinya, dan membuat lelah dan murung Sang Rasul hingga harus turun wahyu untuk menghibur Beliau saw.
Think: if you were accidentally burnt from head to toe, you become really ugly and disgusting, can’t work anymore, paralyzed… all money’s gone for medication.. will your spouse still love you –’as you are’– ? Apakah kata-kata indah saling mencintai dan menyayangi masih bertaburan? Saya benar-benar berharap, semoga masih, demi Allah. Semoga. Jika demikian maka itu pasangan sejatimu, dan doakan semoga Allah membalasnya dengan cinta-Nya yang sejati, karena engkau telah sepenuhnya ridha pada pasanganmu. Jika demikian maka ia lebih layak untuk Dia daripada untukmu. Serahkan pada-Nya. Berikan kekasihmu untuk-Nya sebagai persembahan tertinggimu kepada-Nya.
Tapi, kalau ternyata tidak, who will love you then?
Cinta sempurna, hanya bisa diraih dan didapatkan dari sosok yang Maha Sempurna. Itulah yang dicari para pejalan ruhani sejati: menginginkan dicintai dan mencintai secara sempurna, oleh dan untuk Yang Maha Sempurna Cintanya.
Lalu untuk apa menikah? Justru itu. Kalau menikah hanya untuk mengejar cinta (psikologis), ia akan habis suatu saat. Apalagi kalo cuma mengejar ketampanan dan kecantikan, harta dan status. Then you will spent the rest of your life, sharing your bed and giving your body to someone that you know he/she ‘just doesn’t have it anymore’. Deep in your heart, you will sigh every second. Helpless. Trapped in your life, breathing in something you don’t like, in every single moment for the rest of your life. You –lose–.
Cinta memang sebuah perasaan yang dahsyat, sering membuat lupa diri, dan sangat jarang orang yang tidak ‘mabuk’ dan mampu menguasai rasionalitasnya ketika dihantam cinta. Tentu saja, karena cinta adalah proyeksi terendah dari asma ‘Ar-Rahiim’, sesuatu milik Yang Maha Agung. Proyeksi terkecilnya saja, bahkan dalam level cinta fisikal dan mental, sudah sedemikian dahsyat efeknya kepada makhluk. Hidup jadi indah, inspirasi mengalir, dan karya-karya raksasa dan monumental akan lahir dari tangan kita karena proyeksi terkecil asma Ilahiyah itu. We become drunk, and try everything we can to not get sober. Not now. No way. Apalagi ketika Allah percaya pada pengabdian kita, dan berkenan menugaskan malaikat untuk menyematkan asma ‘Ar-Rahim’-Nya, yang ‘asli’ dan bukan proyeksi, di dada jiwa kita. Kayak apa dahsyatnya.
Nah, para pejalan ruhani (sufi yang beneran, bukan ngaku sufi atau baru baca beberapa buku sufi macam saya ini) menempatkan pernikahan sebagai kerangka untuk belajar, tangga untuk meraih cinta sejati ini. That Divine Love. To love and be loved, divinely. Perfectly. Sejak awal, paradigmanya beda: baik si pria atau si wanita, sepenuhnya memahami dan mau menerima ketidaksempurnaan pasangannya. Di dalam hati akadnya justru itu: ‘pasangan saya akan ada buruknya, but yet i’m marrying him/her‘.
Ituah sebabnya, kata rasul, bumi dan langit, dan para penghuni langit berguncang, bergetar ketika ada pasangan manusia yang mengucap akad nikah, sumpah nikah mereka. Karena pada hakikatnya mereka berdua bersumpah di hadapan seluruh keagungan majelis Allah ta’ala untuk bersama-sama melangkah memasuki sebuah ‘keberserahdirian’: mereka tidak tahu akan mengalami apa di dalam sana. Proudly (or foolishly) stepping one’s foot into the realm of absolute unknown.
Sumpah ini adalah sumpah kedua terberat setelah sumpah eternal jiwa manusia di Qur’an [7]:172. Bumi dan langit tidak habis pikir dan ngeri: kok berani-beraninya ngambil SKS seberat itu, padahal nanti mereka akan dihakimi Allah ta’ala langsung. Kuliah pertama [7]:172 nya saja belum lulus. Padahal yang mengucapkan sumpah itu ketawa-ketiwi setelahnya, mendengarkan khutbah nikah orang KUA yang nyerempet-nyerempet jorok dan porno (sial, peristiwa sakral kok ngelawak jorok). Bumi sebenarnya udah mau geleng-geleng kepala, tapi teringat bahwa kalau ia geleng-geleng maka seluruh penghuni bumi kiamat dilanda gempa. Makanya semakin ada orang nikah, maka bumi semakin sabar, belajar menahan dirinya untuk tidak geleng-geleng kepala, hehe..

