Gelengan Zikir

Tinggalkan komentar

Sumber : dikutip dari blog Bahrus Shofa

Ikhwah, rezeki semuanya daripada pemberian Allah, dah jadi rezeki mike Ukhtina Mardhiah, tergolek bahan untuk aku buat posting pertanyaanmu. Aku cakap pasal gaya-gaya zikir dulu, hak lain tunggu dulu noooo. Ikhwah, yang kumaksudkan dengan gaya di sini ialah perlakuan zahir seseorang tatkala berzikir, yakni biasa kita lihat sewaktu berzikir ada yang mengeleng – gelengkan kepalanya ke kiri ke kanan dan sebagainya. Bagi sebahagian orang yang menerima baiah thoriqat, maka dalam ijazah zikir mereka diajar gaya-gaya tertentu sewaktu melaksanakan zikir tersebut dengan falsafahnya masing-masing.

  • Ada yang mengajar agar tarikan kalimah “Laa” itu bermula dari bawah pusat, kemudian dibawa sehingga ke dahi kemudian diturunkan kalimah “ilaha” ke bahu kiri dan akhirnya dipalu kalimah “Allah” terus masuk ke dalam hati sanubari.
  • Ada yang menarik kalimah “La ilaha” daripada hati sanubari sebagai isyarat mengeluarkan dan menafikan segala aghyar yang ada di dalamnya, kemudian dilontarkan ke belakang melalui bahu kanan, kemudian dikembalikan kalimah “illa” ke bahu kanan dan dipukul kalimah “Allah” ke dalam hati sanubari.

Gaya-gaya ini biasanya diajar oleh syaikh yang mursyid kepada anak muridnya sewaktu menerima baiah thoriqat mereka. Bagi yang bukan ahlinya maka mereka memandang sinis perlakuan ini tanpa terlebih dahulu melihat dan mengkaji dalil dan alasan mereka berbuat sedemikian. Oleh itu, kalau nak tahu pergilah bertanya dengan mereka-mereka yang ahlinya, seperti Ustaz Jahid Haji Sidek, Prof. Dr. Harun Din dan sebagainya. Jangan tanya ngan THTL, MAZA, pilot, karang percuma free je kena bid`ah haarrrrraammmmmm.

Bagi orang awam yang tidak berthoriqah seperti di atas, mereka juga apabila berzikir, kebiasaannya dan pada umumnya, bergerak-gerak dan tergeleng-geleng kepala mereka. Sebenarnya semua ini punya sebab, alasan dan dalil. Antaranya ialah riwayat daripada Sayyidina Ali r.a. yang mensifatkan perlakuan para sahabat antaranya:-

فإذا أصبحوا فذكروا الله مادوا كما يميد الشجر في يوم الريح

fa idza ashbahuu fa dzakarUllah maaduu kamaa yamiidusy syajar fi yawmir riih” yang bermaksud: “para sahabat apabila mereka berpagi-pagi mereka berzikrullah dalam keadaan bergerak (bergoyang) seperti goyangan pokok-pokok pada hari berangin.”

Perkara ini juga disebut oleh Mufti Syaikh Ahmad bin Muhammad Sa`id Linggi dalam kitabnya “Faraa-idul Maatsir al-Marwiyyah lith Thoriqah al-Ahmadiyyah” di mana pada mukasurat 56 sebagai berikut:-

* Al-Hafidz Abu Nu`aim meriwayatkan bahawa as-Sayyid al-Jalil al-Fudhail bin ‘Iyyadh berkata:- “Sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. apabila berzikir mereka menggerakkan badan condong ke kiri ke kanan seperti pohon kayu yang condong ditiup angin kuat.” Inilah di antara cara berzikir untuk keterangan lanjut mengenai cara ini, hendaklah ia menggerakkan tubuh badannya condong ke sebelah kanan memulakan dengan perkataan nafi “La” (daripada ayat tahlil La ilaha illa Allah) di sebelah kanan kerana nafsu yang condong kepada kejahatan ada di sebelah kanan. Kemudian menyebut lafaz “Allah” ketika badannya condong ke sebelah kiri, supaya hati menerima segala cahaya dan rahsia lafaz “Allah”.