Kembali ke laptop.
Makanya, beragama lewat pernikahan itu lebih berat daripada selibat. Kata Rumi, “kalau engkau termasuk manusia pemberani, maka tempuhlah jalan Muhammad (yaitu menikah dan membersihkan diri lewat pasangan). Tapi kalau tidak, maka setidaknya tempuhlah jalan Isa.”
Justru tujuan pernikahan bagi mereka (para penempuh jalan spiritual sejati) masing-masing lelaki dan wanitanya adalah ‘menggunakan’ ketidaksempurnaan pasangannya itu untuk membersihkan jiwanya sendiri. Dia mengamplas hatinya lewat pasangannya, demi meraih Cinta Sempurna (C dan S nya kapital) untuk diri dan pasangan mereka, karena masing-masing diri mereka menyadari bahwa cinta mereka untuk pasangannya bukanlah cinta yang tertinggi.
Socrates paham sepenuhnya hal ini. Ia, sebagai seorang pencari kebenaran hakiki (sufi sejati juga kali?) justru mencari wanita berperangai paling buruk di Athena untuk ia nikahi. Ia ingin mengasah kebijaksanaan dan kesabarannya lewat istrinya. Kata-kata beliau yang terkenal setelah menikah: “By all means, get married! If you get a good spouse you’ll be happy. If you get a bad one, you’ll become a philosopher. You have nothing to lose.” Lucu sih. Tapi dalem.
Ini dari kitabnya Rumi, Fihi Ma Fihi diskursus #20, terjemahan monsiour Herr Mann Soetomo, tentang pernikahan sebagai jalan Muhammad:
Siang dan malam engkau senantiasa berperang, berupaya mengubah akhlak dari lawan-jenismu, untuk membersihkan ketidak-sucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Lebih baik mensucikan dirimu-sendiri melalui mereka daripada mencoba mensucikan mereka melalui dirimu-sendiri. Ubahlah dirimu-sendiri melalui mereka. Temuilah mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut-pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak-adil.
Pada hakikat dari persoalan ini lah, Muhammad S.A.W. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam.” Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, lelaki hidup tanpa perempuan dan berpaling dari dunia. Allah menunjukkan jalan yang lurus dan tersembunyi kepada Sang Nabi. Jalan apakah itu? Pernikahan, agar kita dapat menanggung ujian kehidupan bersama dengan lawan-jenis, mendengarkan tuntutan-tuntutan mereka, agar mereka memperlakukan kita dengan keras, dan dengan cara demikian memperhalus akhlak kita.
Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidak-murnianmu kepada mereka. Akhlakmu menjadi baik melalui kesabaran; sementara akhlak mereka menjadi buruk melalui pendominasian dan agresi mereka. Jika engkau telah menyadari tentang ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka itu bagaikan pakaian; di dalamnya engkau dapat membersihkan ketidak-murnianmu dan engkau sendiri menjadi bersih.
Singkirkan dari dirimu kebanggaan, iri dan dengki, sampai engkau alami kesenangan dalam perjuangan dan penderitaanmu. Melalui tuntutan-tuntutan mereka, temukanlah kegembiraan ruhaniah. Setelah itu, engkau akan tahan terhadap penderitaan semacam itu, dan engkau tidak akan berlalu dari penindasan, karena engkau melihat keuntungan yang mereka berikan.
Diriwayatkan bahwa suatu malam Nabi Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya kembali dari suatu ekspedisi. Belian menyuruh mereka memukul genderang, seraya berkata: “Kita akan berkemah di gerbang kota, dan memasukinya esok-hari.” Mereka bertanya: “Wahai Rasul Allah, mengapa kita tidak langsung saja kembali ke rumah masing-masing?” Beliau S.A.W. menjawab: “Bisa jadi engkau akan menemui istrimu di ranjang bersama lelaki lain. Engkau akan terluka, dan kegaduhan akan timbul.” Salah seorang sahabat tidak mendengar ini, dia masuk ke kota, dan mendapati istrinya bersama dengan orang lain.
Jalan dari Sang Nabi adalah seperti ini: Menanggung kesedihan itu perlu untuk membantu kita membuang egoisme, kecemburuan dan kebanggaan. Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidak-adilan, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terbatas, agar jalan ruhaniah dapat menjadi jelas.
Jalan dari Nabi Isa a.s. adalah bergulat dengan kesepian dan tidak meladeni syahwat. Jalan Muhammad S.A.W. adalah dengan menanggung penindasan dan kesakitan yang ditimbulkan oleh lelaki dan perempuan satu sama lain. Jika engkau tidak dapat menempuh jalan Muhammad, setidaknya tempuhlah jalan Isa, sehingga dengan demikian engkau tidak sepenuhnya berada di luar jalan ruhaniah. Jika engkau mempunyai ketenangan untuk menanggungkan seratus hantaman, dengan memandang buah dan panen yang lahir melalui mereka, atau jika engkau diam-diam meyakini di dalam kalbumu, “Walaupun saat ini aku tidak melihat hasil-panen dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan meraih harta-karun,” bahwa engkau akan meraih harta-karun, itu benar adanya; dan yang jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan yang pernah engkau inginkan dan harapankan.
Jadi, justru di jalan Muhammad orang yang mau menikah seharusnya sepenuhnya menyadari bahwa sifat-sifat pasangan yang ‘buruk’ itu akan menempa kita, demi menjadi bijak, bersih, matang, dan suci, untuk meraih cinta tertinggi bagi masing-masing pasangan. Ini bahagia atau tidak bahagia? Tergantung cara memandang ‘kebahagiaan’. Bahagia kelas permen atau bahagia kelas langit.
Di sisi lain, Rasul melarang menikah tanpa cinta, sekalipun itu paksaan orangtua sendiri. Cinta adalah landasannya pernikahan. Tapi para pejalan ini tahu, bahwa hanya ada dua kemungkinan arah cinta di awal pernikahan itu: cinta itu akan mati saja, atau cinta itu akan mati dan tertransformasi menjadi cinta yang lebih tinggi, dalam tiap tahapan pernikahan. Itu artinya menanggung tempaan secara teratur, selang seling senang dan martil.
Sekarang, kalau saya ditanya, memang mau menempuh pernikahan seperti itu? Berani? Sejujurnya, rasanya nggak lah. Ke’sufi’an (dalam tanda kutip) yang saya punya paling juga masih sebatas wacana. No way. Not way. Saya juga tentu mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan saya. Tapi pada saat yang sama, juga mengharapkan adanya transformasi. Agaknya kalau mau enak semuanya itu jawaban hawa nafsu saya saja.
Kalau merenungi landasan pernikahan kami lumayan membuat saya ‘berkeringat dingin’. Bukan mikirin malam pertama, tapi mikir landasan pernikahan kami. Udah benar belum ya, landasannya, niatnya, paradigmanya, harapannya? Kalo salah gimana? Apa yang terjadi nanti? Apakah langgeng, berantem, bercerai? Kaya, melarat? Nggak tau. Mutlak nggak tau.
Saya hanya berharap semoga Allah tidak pernah meninggalkan kami, dan mencukupi kebutuhan kami lahir dan batin, jasad dan jiwa. Semoga dari ketidaktahuan itu akan lahir sebuah Keberserahdirian yang mendatangkan rahmat.
Islam, aslama, berserah diri. Makanya kata Rasul, menikah adalah setengah diin, diinul-Islam, jalan keberserahdirian. Sebuah kebergantungan hati yang mutlak kepada Allah ta’ala, no matter how good we are. That sense is so hard to accomplish.
Semoga Allah menguatkan kami dalam penempaannya. Semoga Allah berkenan hadir mengunjungi kami dalam kebahagiaan-kebahagiaannya. Ya Rabb, please be gentle with me. This is my first. Actually, You are my first.

Salaam,
–HerryMardian–

Nyatakanlah Nikmat Tuhanmu

Tinggalkan komentar

Khutbah ini diringkas dari sambutan Almukarom Kyai Moch. Muchtar Mu’thi, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Pondok Majmal Bahrain, Ploso Losari Jombang.
dalam acara pembukaan seminar Cinta Tanah Air, Bandung – Jawa Barat

Dalam rangka ikut mensyukuri nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia, pembahasan kami bertolak dari firman Alloh dalam Qs. Dhuha ; “Fa amma bini’mati robbika fahaddits (Dan kepada nikmat Tuhanmu maka nyatakanlah). Dalam ayat singkat itu ada tiga kalimat ; (1).Nikmat, (2). Robbika, dan kalimat perintah nyatakanlah (3). “fahaddits”.

Nikmat yang diterima bangsa Indonesia itu berupa, kemerdekaan dan kedaulatan Tanah Air Indonesia yang terdiri dari 17.000 pulau dan lebih dari 360 suku. Ini adalah nikmat yang harus dinyatakan (fahaddits). Pernyataan itu sebagaimana bunyi teks proklamasi yang ditujukan kepada seluruh bangsa Indonesia dan seluruh dunia oleh perwakilan bangsa Indonesia (Soekarno-Hatta), berbunyi

“PROKLAMASI”
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diseleng-garakan dengan cara seksama dan da-lam tempo yang sesingkat-singkatnya.
17 Agustus /8/ 1945
Jakarta, atas nama Bangsa Indonesia : SUKARNO – HATTA.

Pernyataaan nikmat itu antara lain ;

  1. Tentang nikmat kemerdekaan Bangsa Indonesia. “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Idonesia”
  2. Tentang pernyataan janji :
  3. Nikmat kemerdekaan itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya akan dipergunakan untuk mendi-rikan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Jadi pada tanggal 17 Agustus itu kemerdekaan Bangsa Indonesia, bukan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
  4. Tentang pernyataan tanggal 17 bulan 8 tahun 1945.
  5. Pada suatu saat, Sukarno ditanya oleh Sukarni. Mengapa tidak dipro-klamirkan pada malam ini saja yaitu tanggal 15 atau tanggl 16 ? Mengapa justru dipilih tanggal 17 Bung Karno menjawab “Saya tidak bisa mene-rangkan menurut pikiran saya, mengapa tanggal 17 kami pilih, tetapi di dalam keyakinan saya tanggal 17 itu ada penuh harapan.

Berdasarkan keyakinan saya ada lima alasan ;

  1. Sekarang ini bulan Romadlon, bulan suci.
  2. Sekarang ini ummat Islam seluruh dunia dan Indonesia sedang melak-sanakan puasa Romadlon.
  3. Aloh Ta’ala memilih turunnya Al-qur’an di bulan Romadlon tanggal 17.
  4. Kita umat Islam sehari semalam diwajibkan sholat 17 Roka’at.
  5. Nanti tanggal 17 Agustus itu hari Jum’at Legi.
  6. Pernyataan nama tempat : Jakarta
  7. 7. Pernyataan atas nama Bangsa Indonesia SUKARNO-HATTA

Inilah pernyataan yang dalam Al Qur’an fahaddits tentang nikmat kemerdekaan bangsa indonesia.
Pernyataan kedua mengenai Sumbernya Nikmat (Alloh), yang diabadikan dalam pembukaan UUD ‘45 alinea ke III. Berbunyi ; “Atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa. Dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berke-hidupan kebangsasan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerde-kaannya .
Jadi kemerdekaan Indonesia yang dinyatakan oleh dua orang proklamator tanggal 17 Agustus itu bukan atas kemampuan bangsa Indonesia tetapi karena pertolongan Alloh. Pada waktu itu bangsa Indonesia dalam keadaan lemah, bersenjata bambu runcing. Tidak mungkin bisa menghadapi kekuatan dua raksasa Jepang dan sekutu. Disitulah para pendahulu kita termasuk para ulama’ sadar, bahwa sumber nikmat itu dari Atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa.