Ustadz Muhibbul Aman Aly, pengasuh ruangan Istifta, Majalah Dakwah Bulanan terbitan Habib Taufiq as-Segaf dengan nama “Cahaya Nabawiy” dalam edisi 44 Th. IV Sya’ban-Ramadhan 1427H/September – Oktober 2006M telah ditanya mengenai dalil yang menjelaskan tentang cara membaca tahlil yang menoleh ke kanan dan ke kiri. Soalan tersebut dijawab:-

* Sebenarnya tidak ada keharusan (peringatan: “harus” di sini mengikut pengertian bahasa Indonesia yang bererti “wajib atau mesti” dalam bahasa kita, jadi makna “tidak ada keharusan” ertinya “tidak ada kewajipan atau kemestian”, fahami betul-betul jangan salah faham karang sosat jalan) menggerak-gerakkan kepada ke kanan dan ke kiri dalam tatacara membaca kalimat tahlil. Akan tetapi jika cara itu dapat menambah kekhusyu’an pembaca dalam menghayati makna kalimat, maka hukumnya sunnah.

Sedangkan cara yang umum adalah menoleh ke kanan pada kalimah nafi (la ilaha) dan menoleh ke kiri pada kalimah itsbat (illaAllah). Cara ini berdasarkan riwayat hadits yang artinya:- Berkata Rasulullah s.a.w. kepada ‘Ali kw.: “Dengarkan perkataanku tiga kali, kemudian tirukan tiga kali dan aku mendengarkannya”. Lalu Rasulullah s.a.w. mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’ tiga kali dengan menoleh ke kanan pada kalimah nafi dan menoleh ke kiri dalam kalimah itsbat sambil memejamkan matanya.

Demikian juga tentang gerakan badan secara spontan yang biasa dijumpai pada saat berdzikir, hukumnya adalah boleh. Karena gerakan itu merupakan reaksi spontan yang wajar ketika perasaan sedang terbawa oleh bacaan dzikir. Lihat: Bariqoh Mahmudiyah juz IV hal. 139 – 140, Mausu`ah Yusufiah hal 175.

Oleh itu, janganlah dibesar-besarkan masalah manusia berzikir dengan gerakan badan dan gelengan kepala. Aku sendiri kalau berzikir dengan duduk diam je samalah macam berjalan tak hayun tangan gamaknye, macam robot. Apa yang lebih patut difikirkan kita dan mereka yang seberang tu ialah anak-anak muda termasuk juga kekadang anak-anak tua, yang tergeleng-geleng, terloncat-loncat kat konsert Jom Heboh yang turut diadakan di Negeri Darus Sunnah yang langsung tidak sunnah. Sebenarnya banyak lagi dalil, cuma aku tak larat nak muatkan di sini. Insya-Allah, ada kesempatan di lain ketika, dua`ukum.

Allah Tidak Pernah Menunda BalasanNya

Tinggalkan komentar

 

“Maha Besar Allah manakala si hamba melakukan amal ibadah kontan, lalu Allah menunda balasannya”

Allah senantiasa membalas amal hamba seketika, sama sekali tidak pernah menunda, walau pun kelak di akhirat masih diberi balasan lebih besar lagi.

Adapun balasan seketika yang kita terima adalah bertambahnya dekat kita kepada Allah, bertambah baik hati kita, bertambah terpuji akhlak kita, bertambah sabar, tawakkal, ridlo, ikhlas, yaqin, ma’rifat dan mahabbah kita kepada Allah Ta’ala.’

Dunia ini kotor, dan karena itu Allah ingin membalasnya dengan keagungan yang luhur yang kelak bisa kita rasakan ketika di akhirat yang merupakan wilayah yang agung. Balasan yang kita terima di dunia adalah balasan langsungnya berupa pencahayaan iman kita di sini, karena memang itulah yang kita butuhkan di dunia.

Kenapa demikian? Menurut Syeikh Zarruq, karena ada tiga alasan utama :
Pertama, Allah Maha Murah dan Mulia dan Yang Maha Murah nan Mulia itu manakala memberikan anugerah pasti sempurna, dan memberikan keutamaan pasti sampai.

Kedua, seorang hamba sesungguhnya sangat faqir kepada Allah, membutuhkan hajat seketika dan hajat yang akan datang, lalu Allah memberikan yang dibutuhkan hambanya berupa pahala dan kebajikan kelak di akhirat.