Nikmat kemerdekaan itu terjadi pada bulan ke- 9 (bulan Romadlon), tanggal 9. Pada waktu itu umat Islam melaksanakan puasa Romadlon mendapat 9 hari. Jadi 9+9+9 = 27. Di dalam Alqur’an kata-kata Al Qodar hanya ada 3 kali yaitu didalam QS. Qodar, tersusun dari 9 huruf. Jadi 9 x 3 = 27. Begitu pula surat Qodar itu isinya 30 kalimat, kalimat yang ke 27 bunyinya : “hiya”. Hiya adalah “dia” Lailatul Qodar. Dalam hadits shoheh, lalilatul Qodar, nilainya semalam itu lebih baik dari pada seribu bulan terjadi pada tanggal 27 Romadlon. Maka bagi bangsa Indonesia, datangnya nikmat kemerdekaan itu lebih baik daripada 350 tahun lebih. Bukankah itu seperti lailatul Qodarnya bangsa Indonesia. Harinya Jum’at, dan menurut sabda Rosululloh bahwa keutamaan hari Jum’at di bulan Romadlon seperti keutamaannya bulan Romadlon melebihi seluruh bulan.
*****
“Dan bersyukurlah kamu pada Alloh, negara jadi thoyyibah dan Tuhan Maha Pengampun.” Satu-satunya jalan menuju negara thoyyibah harus memakai sistem syukur. Dan sistem syukur itu sudah diterapkan di UUD 45 dan Batang tubuh UUD ‘45.
Hakekat syukur menurut Imam Ghozali tersusun dari tiga unsur 1. Ilmin 2. Haalin. 3. Amalin. (lihat kitab Ihyaa Ulumuddin bab hadits syukur).
Makanya dalam kalimat syukur itu ada tiga titik (huruf Syien). Tiga titik itu mengandung maksud tiga hal :

  1. MENGETAHUI wujudnya nikmat dan darimana nikmat itu datangnya
  2. GEMBIRA karena mengetahui wujudnya nikmat itu dan
  3. AMAL yang meliputi perkataan, perbuatan dan hati. Manunggalnya tiga titik itulah hakikatnya syukur.

Selanjutnya, dalam teks proklamasi tanggal 17 Agustus itu ada pernyataan janji mendirikan negara dan melaku-kan perpindahan kekua-saan dari Jepang kepada kekuasaan pemerin-tahan kita dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kapan ? Pada tanggal 18 Agustus 1945 / 10 Roma-dlon. Kurang dari 15 menit negara berdiri, karena sudah sepakat, orang Hindu, Budha, Katolik Protestan semuanya sepakat mendirikan negara Republik Indonesia di atas dasar “kalimat titik temu” “Yang Maha Esa”, tauhid. Jadi bunyinya “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.” Yang memasukkan tiga kalimat itu 5 orang :
1. Drs Moch. Hatta
2. Kyai Haji Wahid Hasyim (tokoh NU)
3. Ki Hadi Kusumo (tokoh Muham-madiyyah)
4. Mr Hasan dari Aceh
5.Kasman Singodimejo
******
Pada waktu sumpah pemuda di situ muncul lagu kebangsaan Indonesia. Menyanyikan lagu kebangsaan Indone-sia Raya diperintahkan berdiri.
Apa maknanya ?
Berdiri itu makna tersurat, tapi apa yang tersurut di belakang berdiri? Semuanya itu ada diterangkan di dalam Al qur’an, surat Al Kahfi dan di dalam hadits ” Berdiriah kamu kepada pemimpin2-mu!” pemimpin yang membawa kamu ke arah kebaikan, kearah keadilan, kearah kejujuran.
Jadi kita menghormati isinya yang tersimpan dalam lagu kebangsaan Indonesia itu. Sanggup membela Ibu pertiwi, “Indonesia tanah air ku tanah tumpah darahku, disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku”
Mengapa kok di sana tidak disini ? Pemuda-pemuda jaman dahulu itu dari beberapa macam agama, berbagai macam suku pergi ke luar negeri belajar ke Eropa. Nun jauh disana pemuda-pemuda Indonesia itu membentuk organisasi untuk membela Ibu pertiwi, tidak sempat tergiur oleh keadaan di Eropa. Walaupun sudah memiliki ilmu kembali lagi ke Indo-nesia ini merapatkan barisan meng-adakan SUMPAH PEMUDA. Yang belajar ke luar negeri itu pandai bahasa Inggris, pandai bahasa Belanda, pandai bahasa Jerman, yang belajar di Mesir, pandai bahasa Arab. Tetapi setelah pulang ke Indonesia tetap menjunjung bahasa Negaranya sendiri, bahasa Indonesia. Tidak akan terpengaruh oleh bahasa Arab, atau Bahasa Inggris. Silahkan belajar Bahasa Arab, bahasa Inggris, itu pelengkap saja. Tapi jangan lupa bahasanya sendiri. Apalagi bahasa Indonesia sudah masuk dalam batang tubuh UUD 45. bahasa itu sebagian ayat Alloh, surat Nuh. Boleh kita pandai bahasa Inggris, boleh kita pandai bahasa Arab, boleh kita pandai bahasa Mandarin. Tapi Bahasa Indonesia yang menjadi identittas Indonesia ini jangan sampai dilupakan.*
Sumber : http://www.alkautsar-dhibra.com/index.php?pilih=hal&id=12
Dikutip dari : http://xendro.wordpress.com/2008/09/22/nyatakanlah-nikmat-tuhanmu

Teka teki Imam Al Ghazali dengan Muridnya

9 Komentar

imam-ghozali-01

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya, lalu beliau bertanya ( Teka Teki ) :

Imam Ghazali: “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?”
Murid 1: “Orang tua”
Murid 2: “Guru”
Murid 3: “Teman”
Murid 4: “Kaum kerabat”
Imam Ghazali: “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali: “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1: ” Negeri Cina “
Murid 2: “Bulan”
Murid 3: “Matahari”
Murid 4: “Bintang-bintang”
Iman Ghazali: “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

Iman Ghazali: “Apa yang paling besar didunia ini ?”
Murid 1: “Gunung”
Murid 2: “Matahari”
Murid 3: “Bumi”
Imam Ghazali: “Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

Imam Ghazali: “Apa yang paling berat didunia?”
Murid 1: “Baja”
Murid 2: “Besi”
Murid 3: “Gajah”
Imam Ghazali: “Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.”

Imam Ghazali: “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1: “Kapas”
Murid 2: “Angin “
Murid 3: “Debu”
Murid 4: “Daun-daun”
Imam Ghazali: “Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan shalat “

Imam Ghazali: “Apa yang paling tajam sekali didunia ini ?”
Murid- Murid dengan serentak menjawab: ” Pedang “
Imam Ghazali: ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasan saudaranya sendiri.

Sumber : Cahaya Sufi

Tingkatan Sabar Bagi Kaum Sufi

Tinggalkan komentar

Al-Syibli, seorang sufi, ditanya oleh seorang pemuda mengenai sabar.

”Sabar macam apa yang paling sulit?” tanya pemuda itu.

”Sabar demi Allah,” jawab Al-Syibli.

”Bukan,” tolak si pemuda.

”Sabar dalam Allah,” jawab Al-Syibli.

”Bukan,” katanya.

”Sabar dengan Allah,” ucapnya.

”Bukan,” bantahnya. ”

Terkutuklah kamu, sabar macam apa itu?” kata Al-Syibli jengkel.

”Sabar dari Allah,” jawab pemuda itu.

Al-Syibli menangis, lalu pingsan.

Dialog ini menjelaskan kepada kita mengenai tingkatan sabar bagi kaum sufi. Sabar dari Allah (ash-shabr ‘an Allah) paling sulit ditempuh dari tingkatan sabar lainnya. Untuk mencapai maqam ini, Ali bin Abi Thalib selalu berdoa, ”Ya, Tuhanku, Junjunganku, Pelindungku! Sekiranya aku bersabar menanggung siksa-Mu, bagaimana aku mampu bersabar berpisah dari-Mu?!”

Dalam literatur tasawuf, sabar (sabr) salah satu maqam, selain zuhd, ma’rifah, mahabbah, tawbah, wara,’ faqr, tawakkal, dan ridha. Menurut Nashiruddin Al-Thusi dalam Manazil Al-Sa’irin, ”Sabar membuat batin tidak sedih, lidah tidak mengeluh, dan anggota badan tidak melakukan gerakan-gerakan.”

Sedang bagi orang awam seperti kita, ada tiga tingkatan sabar seperti dijelaskan Nabi Muhammad SAW dalam Al-Kafi. Ali bin Abi Thalib berkata, ”Rasulullah bersabda, ‘Ada tiga macam sabar: sabar ketika menderita, sabar dalam ketaatan, dan sabar untuk tidak membuat maksiat.

Orang yang menanggung derita dengan sabar dan senang hati, maka Allah menuliskan baginya tiga ratus derajat (yang tinggi), ketinggian satu derajat atas derajat lainnya seperti jarak antara bumi dan langit. Dan orang yang sabar dalam ketaatan, maka Allah menuliskan baginya enam ratus derajat (yang tinggi), ketinggian satu derajat atas derajat lainnya seperti derajat antara dalamnya bumi dan ‘Arsya. Dan orang yang sabar untuk tidak berbuat maksiat, maka Allah menuliskan baginya sembilan ratus derajat (yang tinggi), ketinggian satu derajat atas derajat lainnya seperti jarak antara dalamnya bumi dan batas-batas terjauh ‘Arsy.”

Sabar ketika menderita berarti kita tabah menghadapi musibah dan bencana yang ditimpakan oleh Allah (Q.S. 2:155-57), sebagai ujian untuk menyadarkan kita. Sabar dalam ketaatan berarti kita menahan kesusahan dalam menjalankan ibadah. Contoh konkret, para calhaj harus bersabar ketika pemberangkatannya tertunda. Sabar dalam musibah adalah sumber ridha atau puas menerima takdir Allah. Sabar dalam ketaatan merupakan sumber keakraban dengan Allah. Dan, sabar tidak berbuat dosa adalah sumber ketakwaan diri kepada Allah.- ah

By Republika Contributor, Republika Online
Kamis, 30 Oktober 2008 pukul 16:02:00

Sufisme : Rambah Kota Ikat Umat

1 Komentar

Majalah Gatra, Nomor 46/VI, 30 September 2000.