Ketiga, maksud Allah Ta’ala pada hamba-hambaNya yang ikhlas adalah menunggalkan DiriNya dalam hati hamba, kemudian Allah mempertegas apa yang harus dihadapi si hamba. Dan kalau toh pun balasannya dibalik ketaatan hamba berupa Taufiq, maka itu klebih dari cukup bagi si hamba. Karena itu Ibnu Athaillah as-Sakandary melanjutkan:

“Cukuplah bahwa yang disebut balasan bagimu, adalah, bahwa Allah Ridlo padamu sebagai hamba yang taat kepadaNya.”

Sebab yang layak bagi kita semua tak lebih adalah serba kurang yang melekat pada diri kita, sifat kurang yang lazim dan niscaya. Sedangkan hasrat untuk meraih kesempurnaan diri kita tidak akan pernah bisa diraih kecuali berkat rahmat dan fadhalNya, sebagaimana dalam Al-Qur’an dijelaskan: “Kalau bukan karena fadlanya Allah padamu dan rahmatNya, kalian tidak akan pernah bisa bersih dari dosa.” (an-Nuur 21)

“Kalau bukan karena fadhal Allah dan rahmatNya, niscaya kalian mengikuti syetan, kecuali hanya sedikit (yang tidak mengikuti).” (an-Nisa, 23)

“Tetapi sesungguhnya Allah menganugerahi kamu dengan memberikan hidayah bagi iman, manakala kamu jujur.” (Al-Hujurat 17)

Penjelasannya:

  • Taat merupakan kesempurnaan bagimu yang didalamnya ada TaufiqNya dalam rangka menyempurnakan dirimu.
  • Taat merupakan rasa aman bagimu di dunia dan akhirat, dan segala apa yang anda raih bermula dari rasa aman anda.
  • Bahwa anda bisa taat, berarti itu merupakan kemuliaan bagimu di dunia dan di akhirat, berupa keistemewaan, disamping adanya pahala.

Bahkan beliau melanjutkan:
“Cukuplah balasan bagi orang-orang yang beramal ibadah, bahwa Allah membukakan hatinya di dalam ibadahnya, dan segala anugerah yang melimpah pada mereka berupa kemesraan denganNya.”

Keindahan taat dan kemanisan mesra bersama Allah dalam munajat merupakan anugerah dan sekaligus balasan ngsung atas kepatuhaan kita kepadaNya, bahkan kebeningan jiwa yang memancarkan cahaya di ruang batin kita.

Oleh sebab itu sebagian Sufi mengatakan, “Di dunia ini ada syura, siapa yang masuk syurga di dunia ini, ia tidak lagi rindu pada syurga di akhirat bahkan tidak pada sesuatu pun yang diinginkan, dan syurga itu adalah Taat kepada Allagh Azza wa-Jalla.”

Yang lain menegaskan, “Tak ada yang menyerupai nikmat syurga, kecuali dirasakan kalangan yang bergantrung hatinya kepada Allah di malam hari melalui lezatnya munajat.”

Dalam Al-Qur’an dijelakan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka Yang Maha Rahman akan menjadikan bagi mereka rasa cinta yang dalam.” (Maryam: 96).

Sumber : Cahaya Sufi

“Quantum Leap” Melipat Ruang Waktu yang Hakiki Sapu Jagad Dunia Sufi

Tinggalkan komentar

“Lipatan (ruang waktu) yang hakiki, adalah hendaknya anda menempuh lipatan dunia dari dirimu, sehingga engkau lihat akhirat lebih dekat padamu dibanding dekatnya pada dirimu.”

Sebuah statemen ruhani yang luar biasa dari Ibnu Athaillah as-Sakandary, menghentak perjalanan ilmu pengetahuan, amaliyah, maqomat dan haal (kondisi ruhani). Inilah yang saya sebut sebagai “kejutan spiritual” yang hakiki dari seluruh perjalanan dan kehebatan para penempuh Jalan Allah (thoriqoh). Dalam ilustrasi fiktif yang pernah ditayangkan dalam kisah bersambung dari Amerika Serikat, mengenai kehebatan manusia menembus waktu masa depan dan masa lalu dalam film serial Quantum Leap dua dasawarsa silam, menggambarkan kemampuan ilmu pengetahuan manusia – dalam sekejap – bertemu dengan manusia ribuan tahun yang lampau dengan segala peradabannya, sekaligus juga menembus dimensi waktu ribuan tahun di masa depan.