Minat masyarakat perkotaan untuk mengkaji dan mengamalkan ajaran sufi makin marak. Ada yang memasuki tarekat tertentu. Ada yang menyukai wirid-wirid pendek. Silakan pilih.

DALAM dasawarsa terakhir ini, komunitas sufi mewarnai kehidupan perkotaan. Tak sedikit dari kalangan eksekutif dan selebriti menjadi peserta kursus atau terlibat dalam suatu komunitas tarekat tertentu. Alasan mereka mencebur ke sana memang beraneka ragam. Misalnya, mengejar ketenangan batin atau demi menyelaraskan kehidupan yang gamang.

Gerakan bersufi-ria itu terekam dari kegiatan diskusi serta seminar yang bertemakan tasawuf. Jumat malam dua pekan lalu, misalnya, kala “membedah” pemikiran Jalaluddin Rumi di Hotel Regent Jakarta, pesertanya membludak. Anand Krishna, Dr. Mulyadhi Kartanegara, dan Prof. Nurcholish Madjid hadir sebagai pembicara. Panitia yang menyediakan tempat duduk 250-an tak mampu menampung pengunjung yang sekitar 400 orang. Mereka pun rela duduk di lantai atau berdiri berimpitan.

Situasi serupa terjadi pada 25 Februari lalu, kala Annemarie Schimmel berbicara tentang sufisme di Perpustakaan Nasional, Jalan Salemba, Jakarta Pusat. Guru besar kultur indo-Islam dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, itu seolah menyihir ratusan peserta diskusi untuk tak beranjak dari tempat duduknya hingga acara usai.

Bukan hanya kursus, diskusi, atau seminar yang diminati banyak peserta. Buku-buku terbitan Mizan (Bandung), Pustaka Progressife (Surabaya), serta Paramadina dan Gramedia -keduanya di Jakarta- yang berkaitan dengan tasawuf selalu laris manis. Pembaca seakan tetap diburu kehausan, kendati sudah dijejali berbagai bacaan tasawuf.

Tak mengherankan jika Sufi -majalah bulanan yang terbit sejak Mei lalu- dalam waktu singkat bisa bertiras 20.000 eksemplar. “Dari nomor ke nomor, tirasnya terus bertambah,” kata Mohammad Luqman Hakiem, Kepala Editor Sufi, kepada Gatra. “Para pelanggannya justru banyak dari mereka yang berkantor di Jalan Sudirman, Thamrin, dan Rasuna Said,” Amal Alghozali, Pemimpin Perusahaan Sufi, menimpali.

Itu pula sebabnya, gejala “sufisme kota” di Indonesia menarik diteliti. Dua perguruan tinggi Indonesia dan Australia pun bekerja sama untuk mengadakan penelitian. Selama dua hari, 8-9 September lalu, berlangsung research workshop antara IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Universitas Griffith Brisbane, Australia.

Acara yang berlangsung di lantai III Gedung Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat, IAIN Jakarta, ini menghadirkan sejumlah pakar tasawuf (Jalaluddin Rakhmat, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Kautsar Azhari Noor, Moeslim Abdurrahman, dan Julia D. Howell). Mereka berdiskusi dan merancang desain penelitian tentang peta model-model sufisme perkotaan di Indonesia.

Secara antropologis, sufisme kota dikenal sebagai trend baru di Indonesia sepanjang dua dekade ini. Sebelumnya, sufisme lebih dikenal sebagai gejala beragama di pedesaan. Sufisme kota, kata Moeslim Abdurrahman, bisa terjadi minimal karena dua hal.

Pertama, hijrahnya para pengamal tasawuf dari desa ke kota, lalu membentuk jamaah atau kursus tasawuf. Kedua, sejumlah orang kota “bermasalah” tengah mencari ketenangan ke pusat-pusat tasawuf di desa. Adapun sufisme secara sederhana didefinisikan sebagai gejala minat masyarakat pada tasawuf. Sufisme adalah istilah yang populer dalam literatur Barat (sufism), sedangkan dalam literatur Arab dan Indonesia hingga 1980-an adalah “tasawuf”.

Direktur Tazkiya Sejati, Jalaluddin Rakhmat, berpendapat bahwa sufisme diminati masyarakat kota sebagai alternatif terhadap bentuk-bentuk keagamaan yang kaku. “Sufisme juga menjadi jalan untuk pembebasan,” katanya.

Adalah Azyumardi Azra, Rektor IAIN Jakarta, yang memetakan dua model utama sufisme masyarakat kota dewasa ini. Pertama, sufisme kontemporer -biasanya berciri longgar dan terbuka (siapa pun bisa masuk)- yang aktivitasnya tidak menjiplak model sufi sebelumnya. Model ini dapat dilihat dalam kelompok-kelompok pengajian “eksekutif”, seperti Paramadina, Tazkiya Sejati, Grand Wijaya, dan IIMaN. Model ini pula yang berkembang di kampus-kampus perguruan tinggi umum.

Kedua, sufisme konvensional. Yaitu gaya sufisme yang pernah ada sebelumnya dan kini diminati kembali. Model ini ada yang berbentuk tarekat (Qadiriyah wa-Naqsabandiyah, Syatariyah, Syadziliyah, dan lain-lain), ada juga yang nontarekat (banyak dianut kalangan Muhammadiyah yang merujuk pada tasawuf Buya Hamka dan Syekh Khatib al-Minangkabawi).

Di kalangan elite di Jakarta, selain Paramadina, Tazkiya Sejati, dan IIMaN, juga ada kelompok pengajian Grand Wijaya yang berlokasi di daerah Melawai, Jakarta Selatan. Diasuh oleh Asep Usman Ismail, MA, dengan jumlah peserta mencapai 30 orang, dari kalangan menengah-atas. Pendidikan mereka minimal sarjana, bahkan ada beberapa yang lulusan S-2 atau S-3. Mereka bekerja di sektor pemerintah atau badan usaha milik negara. Banyak juga pensiunan. Ada mantan Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai, mantan pejabat eselon II di Departemen Keuangan, dan mantan pengacara. Ibu rumah tangga juga tak sedikit.

Sementara itu, di Jalan Gaharu I Nomor 9, Cipete, Jakarta Selatan, tak kurang dari 100 jamaah berpakaian putih (dilarang berpakaian merah) setiap malam memadati rumah berlantai dua milik Haji Bambang Widiarsono, 53 tahun. Mereka adalah jamaah Majlis Tasbih, kelompok tasawuf yang tiap malam melakukan zikir dan doa sehabis salat magrib dan isya. Khusus untuk malam Jumat, jamaahnya mencapai 300 orang. Selain berzikir, mereka juga melakukan salat tasbih dua rakaat.

Jamaah yang menjadi anggota majlis ini adalah mereka yang pernah berkonsultasi untuk penyembuhan penyakit yang dideritanya. Mereka mendapat terapi penyembuhan melalui zikir sehabis salat isya. “Lamanya zikir tergantung tingkat masalah dihadapi pasien,” ujar Bambang. “Kalau yang ringan, cukup mengikuti zikir selama seminggu, sedangkan yang berat bisa sampai 40 hari,” ujarnya. Selagi berdoa dan berzikir, mereka dibimbing seorang imam.

Di kalangan mahasiswa, antara lain, ada Forum Kajian Tazkiyatun Nafs Universitas Indonesia (FKTN-UI). Ini forum pengajian terstruktur Islam dengan pendekatan tasawuf. Tujuannya, memberi pemahaman pengetahuan bertobat, pengetahuan membersihkan hati dan jiwa, serta pengetahuan tentang jalan menuju Allah. Setelah mengikuti kajian, peserta diharapkan menjadi lebih sadar tentang dirinya dan tugasnya di dunia.

“Forum ini tidak mengikat dan tidak mengarahkan peserta ke dalam jamaah apa pun serta ordo tarekat mana pun,” kata Herry Mardianto, 26 tahun, salah seorang pendiri FKTN-UI. Setelah materi pengajian selesai, peserta dibebaskan berpencar mencari jalan masing-masing, dengan harapan menjadi lebih tergugah untuk memperbaiki diri dan memulai hidupnya dengan lebih Islami secara menyeluruh.

Di Bandung, ada Paramartha International Centre for Tashawwuf Studies (PICTS), yang bermarkas di Jalan Dago Pojok 37E/161B. PICTS adalah satu divisi di bawah Yayasan Islam Paramartha, yang khusus bergerak dalam kajian tasawuf. Khazanah tasawuf bertebaran di berbagai pelosok dunia Islam bak mutiara terpendam. Kekayaan ini menunggu diangkat, ditelaah, dan diintegrasikan satu sama lain agar membentuk kalung mutiara, yang bisa dinikmati dan didudukkan dalam konteks Islam yang semestinya. Itulah obsesi PICTS.

Maka, PICTS mencoba mengangkat khazanah tasawuf Indonesia ke tataran internasional. Khazanah Bhagdadi (Timur Tengah), yang selama ini mendominasi kajian tasawuf, dirasa makin lengkap bila ditautkan padanya berbagai mutiara lain yang selama ini “terpinggirkan”, seperti halnya khazanah tasawuf di Tanah Air.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, ada Forum Kajian Tasawuf Makassar dengan nama kajian “Serambi Suluk”. Menurut Imam Suhadi, mentor forum kajian itu, umumnya peserta yang memasuki forum kajian ini merasakan bahwa ajaran agama yang mereka peroleh terasa kering. “Mereka merasa kering dengan ritualitas-ritualitas keagamaan yang mereka tak mengerti visi dan tahapannya,” kata Imam kepada Zaenal Dalle dari Gatra. Jumlah anggotanya sekitar 30 orang.

Karena itu, kajian Serambi Suluk mempunyai beberapa tujuan, antara lain membuka wawasan dalam memandang ad-dien Islam dalam perspektif tasawuf, dan menuntun para pencari jalan menuju Allah Ta’ala. Sesuai dengan namanya, Serambi Suluk, menurut Imam, bermakna persiapan untuk berjalan menuju Allah Ta’ala.

Ada beberapa aktivitas yang dilakukan Forum Kajian Tasawuf Makassar, antara lain melakukan kajian darat Serambi Suluk setiap Sabtu dan Minggu, diskusi virtual melalui mailing list suluk@egroups.com, memublikasikan kajian-kajian melalui internet dengan alamat http://suluk.paramartha.org. Forum kajian ini, pekan lalu, meluncurkan jurnal dwimingguan, Risalah Taubat.