Kemudian secara teknikal muncul fiksi-fiksi ilmiyah dalam dunia cinema yang erat hubungannya dengan fisika quantum ini, yang secara teknologis digambarkan dalam film-film Perang Bintang, maupun film popular Matrix. Sebuah peradaban manusia yang imajinal, kreatif dan jenius. Gambaran-gambaran kemasadepanan peradaban, bahkan evolusi pengetahuan yang sangat transparan dipaparkan begitu dramatik oleh para seniman besar dari Barat.

Kemudian ditiru dalam sinetron Lorong Waktu di televisi kita.Lalu dunia seperti tersihir begitu saja oleh kemampuan imajinasi tersebut, dan sebegitu ironis, ketika manusia modern melihat ilustrasi-ilustrasi di atas, tanpa terbesit sedikitpun kohesi dan keterlibatan Allah dalam seluruh proses saintis tersebut.Semuanya baru menggambarkan eksplorasi kekuatan alam fikiran manusia, tetapi belum menyentuh eksplorasi kekuatan qalbu, apalagi ruh dan rahasia-rahasia Ilahi dalam ruh (asrar) manusia.

Tetapi, sesungguhnya – tanpa harus berapologia – dimensi-dimensi teknikal dan sains modern dimata kaum Sufi dinilai sebagai sesuatu yang sudah kuno. Bedanya, kaum Sufi telah melampaui bahkan atas kemampuan-kemampuan “ajaib” dari para saintis modern, tanpa harus menjelaskan secara iptek.Para Sufi generasi kuno telah sampai pada batas fiksi kaum modern. Jika kaum modern baru tahap imajiner fiksional, maka kaum Sufi dahulu kala telah sampai pada realitas yang dialami dengan sesungguhnya.

Antara Hambatan dan Anugerah

Tinggalkan komentar

 

Pemberian dari makhluk itu bisa merupakan penghalang, sedangkan halangan dari Allah itu adalah anugerah.

Kenapa demikian? Karena halangan dari Allah justru mendorong seseorang untuk kembali cepat menuju kepadaNya dan terus mengabadikan diri di hadapanNya, disamping memberikan peluang ikhtiar bagi diri anda. Karena mana mungkin Dia menghalangimu, sedangkan Dia tidak pernah pelit, tidak butuh apa-apa, dan selalu Ada? Bahwa Dia menghalangimu semata karena kasih sayang-Nya kepadamu.

Karena pemberian dari-Nya itulah pemberian yang sesungguhnya dan terhalangnya keinginanmu itulah kenyataan dari anugerah pemberian-Nya. Pandangan ini hanya bisa dimengerti oleh orang yang memahamiNya. Tidak ada yang memahami kecuali orang yang benar hatinya.

Syeikh Muhyiddin Ibnu Araby mengatakan, :

“Apabila Allah menghalangimu, maka itulah pemberian-Nya. Dan manakala Allah memberi sesuatu padamu, maka itulah halangan-Nya. Maka pilihlah untuk tidak mengambil.”

Maksudnya jika pemberian itu justru menghalangimu dari Allah maka itu bukan pemberian yang hakiki, karena itu harus dihindari.

Sedangkan kata-kata Ibnu Athaillah, bahwa pemberian dari makhluk itu dinilai sebagai penghalang, menurut Syeikh Zarruq karena tiga alasan :

  1. Terjadinya ketergantungan dengan makhluk. Seorang bijak berkata, “Sabar terhadap ketiadaan itu lebih mudah ketimbang orang yang tergantung dengan anugerah orang.”
  2. Lebih berpihak kepada makhluk dan merasa senang dengan pemberian makhluk (bukan pemberian Allah). Manakala seseorang mulai bergantung pada makhluk, itulah awal dari bencana penjauhan dirimu dengan Allah Ta’ala. Na’udzubillah.
  3. Lebih banyak bersibuk ria dengan mereka dengan asumsi adanya rasa selamat manakala bergantung dengan mereka. Si bijak berkata, “Harga diri yang bersih itu lebih utama ketimbang kesenangan yang berbuntut dibaliknya.”