Bila ditilik dari jumlah pengikutnya, tarekat terbesar di Indonesia adalah Qadiriyah wa-Naqsabandiyah (TQN). Tarekat inilah yang akhir-akhir ini kian menarik perhatian masyarakat Jakarta. Saat ini, lokasi pembacaan manakib (biografi Abdul Qadir Jailani) dan khataman TQN tak kurang dari 110 tempat di Jakarta.

Dalam semalam, minimal ada tiga tempat untuk manakiban dan khataman. Mereka dibimbing sekitar 30 mubalig. Sesepuh TQN se-Jakarta dan sekitarnya adalah KH Abdul Rosyid Effendy, 61 tahun. Jumlah jamaah TQN se-Jakarta sekitar satu juta orang. Se-Indonesia sekitar tiga juta orang. Dalam tiap malam, manakiban di Jakarta, kata Rosyid, kini diikuti 20-30 orang baru.

Pengikut TQN tidak hanya kelas atas, melainkan dari semua lapisan, termasuk kelas bawah. Menurut Ketua Wilayah TQN Jakarta Utara, Maksum Saputra, ikhwan-ikhwan (anggota) TQN di wilayahnya banyak dari kalangan nelayan dan penjual ikan. Di Ciputat, Jakarta Selatan, antara lain diikuti pengusaha kerupuk dan kondektur bus. Di samping itu, banyak juga mantan menteri, artis, pengusaha, dan pejabat tinggi negara yang bersedia dibaiat menjadi jamaah TQN.

Menurut Rosyid, yang sejak 1994 diangkat sebagai Wakil Talqin (Khalifatul Mursyid) Abah Anom -yang bermukim di Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat- di Jakarta ini, masuk TQN tidak sulit. Cukup mengikuti acara manakiban, lalu diberi pengarahan sekitar setengah jam, ditalkin zikir sekitar lima menit, dan dibaiat. Baiat berisi janji setia pada Tuhan untuk menjalani amalan dalam TQN. Amalan itu intinya berisi zikir dzahir (bersuara) dan khafi (tak bersuara).

Di Jawa Timur, juga banyak aliran tarekat yang diserbu pengikut. Termasuk tarekat langka yang lama tenggelam. Di Dukuh Selamet, Desa Wringin Anom, Kecamatan Tumpang, Malang, ada tarekat Akmaliyah. Tarekat ini melanjutkan ajaran Syekh Siti Jenar, yang dipopulerkan Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir, Raja Pajang).

Tarekat Akmaliyah menganut paham teologi pembebasan. Bahwa setiap manusia berhak bertemu Tuhannya. Tarekat ini tak mengangkat mursyid sebagaimana aliran lainnya. Hanya ada semacam koordinator, dalam hal ini Kiai Ahmad, seorang petani biasa di Desa Wringin Anom itu. Lelakunya ringan, jumlah zikirnya tak dibatasi bilangan, disesuaikan dengan kemampuan, dan waktunya bebas.

Alumninya berjumlah ratusan. Antara lain Drs. Agus Sunyoto, MPd, 41 tahun. Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Malang ini bergabung dengan tarekat Akmaliyah setahun lalu. Tarikat ini tak mengenal pemondokan dan pembaiatan. Setelah berdiskusi dengan Kiai Amad untuk meluruskan persepsi, jamaah bisa wiridan sendiri di rumahnya. “Tarekat ini cocok untuk orang sibuk,” ujar Agus. Menurut dia, tarekat Akmaliyah mampu menghubungkan manusia kepada roh Allah. “Akibatnya, hidup jadi lebih ringan,” katanya.

Asep Usman Ismail, kandidat doktor bidang tasawuf dari IAIN Jakarta, menilai bahwa tasawuf model tarekat lebih diterima kalangan menengah ke bawah. “Sementara kalangan menengah ke atas cenderung memilih tasawuf nontarekat,” tuturnya.

“Tasawuf yang diminati masyarakat kota jelas bukan model tarekat,” kata Asep. Mereka tidak berorientasi pada tasawuf klasik, seperti model tarekat dengan segala riyadhah-nya (pelatihan). “Itu tidak diminati, kecuali tarekat yang bisa menyesuaikan dengan suasana perkotaan,” ia menambahkan.

Bentuknya tentu yang singkat, esensial, dan instan. Dunia tasawuf bagi masyarakat kota, masih kata Asep, semacam obat gigi. “Saya resah, saya menemukan problem, saya stres, maka saya belajar tasawuf agar memperoleh ketenangan,” ujar Asep, menirukan keluhan para pengikut tarekat di kalangan perkotaan itu.

Asep juga menilai, dari lima komponen tarekat: mursyid, murid, wirid, tata tertib, dan tempat, yang paling berat bagi masyarakat kota adalah wirid dan tata tertib. Adapun tata tertib yang paling tidak masuk dalam logika orang modern adalah baiat kesetiaannya kepada guru. “Mereka ingin bebas tanpa baiat, dan tak mau terjebak kultus,” kata Asep. Orang-orang kota juga tidak berminat pada zikir yang panjang-panjang, apalagi harus berpuasa.

Nah, banyak jalan menuju sufisme, silakan Anda pilih yang sesuai dengan selera.***[]

(Herry Mohammad, Asrori S. Karni, Kholis Bahtiar Bakri, dan Mujib Rahman)

Dikutip dari www. Suluk.blogsome.com

Posted by Herry @ 13:34 | in Artikel | e-mail this article | + to del.icio.us | TrackBack

Older Entries Newer Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.