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily menegaskan, :

“Hendaknya lari dari kebaikan sesama itu lebih anda utamakan dibanding lari dari keburukan mereka. Sebab kebaikan mereka itu bisa menimpa hatimu, sementara keburukan mereka hanya menimpa badanmu. Musuh yang bisa mengembalikan dirimu kepada Allah itu lebih baik ketimbang sahabat yang menghalangimu menuju Allah Ta’ala.”

Sayyidina Ali Karmomallahu Wajhah mengatakan, “Jangan jadikan seorang pemberi nikmat antara dirimu dengan Allah, sebab jika engkau mengukur nikmat selain dari Allah berarti engkau terpuruk.”

Sumber : Cahaya Sufi

Beda Harapan Beda Khayalan

Tinggalkan komentar

Harapan itu adalah suatu tindakan yang harus disertai amal. Jika tidak ada amaliyah, harapan berubah menjadi khayalan.

Banyak orang berharap mendapatkan anugerah Allah. Banyak pula yang berharap tetapi tidak disertai tindakan nyata dalam amliyah sehari-hari. Lalu harapan tinggal jadi khayalan, atau sekadar berharap-harap.
Tamanny atau khayalan semu hanyalah mimpi yang berlebihan dari keinginan hawa nafsu. Karena itu khayalan panjang ini sangat berbahaya bagi pertumbuhan kepribadian manusia. Apa pun alasannya, menyeret manusia pada ambisi dan mimpi, hanya akan membuat manusia menggerakkan hasratnya untuk melambung tinggi dan berakibat pada aktivitas yang emosional dan berbau ambisi nafsu. Termasuk dalam menjalankan dan mengharapkan kebajikan.

Sesuatu kebaikan pun jika disertai oleh dorongan ambisi nafsu, akan kehilangan berkahnya, manakala ia berhasil mencapainya. Dikawatirkan seseorang setelah berhasil malah jauh dari Allah Ta’ala. Tetapi perjuangan yang dijalankan dengan ketulusan dan keikhlasan, walau pun tidak berhasil, sesungguhnya merupakan nilai agung di Mata Allah.

Al-Hasan Ra menegaskan, “Wahai manusia takutlah kalian pada imajinasi khayalan ini, karena imajinasi itu adalah wadahnya syetan, dimana ia bersoleh di dalamnya. Maka demi Allah, tak seorang pun mendapatkan kebaikan dari Allah melalui khayalan imajinasi, baik dunia maupun akhirat.”
Al-Hasan juga menegaskan, “Banyak kaum yang mendapatkan inspirasi harapan ampunan dari Allah sampai ia mati, padahal ia tidak pernah berbuat kebajikan, sembari beralibi, “Aku berhusnudzon kepada Tuhanku…”. Ia dusta. Karena jika ia berhusnudzon kepada Allah pasti ia berbuat kebajikan.” Lalu beliau membacakan ayat: “Dan itulah sangkaanmu yang kau sangkakan pada Tuhanmu yang kau sangka membuatmu hancur, lalu kalian menjadi orang-orang yang merugi.” (Fushilat 23).

Ma’ruf al-Karkhy mengatakan, “Mencari syurga tanpa amal, adalah dosa. Dan berharap syafaat tanpa ragam dari aktivitas amaliyah adalah tipudaya. Mengharapkan rahmat Allah namun disertai maksiat adalah ketololan dan kebodohan.”

Sumber : cahaya sufi

Karomah bukan derajat luhur

1 Komentar

Tidak setiap orang yang memiliki keistemewaan itu sempurna kebersihan batin dan keikhlasannya.”

Saat ini publik ummat sering menilai derajat luhur seseorang dari kehebatan-kehebatan ilmu dan karomahnya.

Syeikh Abu Yazid al-Bisthamy pernah didatangi muridnya, yang melaporkan karomah dan kehebatan seseorang.

“Dia bisa menyelam di lautan dalam waktu cukup lama…”

“Saya lebih kagum pada paus di lautan…”

“Dia bisa terbang…!” kata muridnya.

“Saya lebih heran, burung kecil terbang seharian…karena kondisinya memang demikian,” jawabnya.

“Lhah, dia ini bisa sekejap ke Mekkah…”

“Saya lebih heran pada Iblis sekejap bisa mengelilingi dunia…Namun dilaknat oleh Allah.”

Suatu ketika orang yang diceritakan itu datang ke masjid, tiba-tiba ia meludah ke arah kiblat. “Bagaimana ia menjaga adab dengan Allah dalam hakikat, sedangkan adab syariatnya saja tidak dijaga..” kata beliau.

Banyak orang yang mendalami ilmu pengetahuan, mampu membaca dan mengenal dalil, kitab-kitab, bahkan memiliki keistemewaan, tetapi banyak pula diantara mereka tidak bersih hatinya, tidak ikhlas dalam ubudiyahnya. Begitu pula ketika karomah dan tanda-tanda yang hebat itu disodorkan pada Sahl bin Abdullah at-Tustary, ra, beliau balik bertanya,

“Apa itu tanda-tanda? Apa itu karomah? Itu semua akan sirna dengan waktunya. Bagiku orang yang diberi pertolongan Allah swt untuk merubah dari perilakunya yang tercela menjadi perilaku yang terpuji, lebih utama dibanding orang yang punya karomah seperti itu.”

Sebagian Sufi mengatakan,

“Yang mengagumkan bukannya orang yang memasukkan tangan ke kantong sakunya,  lalu menafkahkan apa saja dari kantong itu. Yang mengagumkan adalah orang yang memasukkan tangannya ke kantong sakunya karena merasa ada sesuatu yang disimpan di sana. Begitu ia masukkan tangannya ke sakunya, sesuatu itu tidak ada, namun dirinya tidak berubah (terkejut) sama sekali.” Jadi karomah itu sesungguhnya hanyalah cara Allah memberikan pelajaran kepada yang diberi karomah agar perjalanan ruhaninya tidak berhenti, sehingga semakin menajak, semakin naik, bukan untuk menunjukkan keistemewaanya. Yang istimewaan adalah Istiqomah.

Karena itu para Sufi menegaskan,

“Jangan mencari karomah, tetapi carilah Istiqomah.” Sebab istiqomah itu lebih hebat dibanding seribu karomah. Dan memang, hakikat karomah adalah Istiqomah itu sendiri.

Bahkan Imam Al-Junayd al-Baghdady
pernah mengingatkan, “betapa banyak para Wali yang terpleset derajatnya hanya karena karomah.

Syeikh Abdul Jalil Mustaqim
(Mursyid Thoriqoh Zadziliyyah) pernah mengatakan, bahwa : “ketika anda diludahi seseorang dan anda sama sekali tidak marah, itulah karomah, yang lebih hebat dibanding karomah yang lainnya”.

Ketika dalam sebuah perkumpulan Thariqat Sufi, tiba-tiba ada seseorang datang, dan langsung membicarakan kehebatan ilmu ini dan itu, karomah si ini dan si itu. Lalu seseorang diantara mereka menegur, “Mas, kalau di sini, ilmu-ilmu seperti yang anda sampaikan tadi hanya dinilai sampah. Jadi percuma sampean bicara sampah di sini…”

Ada seseorang disebut-sebut sebagai Wali: “Wah dia itu wali, bisa baca pikiran orang, dan kejadian-kejadian yang pernah kita lakukan walau pun sudah bertahun-tahun lamanya…” “Lhah, orang yang punya khadam Jin juga bisa diberi informasi oleh Jinnya tentang kejadian yang lalu maupun yang akan datang… Jadi hati-hati…” “Beliau itu keturunan seorang Ulama besar..” “Tidak ada jaminan nasab itu, nasibnya luhur di hadapan Allah…” Dan panjang sekali kajian soal karomah dan kewalian ini, yang butuh ratusan halaman. Tetapi kesimpulannya, seseorang jangan sampai mengagumi kehebatan lalu mengklaim bahwa kehebatan itu menunjukkan derajat di depan Allah. Tidak tentu sama sekali.

—(ooo)—

Sumber : Cahaya Sufi

Maksiat Lebih Baik Ketimbang Taat, Kalau…

1 Komentar

“Maksiat yang melahirkan sikap hina dina di hadapan Allah itu lebih baik ketimbang ketaatan keapada Allah yang melahirkan sikap merasa mulia dan sombong.”

Sebesar apa pun kemaksiatan dan dosa seseorang, jika memasuki pintu taubat, Allah tetap menyambutnya dengan Pintu Ampunan yang agung, bahkan dengan kegembiraanNya yang Maha dahsyat kepadamu. Karena sebesar langit dan bumi ini, jika anda penuhi dengan dosa-dosa anda, dikalikan lagi dengan lipatan jumlah penghuni planet ini, kelipatan dosa itu, sesungguhnya ampunan Allah masih lebih besar dan lebih agung lagi. Oleh sebab itu Ibnu Athaillah membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa agar tidak putus asa terhadap ampunan Allah, bahkan orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibanding orang yang ahli ibadah yang merasa hebat, merasa suci, merasa paling mulia dan merasa sombong dengan ibadahnya. Mengapa ? Karena ada dosa yang lebih tinggi lagi dibanding maksiat, yaitu dosanya orang takjub atau kagum pada diri sendiri.

Bahkan Rasulullah saw. Bersabda :

“Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu ‘ujub (kagum pada diri sendiri).”

Bahkan betapa banyak orang yang dulunya ahli maksiat lalu diangkat derajatnya menjadi manusia mulia di hadapan Allah Ta’ala. Begitu juga banyak ahli ibadah tetapi berakhir hina di hadapanNya gara-gara ia sombong dan merasa lebih dibanding yang lainnya. Orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar, apakah ia aktivis muslim, da’I, ustadz, kyai, ulama’, muballigh, ketika mereka menyerukan amar  ma’ruf nahi mungkar, lantas dirinya merasa lebih baik dari yang lain, adalah wujud kesombongan yang hina pada dirinya. Dibanding seorang preman yang bertobat, pelacur yang bertobat, maling yang bertobat dengan kerendahan jiwa di hadapan Allah, mereka yang merasa paling Islami itu justru menjadi paling hina, jika ia tidak segera bertobat.

Nabi Adam as, mendapatkan kemuliaan luar biasa sebagai Nabi, Rasul, Khalifah, Abul Basyar, justru ketika sudah turun di muka bumi, karena tindak dosanya di syurga. Namun Nabi Adam bertobat dalam remuk redam jiwanya dan hina dina hatinya di depan Allah, justru Allah mengangkat dan menyempurnakan ma’rifatnya ketika di dunia, bukan ketika di syurga dulu. Nabi Adam as, menjadi Insan Kamil ketika di dunia, bukan ketika di syurga. Oleh sebab itu terkadang  Allah mentakdirkan maksiat pada seorang hamba dalam rangka agar si hamba lebih luhur dan dekat kepada Allah. Wacana ini dilontarkan agar manusia tidak putus asa atas masa lalu dan nodanya di masa lampau, siapa tahu, malah membuat dirinya naik derajat.

Wacana ini pula tidak bisa dipandang dengan mata hati, nafsu dan hasrat hawa. Misalnya, “Kalau begitu maksiat saja, siapa tahu, kita malah naik derajat…” Kalimat ini adalah kalimat yang muncul dari hawa nafsu! Wacana mengenai naiknya derajat paska maksiat, hanya untuk orang yang sudah terlanjur maksiat, agar tidak putus asa dan tetap menjaga rasa baik sangka kepada Allah Ta’ala (husnudzon).

Apalagi di akhir zaman ini, jika disurvey, membuktikan bahwa orang yang kembali kepada Allah dengan taubatnya, biasanya didahului oleh kehidupan yang hancur-hancuran, maksiat yang bernoda. Akhir zaman ini juga banyak dibuktikan, khususnya di wilayah kota, betapa banyak orang yang merasa bangga diri dengan ahli ibadahnya, ketekunan dan taatnya, diam-diam ia ujub dan sombong, merasa lebih dibanding lainnya. Sifat hina dina adalah wujud kehambaan kita. Manusia akan sulit mengakui kehambaannya manakala ia merasa mulia, merasa sombong, ujub, apalagi merasa hebat dibanding yang lainnya. Karena itu rasa hina dina, apakah karena diakibatkan oleh kemaksiatan atau seseorang mampu menjaga rasa hina dina di hadapan Allah, adalah kunci terbukanya Pintu-pintu Allah Ta’ala, karena kesadaran seperti itu, membuat seseorang lebih mudah fana’ di hadapanNya.

—(ooo)—

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

Sumber : Cahaya Sufi

Older Entries Newer Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.